KUMPULAN MAKALAH

Sunday, February 11, 2018

MAKALAH PERLAWANAN RAKYAT SINGAPARNA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Guna merangsang kepercayaan rakyat Indonesia, Jepang membentuk Gerakan Tiga A (Nippon Cahaya Asia, Pelindung Asia, Pemimpin Asia). Jepang berjanji, jika Perang Pasifik dimenangkan, bangsa-bangsa di Asia akan mendapat kemerdekaannya. Selain itu, Jepang berjanji akan menciptakan kemakmuran bersama di antara bangsa-bangsa Asia. Namun, dalam kenyataannya perlakuan Jepang yang kejam menimbulkan perlawanan tokoh-tokoh nasionalis dan rakyat Indonesia terhadap Jepang. Bentuk perlawanan terhadap Jepang ini dilakukan dengan cara kooperatif, gerakan bawah tanah, dan angkat senjata.
Oleh karena itu kita haruslah sangat bersyukur karena bisa menikmati hidup di Indonesia hingga saat ini tanpa harus ikut berjuang melawan penjajah. Sehingga kita tetap harus menghargai akan perjuangan para pahlawan kita dengan bisa menjadi penerus bangsa yang bisa menjunjung tinggi nama Indonesia. Mengingat pentingnya akan bahasa sejarah, kita sebagai warga negara Indonesia dituntut untuk lebih memahami mengenai sejarah Indonesia dengan baik dan benar. Yang salah satunya adalah belajar dengan sebaik mungkin.
Untuk itulah materi ini sangat penting dipelajari, karena sangat disayangkan jika sebagai warga negara Indonesia tetapi tidak memahani mengenai negaranya sendiri.



















BAB II
PEMBAHASAN

A. Perlawanan Rakyat Singaparna

K.H.Z Mustofa
KH Zainal Mustafa lahir di Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya pada tahun 1899 dari pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah. Pada 1927 KH Zainal Mustafa mendirikan pesantren yang merupakan cita-citanya. Pesantren yang ia dirikan dinamai Persantren Sukamanah.

Zainal Mustafa merupakan kiai muda yang berjiwa revolusioner. Ia menganut paham pendidikan yang sifatnya "Non Cooperation", tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Secara terang-terangan ia mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Melalui khutbah-khutbahnya ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda. Akibatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustafa bersama Kiai Rukhiyat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap pemerintah dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Pemerintah Jepang yang menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia Maret 1942 membebaskan Zainal Mustafa dengan harapan ia dapat membantu Jepang. Namun ia malah memperingatkan para pengikut dan santrinya bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda. Ia juga menolak melakukan seikerei, yaitu memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan membungkukkan diri 90 derajat kearah matahari terbit. Perbuatan tersebut dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.Dalam setiap dakwahnya KH Zainal Mustafa selalu menekankan pentingnya berjuang melawan penjajah kafir Jepang yang lebih kejam dari Belanda dengan mendengungkan perang jihad. Secara diam-diam santri Sukamanah telah merencanakan untuk melakukan tindakan sabotase terhadap pemerintah Jepang.

Peristiwa ini merupakan awal dari peristiwa bersejarah yaitu perlawanan terbuka santri Pesantren Sukamanah yang mengakibatkan gugurnya puluhan santri Sukamanah. Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Selain itu sekitar 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. KH. Zainal Mustafa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zainal Mustafa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zainal Mustafa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.
B. Faktor Pendorong Pemberontakan Singaparna
Peristiwa pemberontakan Singaparna mempunyai dasar keagamaan dan kebangsaan yang kuat. Cita-cita negara islam dijunjung tinggi di dalam hati setiap rakyat sesuai dengan ajaran agama yang diajarkan. Demikian pula semangat kemerdekaan sangat tebal dalam masyarakat Singaparna, yang terkenal kebenciannya terhadap penjajahan. Pada masa kolonial Belanda pun daerah ini mendapat pengawasan yang keras. Rakyat teguh beragama, tetapi teguh pula memegang kebangsaannya.

Di atas dasar-dasar inilah tumbuh alasan-alasan untuk memberontak terhadap totiliter Jepang. Adanya “Seikrei” yaitu mebungkuk (menghormat) kearah Tokyo. Hal inilah yang sangat dibenci oleh santri-santri karena berarti mereka disuruh untuk menyembah matahari. Cara menyembah ini melukai hati umat yang beragama islam, seolah-olah merubah arah qiblat dari Tanah Suci ke Jepang. Cita-cita “Dairul Islam”, yang telah meluas dan mendalam di kalangan rakyat, tidaklah mungkin mengalah kepada gerakan “seikrei” ini yang dilakukan oleh pemerintah Jepang pada tiap upacara.

Api perlawanan suci yang telah menyala sedemikian dalam hati penganut islam di daerah ini, ditumpahi pula oleh kekejaman romusha dan pengumpulan padi dan beras soal romusha sangat diderita oleh rakyat sebagai pekerja paksaan di bawah ancaman bayonet, yang amat mengganggu dalam kekeluargaan dan kedesaan. Demikian pula soal pengumpulan padi, Jepang sama sekali tidak memerhatikan kesengsaraan hidup rakyat desa. Akibat perintah keras dari militer Jepang terjadilah pemungutan dari syucokan melalui kenco (bupati), gunco bahan makanan kini menderita kekurangan. Para petani tidak dapat lagi merasakan hasil keringatnya, karena hampir seluruh hasilnya diangkut oleh pemerintah Jepang.

Adapun  hal  yang  menjadi  latar  belakang  terjadinya  pemberontakan  Singaparna  diantaranya, yaitu :
1.      Adanya “Seikrei” yaitu mengheningkan cipta membungkuk (menghormat) kearah Tokyo. Hal inilah yang sangat dibenci oleh rakyat karena mereka harus menyembah matahari.
2.      Adanya kewajiban menyerahkan beras kepada Jepang pada setiap panen sebanyak 2 kwintal. Hal ini dirasakan oleh petani desa Cimerah dan daerah sekitar Singaparna sangat berat.
3.      Terjadinya penipuan terhadap wanita-wanita dan gadis-gadis yang dijanjikan akan disekolahkan di Tokyo, sehingga banyak yang mendaftarkan diri. Tapi sebenarnya wanita-wanita tersebut dikirim ke daerah pertempuran seperti Birma dan Malaya untuk menghibur tentara-tentara Jepang.


C. Pemberontakan Pertama
Pada tahun 1943 K.H.Z. Mustofa bersama para pengikutnya mulai menyusun rencana untuk mengadakan perlawanan. Tapi Jepang yang tidak pernah lepas perhatiannya terhadap mereka sudah dapat mengetahui rencana tersebut. Rencana tersebut akan dimulai kira-kira tanggal 25 Februari 1944, untuk melaksanakannya mereka mempersiapkan diri dengan sangat sederhana, mereka akan hanya bermodalkan bambu runcing dan golok-golok dari bambu. Tetapi itu tidak membuat mereka menyerah karena para santri-santri di pesantren Sukamarnah pun mulai berlatih untuk bela diri. Pemerintah Jepang mengetahui kegiatan tersebut dari mata-matanya dan ingin melakukan penyerangan, maka santri-santri di pesantren Sukamarnah bersiap-siap jika Jepang menyerang secara tiba-tiba.

Pemimpin dari kelompok Sukamarnah adalah ; Domon, Abdulhakim, Najamudin, dan Ajengan Subki, sedangkan kepala dari pesantren tersebut adalah K.H.Z Mustafa dan di bantu dengan wakilnya Najamuddin. Pada tanggal 24 Februari satu hari sebelum terjadinya peristiwa Jepang mengirim satu utusannya goto-sidokan dari kepolisian Tasikmalaya dengan beberapa Keiboho Indonesia untuk melakukan perundingan dengan K.H.Z Mustofa. Goto-Sidokam disuruh kembali ke Tasikmalaya untuk menyampaikan pesan ultimatum dari K.H.Z Mustofa kepada Jepang yang berisi bahwa pada tanggal 1 Maulid Jepang harus memerdekakan pulau Jawa atau akan ada terjadi pertempuran.

Keesokan harinya rombongan jepang datang ke Sukamarnah untuk menemui K.H.Z Mustofa untuk mengadakan perundingan, mereka adalah Kompeitaico Tasikmalaya, Kompeitaico Garut. Tetapi karena sikap mereka yang dirasa Ajengan Najmuddin dan kawan-kawan tidak baik dengan terpaksa mereka para Santri Sukamarnah melakukan kekerasan jug walau kepada bangsanya. Karena sudah terkepung oleh para santri Jepang menyerahkan semua senjatanya dan ditahan sehari semalam, setelah satu hari berlalu baru lah petugas-petugas santri mengizinkan Jepang pulang.

D. Pemberontakan Kedua
25 Februari 1944 pada hari jum’at khotbah terakhir dari K.H.Z telah disampaikan dan saat itu juga terdengar suara kendaraan menghampiri pesantren. Salah satu dari keempat opsir jepang melambaikan tangan ke Mustofa dengan maksud memanggil Mustofa, Opsir-opsir jepang itu datang dengan maksud menyampaikan bahwa Sukamanah tidak mau bekerja sama dengan Jepang dan tidak mau menurut perintah negara untuk menghadap ke Tasikmalaya. Mustofa menjawab dengan singkat bahwa dia akan datang besok untuk mengembalikan senjata api dengan ganti, kepala tuan dari empat opsir itu tinggal di Sukamanah. Karena santri sukamanah emosi mendengarnya mereka mulai menyerang 4 opsir jepang itu, 3 opsir mati dan satunya lagi melarikan diri.

Setelah kejadian itu keadaan mulai tenang dan K.H.Z Mustofa mulai menyiapkan siasa-siasat bahwa jepang pasti akan melakukan perlawanan. Pasukan Sukamanah berkekuatan 2000 orang itu diletakkan di kampung Cihaur yang dipimpin oleh Najjamuddin. K.H.Z berpesan agar tidak ada perang dengan bangsa sendiri, ketika pukul lebih kurang 16:00 santri melihat truk yang mendekati garis pertahanan Sukamanah, lalu santri paling depan melaporkan kepada K.H.Z Mustofa bahwa mereka adalah bangsa kita, Jepang menggunaka taktik adu domba antara bangsa sendiri.

Tetap saja K.H.Z Mustofa mengatakan untuk menghindari perlawan dengan bangsa sendiri, tetapi Jepang sudah meluncurkan senjatanya ke santri Sukamanah dan menghujam sebagian dari mereka dan pada saat itulah perang antar bangsa tidak dapat dihindari. Kira-kira pukul 17:30 semua tempat pertahanan Sukamanah sudah hancur dan banyak santri yang tewas. Sedangkan K.H.Z Mustofa ditawan dan dibawa ke Kompeitai Tasikamalaya.

Akhir Pemberontakan
Setelah pertempuran selesai K.H.Z Mustofa menyuruh santri-santrinya untuk mundur dan menyelamatkan diri, sedangkan Jepang menghancurkan pesantren tersebut. Pada tanggal 26 Februari 1944 penjara Tasikmalaya sudah dipenuhi ole 700-800 tahanan. Pada tanggal 27 Februari 1944 datang instruksi rahasia dari K.H.Z Mustofa ke penjara tersebut untuk menyampaikan pesan kepada santri-santrinya. Pada tanggal 29 Februari 1944 diadakan pemeriksaan sampai 3 bulan kedepan, dan pada pertengahan  Mei 1944 hasilnya keluar ;
1.      Golongan yang tidak bersalah (dikembalikan ke kampung masing-masing)
2.      Golongan yang mempunyai sangkut paut dengan pemberontakan tetapi tidak aktif ( dikenai hukuman 5-7 tahun, orang yang ada di golongan ini ada 79 orang)
3.      Pimpinan pemberontakan dan mereka yang dituduh aktif dalam pembunuhan opsir-opsir jepang dan ikut aktif dalam  pertempuran melawan pasukan bersenjata Dai Nippon. ( ada 23 orang termasuk K.H.Z Mustofa)

Para santri yang gugur dalam pertempuran berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Hilang tak tentu rimbanya (kemungkinan besar dibunuh tentara Jepang), termasuk K.H. Zaenal Mustofa, sebanyak 23 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang. Para santri ini tidak memiliki apa-apa untuk memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, kecuali darah, kerja keras, air mata, dan keringat.

Perlu dijelaskan pula bahwa sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Yang sangat penting adalah instruksi rahasia dari K.H. Zaenal Mustofa kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan, yaitu agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Sukamanah dipikul sepenuhnya oleh K.H. Zaenal Mustofa.

Akibatnya memang berat. Sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk K.H. Zaenal Mustofa, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya. Kemungkinan besar mereka dibunuh. Korban lainnya, seperti telah disebutkan di atas dan sekitar 600-an orang dilepas, karena dianggap tidak terlibat.Sebagai tanda untuk menghormati K.H.Z  Mustofa dibuat, sekarang di Sukamanah telah didirikan SD dan PGAN dengan memakai nama K.H.Z Mustofa.






















BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Sebelum Jepang menjajah ada negara Belanda yang menjajah. Namun penjajahan oleh negara Jepang terasa lebih kejam karena Jepang bisa mencuri perhatian dan kepercayaan rakyat Indonesia. Padahal penjajahan oleh negara Jepang menimbulkan banyak kerugian bagi bangsa Indonesia dibandingkan keuntungannya. Namun pada akhirnya bangsa Indonesia dapat memproklamasikan kemerdekaannya.

B.   Saran
Setelah kita mempelajari mengenai pentingnya sejarah, kita harus bisa tetap memperjuangkan negara kita dan juga dengan tetap menghargai para pejuang bangsa. Sehingga sebagai siswa kita harus belajar dengan sebaik-baiknya agar penerus bangsa kita bisa lebih memajukan negara ini. Dan sebagai penyusun kami merasa masih ada kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran dari pembaca.




Semoga Bermanfaat :)


Sunday, December 10, 2017

MAKALAH Perilaku Konsumen


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Dalam mengenal konsumen kita perlu mempelajari perilaku konsumen sebagai perwujudan dari seluruh aktivitas jiwa manusia itu sendiri. Suatu metode didefinisikan sebagai suatu wakil realitas yang disederhanakan, model perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai suatu skema atau kerangka kerja yang disederhanakan untuk menggambarkan suatu aktivitas - aktivitas konsumen. Model perilaku konsumen dapat pula diartikan sebagai kerangka kerja atau suatu yang mewakili apa yang diyakinkan konsumen dalam mengambil keputusan membeli.Adapun yang mempengaruhi factor-faktor perilaku konsumen Kekuatan social budaya terdiri dari factor budaya, tingkat social, kelompok anutan (small referebce grups) dan keluarga. Sedangkan kekuatan psikologi terdiri dari pengalaman belajar,kepribadian, sikap dan keyakinan. Sedangkan tujuan dan fungsi model perilaku konsumen sangat bermanfaat dan mempermudah dalam mempelajari apa yang telah diketahui mengenai perilaku konsumen.

1.2.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan masalah yang ada dikemukan perumusan masalah sebagai berikut :
1.                  Apakah perilaku konsumen itu dalam ilmu ekonomi mikro?
2.                  Factor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku kosumen?
3.                  Metode apa saja yang digunakan dalam penelitian perilaku konsumen?
4.                  Apa teori dari perilaku konsumen ?

1.3.   Tujuan Perilaku Konsumen
Yang ingin dicapai sebagai berikut :
a.                     Untuk mengetahui apakah perilaku konsumen itu dalam ekonomi mikro
b.                    Untuk mengetahui factor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku konsumen
c.                     Untuk mengetahui metode apa saja yang digunakan dalam penelitian perilaku konsumen
d.                    Untuk mengetahui teori dari perilaku konsumen.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1.   Prilaku Konsumen
Sebelum kita dapat mengetahui pola perilaku konsumen, kita harus mengetahui terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan konsumsi?. Kata konsumsi sudah tidak asing lagi bagi Anda. Bukankah saat  acara peringatan hari besar disekolah maupun dilingkungan masyarakat selalu dibentuk panitia konsumsi?. Jadi menurut anda, apakah benar jika konsumsi diartikan sebagai proses makan dan minum?
2.1.1.      Pengertian Konsumsi
          Kata  konsumsi berasal dari kata consumptio yang berarti menggerogoti hingga habis atau menghabiskan. Dengan begitu makan dan minum dapat dikategorikan sebagai kegiatan konsumsi. Namun kegiatan konsumsi bukanlah hanya mencakup makan dan minum saja, tetapi juga berkenaan dengan kebutuhan pakaian, tempat tinggal, transportasi dan masih banyak lagi karena kebutuhan manusia cenderung bertambah dan beragam.
Jadi, setiap tindakan manusia dalam memanfaatkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya termasuk dalam kegiatan konsumsi. Namun demikian, kita harus berhati-hati dalam menentukan apakah suatu kegiatan dalam menggunakan suatu benda tersebut termasuk kedalam lingkup konsumsi atau tidak.
Untuk melihat apakah pemakaian suatu benda termasuk kedalam lingkup konsumsi atau produksi, kita dapat melihatnya dari beberapa hal yang menjadi ciri-ciri benda konsumsi berikut.
          Benda-benda yang dikonsumsi adalah benda ekonomi atau benda yang untuk memperolehnya diperlukan pengorbanan. Seperti kegiatan menghirup udara, berjemur pada sinar matahari pagi dan mandi di sungai bukan kegiatan konsumsi karena benda itu didapat secara gratis.
Benda yang dikonsumsi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti penggunaan ge rgaji, cangkul, mesin-mesin, dan barang-barang modal lainnya yang bertujuan menambah faedah benda tidak dikategorikan ke dalam kegiatan konsumsi.
1.                  Manfaat nilai atau jumlah barang yang digunakan tersebut akan habis sekaligus atau berangsur-angsur.
a.        Barang yang nilai gunanya dihabiskan secara berangsur-angsur.
Contohnya Pakaian, sepatu dan televisi
b.        Barang yang nilai gunanya dihabiskan sekaligus.     
Contohnya Makanan, minuman dan obat-obatan.

2.                  Tujuan Kegiatan Konsumsi
Coba jelaskan, apa tujuan kamu makan, minum, berpakaian, menonton TV, atau piknik ke pantai? Jawabannya tentu adalah untuk memenuhi kebutuhan. Makan, minum, dan berpakaian adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik secara langsung.
Sedangkan menonton TV dan piknik adalah untuk memenuhi kebutuhan rohani. Kedua jenis kebutuhan tersebut dipenuhi secara langsung oleh benda konsumsi. Artinya, benda konsumsi tersebut secara langsung kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan konsumsi yang dilakukan manusia pada umumnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau untuk memperoleh kepuasan. Selain untuk tujuan konsumsi (menghabiskan kegunaanya), suatu benda juga  dipergunakan sebagai benda produksi. Sebagai contoh, Pak Amir memiliki mobil. Pada hari Senin sampai Jumat, mobil tersebut dipergunakan untuk oleh Pak Amir untuk mengangkut penumpang. Sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu, mobil tersebut khusus digunakan untuk keperluan keluarga, seperti berbelanja ke pasar, piknik,  atau jalan-jalan ke mal. Pada hari Sabtu dan Minggu mobil tersebut digunakan untuk kegiatan konsumsi. Namun penggunaan mobil tersebut dari hari Senin sampai dangan Jumat bukanlah untuk tujuan konsumsi, melainkan untuk tujuan menghasilkan uang dan berperan sebagai benda produksi.

3.                  Pola Perilaku Konsumen
Masing-masing konsumen merupakan pribadi yang unik. Konsumen yang satu dengan lainnya mempunyai kebutuhan yang berbeda dan perilaku yang berbeda dalam memenuhi kebutuhannya. Namun, dalam perbedaan-perbedaan yang unik itu ada suatu persamaan, yaitu setiap konsumen berusaha untuk memaksimalkan kepuasaannya dalam mengkonsumsi suatu barang.
Perilaku konsumen merupakan tindakan–tindakan yang terlibat secara langsung dalam memperoleh, mengkonsumsi, dan membuang suatu produk ataujasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan– tindakan tersebut.
Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi (Hanna & Wozniak, 2001).
Teori perilaku konsumen dapat menjelaskan bagaimana cara seorang konsumen memilih suatu produk yang diyakini akan memberikan kepuasan meksimum dengan dibatasi oleh pendapatan dan harga barang.
Untuk membahas perilaku dalam ilmu ekonomi kita mengenal teori perilaku konsumen, yang terakomodasi dalam pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.

4.                  Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal
Pendekatan kardinal juga disebut sebagai pendekatan marginal utility. Pendekatan Kardinal dalam analisis konsumen didasarkan pada asumsi bahwa tingkat kepuasan yang diperoleh konsumen dari konsumsi suatu barang dapat diukur/dikuantifikasi dengan satuan tertentu, seperti uang, jumlah atau buah.
Semakin besar jumlah barang yang dikonsumsi, semakin besar pula tingkat kepuasan konsumen.Konsumen yang rasional akan berusaha memaksimukan kepuasaannya dengan pendapatan yang dimilikinya.
Beberapa pakar ekonomi telah mengembangkan gagasan mengenai konsep nilai guna. Seperti dari hasil penelitian Herman Heinrich Gossen mengenai nilai guna total (Total Utility) dan nilai guna marjinal (Marjinal Utility) yang terkandung dalam Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II.

Ø Hukum Gossen I
Menurut penelitian Herman Heinrich Gossen, Pemenuhan kebutuhan Akan  suatu barang dilakukan secara terus menerus, kenikmatan dari mengkonsumsi barang tersebut mula-mula semakin  tinggi, namun setiap tambahan satu unit barang akan membuat tambahan  kenikmatan  menurun sampai akhirnya akan mencapai titik jenuh (mencapai titik nol).

Ø Hukum Gossen II
Mengingat sumber daya yang terbatas, pemenuhan kebutuhan primer akan lebih tinggi tingkat kepuasaannya daripada pemenuhan kebutuhan sekunder. Demikian pula pemenuhan kebutuhan sekunder lebih tinggi tingkat kepuasaan/kegunaannya daripada kebutuhan mewah atau kebutuhan tersier.

Ø Pendekatan Ordinal
Pendekatan ordinal mengasumsikan bahwa konsumen mampu meranking/membuat urutan-urutan kombinasi barang yang akan dikonsumsi berdasarkan kepuasan yang akan diperolehnya tanpa harus menyebutkan secara absolut. Pendekatan ordinal digunakan dengan menggunakan analisis kurva indiferensi. Kurva indiferensi adalah kurva yang menunjukkan berbagai titiktitik kombinasi dua barang yang memberikan kepuasan yang sama. Mengukur kepuasan konsumen dengan pendekatan kurva indiferensi didasarkan pada 4 (empat) asumsi, yakni :
·      Konsumen memiliki pola preferensi akan barang-barang konsumsi yang dinyatakan dalam bentuk peta indiferensi.
·      Konsumen memiliki dana dalam jumlah tertentu.
·      Konsumen selalu berusaha untuk mencapai kepuasan maksimum.
·      Semakin jauh dari titik origin, maka kepuasan konsumen semakin tinggi.

5.                  Karakteristik Kurva Indiferensi
Kurva indiferensi memiliki karakteristik atau ciri-ciri umum sebagai berikut:
·      Memiliki kemiringan yang negatif Bila jumlah suatu barang dikurangi maka jumlah barang yang lain harus ditambah agar dapat memperoleh tingkat kepuasan yang sama.
·      Tidak dapat berpotongan Perpotongan antara dua kurva indiferensi tidak mungkin terjadi.
·      Cembung terhadap titik nol
2.2.   Perilaku Produsen
Dahulu pada zaman purba , barang - barang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dapat diambil begitu saja dari alam tanpa mengeluarkan pengorbanan yang berarti. Hal ini dapat berlangsung karena barang yang tersedia jauh melebihi yang diperlukan penduduk pada zaman itu. Belum lagi kenyataan bahwa pada saat itu kebutuhan manusia masih sangat sederhana.
Namun, setelah mengalami perubahan – perubahan zaman yang memicu banyak terjadinya perubahan dalam berbagai bidang, manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa barang yang mereka butuhkan jauh melampaui sumber daya alam yang ada. Bahkan seringkali barang yang mereka butuhkan dari alam tidak dapat langsung mereka gunakan melainkan harus melalui proses produksi. Jadi, apakah  yang dimaksud dengan produksi?
2.2.1.    Pengertian Produksi
Produksi dapat kita lihat dimana saja. Produksi yang paling sederhana adalah seseorang membuka salon kecantikan di rumahnya. Ia sudah dapat mendapat penghasilan dari salonnya tersebut. Inilah yang dimaksud dengan produksi, seseatu yang berkaitan dengan penambahan nilai guna suatu objek. Nilai guna yang ditambahkan dalam contoh diatas adalah bagaimana sebuah rumah tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal namun dapat berfungsi juga untuk menghasilkan pendapatan bagi pemiliknya.

2.2.2.    Tujuan Produksi
Dari pengertian tersebut, jelas bahwa kegiatan produksi mempunyai tujuan yang meliputi:
·         Meningkatkan nilai guna barang atau jasa.
·         Meningkatkan kemakmuran masyarakat.
·         Memperoleh  keuntungan sebesar - besarnya.
·         Memperluas lapangan usaha.
·         Menjaga kesinambungan usaha perusahaan.
·         Memenuhi kebutuhan rumah tangga produksi maupun rumah konsumsi
o      Memenuhi kebutuhan sesuai perkembangan zaman dan kemajuan teknologi serta penduduk yang semakin meningkat.
o      Memacu tumbuhnya usaha produksi lain sehingga dapat menyerang pengangguran.
o      Meningkatkan pendapatan masyarakat atau pendapatan Negara.
o      Memproduksi barang-barang ekspor berarti meningkatkan sumber devisa Negara.
       
2.2.3.    Faktor – faktor Produksi
Kegiatan produksi tentunya memerlukan unsur -  unsur yang dapat digunakan dalam proses produksi. Unsur – unsur ini meliputi Sumber Daya Alam, tenaga manusia, modal, dan kewirausahaan. Semua unsur – unsur tersebut dinamakan faktor produksi. Jadi, Faktor produksi adalah semua unsur yang menopang usaha penciptaan nilai atau usaha memperbesar barang dan jasa.

2.2.4.    Faktor Produksi Sumber Daya Alam ( Natural resources)
Sumber Daya Alam adalah segala sesuatu yang di sediakan oleh alam dan dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sumber Data Alam disini meliputi segala sesuatu yang ada dalam Bumi, seperti:
o   Tanah             
o   Tumbuhan
o   Hewan
o   Air
o   Dsb

2.2.5.    Faktor Produksi Tenaga Kerja ( Labour )
Tenaga kerja yang dimaksudkan disini adalah semua tenaga manusia termasuk kemampuan fisik, mental, keterampilan dan keahlian yang dapat disumbangkan untuk memngkinkan dilakukannnya proses produksi barang atau jasa. Tenaga kerja menurut kemampuannya di bedakan menjadi:
o   Tenaga kerja terdidik (Skilled Labour)
Adalah tenaga kerja yang memperoleh pendidikan baik formal maupun non formal. Contohnya akuntan, guru, dokter, peneliti,dan pengacara.
o   Tenaga kerja terlatih (Trained labour)
Adalah tenag kerja yang memperoleh keahliandari pengalaman dan keahlian. Contohnya sopir, teknisi, montir,dan tukang kayu.
o   Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih (unskilled and untrained labour)
Adalah tenaga kerja yang mengandalkan kekutan jasmani  daripada pendidikan dan pelatihan terlebih dahulu. Contohnya tukang sapu, pemulung, buruh tani, buruh kasar dan pesuruh.

2.2.6.    Faktor Produksi Modal (Capital)
Dalam hal ini modal bukan hanya berupa uang, namun modal yang dimaksudkan disini adalah barang – barang modal maupun uang yang digunakan untuk memproduksi barang lebih lanjut.
Sebagai contoh, nelayan tidak dapat mengambil ikan dengan uang namun uang dapat digunakan untuk membeli jala yang dapat digunakan untuk mngambil ikan. Jadi, terbukti bahwa selain modal dalam bentuk uang, kita juga membutuhkan apa yang dinamakan barang – barang modal.


2.2.7.    Faktor Produksi Kewirausahaan (Enterpreneurship)
Faktor ini mengambil peranan penting dalam proses produksi. Hal ini disebabkan karena walaupun factor tanah sudah tersedia, modal sudah dimiliki, tenaga kerja lengkap dan siap melaksanakan tugas masing – masing, tetapi jika tidak dipimpin dan di organisasi oleh seorang yang ahli dan berpengalaman maka apa yang direncanakan tidak akan tercapai. Maka dari itu, seorang pengusaha harus memiliki keahlian untuk menunjang bakat dan kemampuannya.
Pengusaha sebagai pemicu proses produksi harus memliki kemampuan untuk mengatur dan mengkombinasikan faktor  - faktor produksi dalam rangka meningkatkan kegunaan barang atau jasa secara efektif dan efisien.
Sebagai contoh, ada dua Negara yang memiliki tiga factor produksi yang sama (SDA, tenaga kerja, dan modal), tetapi hanya salah satu diantaranya berproduksi lebih baik karena ia memiliki kapasitas entrepreneurship yang lebih baik daripada Negara yang lain.

2.2.8. Pola Perilaku Produsen
2.2.8.1. Produksi jangka pendek
Produksi jangka pendek berarti terdapat satu faktor produksi yang bersifat tetap sedangkan faktor produksi lainnya bersifat variabel (berubah - ubah). Dalam hal ini jangka pendek dan jangka panjang tidak terkait dengan lamanya waktu yang digunakan dalam proses produksi suatu barang, tetapi lebih kepada sifat factor produksi yang digunakan.
1.    Fungsi Produksi
Adalah hubungan teknis antara factor produksi dengan barang produksi yang dihasilkan dalam proses produksi. Produk sebagai output  dari proses produksi sangat tergantung pada faktor produksi sebagai input dalam proses produksi tersebut. Hubungan antara faktor produksi dengan produk dapat digambarkan sebagai berikut :
o   Input:
a.                   SDA
b.                   SDM
c.                   Modal
d.                   Pengusaha

o   Output :
a.         Barang dan Jasa



Apabila salah satu factor produksi sebagai input mengalami perubahan, maka output akan berubah sesuai dengan besar kecilnya pengaruh factor produksi yang bersangkutan terhadap outputnya.

2.    Hukum Tambahan Hasil yang Menurun (The Law of Diminishing Return)
Hukum ini menggambarkan apabila factor produksi yang dapat diubah jumlahnya misalnya tenaga kerja terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya. Akan tetapi sesudah mencapai tingkat tertentu, produksi tambahan akan makin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negatif. Ini menyebabkan pertambahan produksi total semakin lambat dan akhirnya mencapai tingkat yang maksimum kemudian menurun.
Dalam produksi jangka pendek, salah satu factor produksi bersifat tetap, sedangkan fakor produksi lainnya variable. Dalam hal ini akan  dijumpai kenaikan produksi total yang akan berkurang seiring dengan pertambahan faktor produksi variable ditambah secara terus menerus.
Faktor Produksi Tetap  (Tanah )
Faktor ProduksiVariabel
(Tenaga Kerja)
Produksi
Total Padi
Tambahan Hasil ( Produksi Marginal )
1
0
0
-
1
1
8
8
1
2
18
10
1
3
30
12
1
4
45
15
1
5
55
10
1
6
63
8
1
7
70
7
1
8
70
0
1
9
60
- 10
1
10
50
- 10

Berdasarkan Tabel 1 diatas, dapat disimpulkan bahwa pertambahan produksi total ini semakin sedikit seiring terus terjadinya pertambahan tenagan kerja. Namun, jumlah pertambahan produksi total (produksi marginal) ini semakin sedikit. Pada saat ada satu tenaga kerja, produksi total yang dihasilkan adalah delapan. Jika tenaga kerja ditambah menjadi dua orang, produksi total meningkat menjadi 18, berarti produksi marginal sebanyak 10.
Tambahan produksi ini biasa disebut produksi marginal tenaga kerja, yaitu tambhan produksi akibat bertambahnya satu satuan tenaga kerja.  Dari tabel tersebut juga diketahui bahwa sifat dari produksi marginal adalah pada awalnya meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi total dan mencapai puncaknya saat produksi total mencapai titik maksimum. Setelah mencapai puncaknya, produksi marginal akan terus menurun bahkan bisa mencapai angka negatif

2.2.8.2.  Produksi Jangka Panjang
Produksi dalam jangka panjang bukan berarti proses produksi yang dilakukan membutuhkan waktu yang panjang. Jangka panjang yang dimaksudkan dalam artian ini adalah semua variable yang digunakan dalam produksi berubah – ubah.
1.    Perilaku Produsen yang Mengutamakan Kepentingan Masyarakat
Kemajuan dan kesuksesan suatu bisnis tergantung pada etos kerja dan etika para pelaku bisnis. Selain emngejar keuntungan, pelaku bisnis juag perlu menanamkan kepercayaan kepada pelanggan. Perhatikan contoh kasus berikut :
Sebuah butik membuat baju yang dipesan pelanggannya. Agar tidak mengecewakan pelanggannya, ia membeli bahan berkualitas di pasar tradisional Tanah Abang. Untuk mengerjakannya, diserahkan pada dua orang pegawainya yang sudah profesional. Setelah jadi baju itu dijualnya dengan harga yang pantas.
















BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan.  seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan. Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama.
Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
1.         Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
2.         Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk
3.         Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu pembelian.



Semoga Bermanfaat :)