KUMPULAN MAKALAH : Iman dan Taqwa Sangat Penting Bagi Seorang Muslim

Friday, October 23, 2020

Iman dan Taqwa Sangat Penting Bagi Seorang Muslim

 

Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu sia-sia. Ada saja Muslim yang hanya mengaku beriman, tapi lalai menger jakan amal saleh. Padahal, jika memang benar-benar beriman, seharusnya melaksanakan ibadah dan amal kebaikan lainnya secara berkelanjutan.

Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, yang tidak akan memberatkan. Namun, bukan berarti penganutnya dapat menggampangkan urusan agama dengan alasan yang dibuat-buat sendiri.

Dalam buku berjudul Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka menegaskan bahwa pertanda kosongnya jiwa serta binasa nya hati. Yaitu, ketika seorang Muslim sekadar mengaku beriman, tapi enggan mengerjakan amal saleh secara berkelanjutan.

Hal itu sesuai dengan kondisi sekarang. Keimanan hanya dijadikan ‘topeng’ untuk meraih keuntungan tertentu, seperti halnya dalam politik. Namun, untuk mengerjakan amal saleh mereka lalai.

Padahal, iman dan amal saleh merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena, apabila salah satunya hilang, kesungguhan menjalankan Islam menjadi tidak sempurna. Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma.

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR ath-Thabrani). Dalam karyanya ini, Buya Hamka menjelaskan tentang bagaimana seharusnya menempatkan porsi iman dan amal saleh secara tepat sesuai tuntunan syariat.

 

Bukti kita percaya kepada-Nya tentu kita ikuti perintah-Nya.

Kita mengikuti perintah-Nya adalah karena kita percaya, kata Buya Hamka. Pada zaman modern ini, sebagian masyarakat mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa shalat tidak harus berupa ritual ibadah. Perempuan tidak harus menutup aurat, yang penting adalah menjaga hati, dan lain sebagainya. Anggapan semacam itu sangat bertolak belakang dengan ajaran agama Islam.

 

 

Rasulullah sangat tekun melaksanakan ibadah dan amal saleh.

Saat mengerjakan shalat, kaki Rasulullah bahkan sampai bengkak. Uangnya pun tak pernah tersimpan lama di rumahnya karena langsung disedekahkan. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk teristimewa.

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi sehingga malaikat dan iblis pun disuruh sujud padanya. Sementara, manusianya sendiri justru banyak yang mengabaikan perintah-Nya.

Melihat fenomena semacam itu, Buya Hamka pun tergugah un tuk menyusun tulisan-tulisannya berke naan dengan keimanan yang lekat dengan amal saleh. Jika me ngaku Islam, menurut Hamka, umat sudah selayaknya menger jakan ibadah dan amal saleh lainnya.

Namun, sebaliknya amal saleh tanpa iman juga tidak dibenarkan dalam agama. Banyak orang yang kelihatan berbuat baik, padahal ia tak beriman. Ia banyak beramal, tapi hal yang dilakukannya tidak berlandaskan iman.

Padahal, Allah telah menegaskan dalam Alquran bahwasanya amal seseorang menjadi sia-sia jika mempersekutukan Allah dengan yang lain (Surah al-An’am ayat 88). Karena itu, umat mem butuhkan iman agar amal saleh nya diterima oleh Allah.

Menurut Buya Hamka, iman yang baik akan menimbulkan amal yang baik. Sedangkan, amal yang baik ti dak akan ada kalau imannya ti dak ada. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuat an tanpa iman. (HR ath- Thab rani).

Hamka juga mengatakan, suatu amal yang timbul bukan dari iman pada hakikatnya adalah menipu diri sendiri. Mengerjakan kebaikan tidak dari hati adalah dusta. Jika manusia menegakkan kebaikan tidak dari iman, akan telantar di tengah jalan. Lantaran tidak ada semangat suci yang men dorongnya.

Jika seseorang telah mengakui percaya kepada Allah dan rasul- Nya, niscaya kepercayaan itu akan mendorongnya berbuat baik. Tujuannya tentu untuk menggapai ridha Allah. Hubungan antara iman dan amal adalah antara budi dan perangai.

Suatu budi yang tinggi hendaklah dilatih terus agar menjadi perangai dan kebiasaan. Islam dan iman yang sebe narnya adalah pertalian di antara iman dan amal saleh. Menurut Buya Hamka, tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang hanya menyebut perkara iman.

 

Pasti diikuti dengan menyebut amal saleh. Sumber konten Buku ini disusun dari karyakarya Buya Hamka yang pernah diterbitkan dalam majalah ataupun dari karangannya yang pernah disampaikan dalam seminar.

Tidak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa nasihat Buya Hamka yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional sekitar tahun 1975. Buku ini juga mencantumkan ayat Al Qur’an ataupun hadist untuk memperkuat tema pembahasan.

Hal ini menunjukkan bahwa Buya Hamka dalam menyampaikan pandangannya selalu berlandaskan kitab suci dan sabda nabi. Pandangan Buya Hamka dalam buku penuh dengan makna yang dapat menggugah kesadaran nurani umat Islam. Walaupun, penyampaian bahasa dalam buku harus sedikit diulang-ulang untuk memahaminya.

Bagi umat yang masih menganggap bahwa beribadah kepada- Nya tidaklah penting, Buya Hamka menyarankan agar berkumpul dengan sahabat yang bisa mengantarkan pada jalan yang diridhai-Nya. Teladanilah sunah Rasulullah SAW.

Lawanlah segala bentuk pertentangan hati dari hal buruk yang hanya membawa pada kesesatan dunia dan akhirat. Selain itu, tekanlah nafsu dalam mengejar nikmat dunia yang fana. Jangan hanya mendamba surga tanpa bersusah payah menggapai ridha-Nya. Ingatlah selalu bahwa perintah maupun larangan-Nya adalah kebaikan bagi umat Islam itu sendiri.

Suatu waktu orang-orang badui Bani Asad menemui Nabi SAW kemudian menyatakan diri bahwa mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika itu pula turunlah wahyu, “Orang-orang badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami telah ber-Islam,’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.” (QS al-Hujurat [49]: 14).

Ibn Katsir menjelaskan, berdasarkan ayat tersebut, iman itu lebih khusus daripada Islam. Dengan demikian, patut setiap jiwa memeriksa ke dalam, apakah dirinya telah benar-benar beriman atau masih sebatas ber- Islam?

Ibn Hajar berpendapat bahwa secara bahasa, iman berarti tashdiq. Sedangkan secara syar’i, iman adalah membenarkan semua yang dibawa oleh Rasul dari Rabbnya. Iman meliputi perkataan, perbuatan, bisa bertambah, dan bisa berkurang. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan.

 

Hal itu menunjukkan bahwa menanamkan keimanan dalam diri kemudian senantiasa meningkatkannya benar-benar perkara paling inti dari kehidupan seorang Muslim, sebab keimanan senantiasa menuntut pembuktian. Alquran pun menjelaskan bahwa orang yang benar-benar beriman adalah yang hatinya mencintai Allah, Rasul, dan jihad lebih utama dari apa pun yang ada di dunia ini.

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah [9]: 24).

Artinya, iman adalah bukti cinta kepada Allah dan Rasul serta jihad di jalan-Nya. Barang siapa merasa dirinya telah beriman dengan hanya ibadah ritual tetapi tidak benar-benar peduli dengan keadaan tetangga, keadaan sesama Muslim, dan karena itu enggan untuk bersedekah apalagi berjihad di jalan-Nya, bahkan orientasi hidupnya sesungguhnya tidak mencari ridha- Nya, maka keimanan itu belum benar-benar tertanam dengan kokoh di dalam hatinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya, dan Muhammad sebagai rasulnya.” (HR Muslim).

Hal itu menunjukkan bahwa seorang Muslim yang telah beriman benar-benar memiliki daya tahan tangguh dalam menghadapi rintangan dan tantangan menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya sehingga pantang baginya su rut ke belakang dalam hal mempertahankan keimanan.

Hidupnya diorientasikan untuk mendapatkan ridha- Nya daripada kesenangan dunia dalam segala rupa dan bentuknya. Seperti yang diteladankan oleh Nabi Yusuf kala mesti memilih tetap menjaga iman atau lepas dari ke sengsaraan. Namun, dengan tegas putra Nabi Ya’kub Alaihissalam itu mengatakan, “Ya Rabb! Penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku.” (QS Yusuf : 33).

Dengan demikian, mari terus berupaya mening kat kan iman, terlebih di dalam Alquran Allah sering me manggil orang-orang beriman. Tinggal kita tengok hati sendiri, adakah diri merasa terpanggil atau tidak sama sekali.

 

 

 

Ketentraman, sesuatu yang sangat diinginkan oleh setiap insan. Tanpanya hidup akan terasa tersiksa, sempit dan diliputi kekalutan. Apalagi jika kekalutan itu menyebabkan penderitaan yang tiada akhirnya. Sungguh menakutkan. Lalu ketentraman manakah yang diharapkan oleh seorang hamba selain ketentraman hati di dunia dan selamat dari jilatan api neraka di akhirat kelak. Allah ta’ala yang Maha bijaksana dan Maha mengasihi hamba-hamba-Nya telah menunjukkan bagaimanakah cara supaya ketentraman hakiki bisa diraih oleh seorang hamba. Marilah kita buka lembaran Al Qur’an, niscaya permasalahan ini sudah ada jawabannya.

 

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)

 

Siapakah Mereka ?

Di dalam ayat ini Allah memberikan janji yang sangat menggiurkan. Setiap insan tentu merasa ingin mendapatkan apa yang dijanjikan-Nya itu. Keamanan dan ketentraman, dan juga karunia petunjuk. Allahu akbar, adakah nikmat yang lebih manis dan lebih lezat daripada keduanya ? Akan tetapi sadarilah nikmat agung ini hanya akan diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang memenuhi kriteria yang diberikan oleh-Nya, mereka bukan sembarang hamba. Ingatlah, yang akan meraihnya adalah “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman.”

Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan tidak menodai tauhidnya dengan kesyirikan. Mereka itulah yang mendapatkan keamanan. Sedangkan keamanan itu ada dua macam: Keamanan Mutlak dan Keamanan Muqayyad. Yang pertama itu ialah keamanan dari tertimpa azab. Keamanan ini diperuntukkan bagi orang yang meninggal di atas tauhid dan tidak terus menerus berkubang dalam dosa-dosa besar. Adapun yang kedua berlaku bagi orang yang meninggal di atas tauhid akan tetapi dia masih dalam keadaan berkubang dalam dosa-dosa besar. Maka dia akan memperoleh keamanan dari hukuman kekal di dalam neraka.” (Ibthalu Tandiid, hal. 19).

Dengan demikian, seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid (ini juga berarti dia tidak melakukan pembatal keislaman, red) dan tidak berkubang dalam dosa-dosa besar niscaya akan meraih keamanan mutlak. Yaitu terbebas dari siksaan. Sedangkan seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid akan tetapi bergelimang dalam dosa-dosa besar maka nilai keamanan yang akan diperolehnya lebih rendah dari keamanan yang pertama. Kalau yang pertama dia terbebas dari siksa, sedangkan yang kedua ini dia tidak akan disiksa terus-menerus alias akhirnya juga akan masuk surga. Jadi dia tidak akan kekal di dalam neraka, kalau Allah menyiksanya.

 

Bukankah Ayat Ini Umum ?

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ketika turun ayat, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (QS. Al An’aam: 82). Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, ‘Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.’ (QS. Luqman: 13). Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.’” (HR. Al Bukhari (32), Muslim (124), Imam Ahmad (6/69/3589) cet. Ar Risalah, dikutip dari Ibthaalu Tandiid, hal. 19-20).

Inilah bukti kedalaman pemahaman para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum terhadap bahasa Arab. Di dalam bahasa Arab, apabila terdapat suatu kata benda yang nakirah (indefinitif, bertanwin) dalam konteks kalimat negatif (pe-nafian) seperti kata zulmin (kezaliman) di dalam ayat alladziina lam yalbisuu iimaanahum bizulmin (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman) ini maka kata tersebut berlaku umum mencakup segala bentuk kezaliman. Baik kezaliman terhadap diri sendiri, kepada orang lain maupun kezaliman terhadap hak Pencipta. Sehingga wajar apabila turunnya ayat itu terasa berat bagi para sahabat, bukan karena mereka tidak mau melaksanakan isi ayat itu. Akan tetapi karena mereka menyangka syarat untuk bisa mendapatkan keamanan dan hidayah adalah harus bersih dari segala bentuk kezaliman. Sehingga merekapun merasa tidak ada seorangpun diantara mereka yang sanggup memenuhi syarat tersebut. Dengan spontan mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?”

Namun kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan kepada mereka bahwa yang dimaksud kezaliman dalam ayat tersebut adalah syirik. Beliau pun berdalil dengan sebuah ayat yang menceritakan perkataan Luqman kepada puteranya “Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.” Hal itu beliau lakukan supaya mereka mengerti bahwa bukanlah syarat untuk bisa meraih ketentraman dan hidayah itu seseorang harus membersihkan dirinya dari semua bentuk kezaliman. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimas salaam saja pernah melakukan kezaliman dan berdo’a kepada Allah menyesali kezaliman mereka. Mereka berdua berdo’a “Rabbanaa zalamnaa anfusanaa wa inlam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunannaa minal khaasiriin.” (Wahai Rabb kami. Sesungguhnya kami ini telah berbuat zalim terhadap diri kami. Dan apabila paduka tidak mengampuni dosa kami dan tidak merahmati kami niscaya kami tergolong orang-orang yang merugi). (lihat QS. Al A’raaf: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hal yang membuat para sahabat merasa berat ialah karena mereka menyangka bahwa kezaliman yang dipersyaratkan harus dihilangkan di sini adalah kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri. Mereka mengira bahwa keamanan dan petunjuk tidak akan bisa diraih oleh orang yang menzalimi dirinya sendiri. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerangkan kepada mereka bahwa di dalam Kitabullah syirik juga disebut sebagai kezaliman. Sehingga rasa aman dan petunjuk tidak akan diperoleh orang-orang yang mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman jenis ini. Karena sesungguhnya barangsiapa yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman ini (syirik) maka dia termasuk orang-orang yang berhak memperoleh keamanan dan petunjuk…” (Fathul Majiid, hal. 34).

Sehingga dari sini kita juga bisa memetik sebuah kaidah tafsir “An Nakiratu fi siyaaqi nafyi tufiidul ‘umuum” (kata benda nakirah dalam konteks kalimat negatif memberikan makna umum) (lihat Al Qawa’id Al Hisan karya Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah, hal. 22-23). Bagaimana kaidah ini bisa diambil dari kisah tersebut, bukankah Nabi menolak penafsiran para sahabat?! Benar, Nabi memang menolak penafsiran mereka terhadap maksud zalim di dalam ayat ini. Akan tetapi beliau tidak menolak kaidah mereka (kaidah bahasa Arab). Apa yang beliau lakukan ialah memberikan tambahan informasi bahwa yang dimaksud oleh ayat ini bukanlah keumuman lafaznya sebagaimana lafaz umum lain yang ada di dalam ayat atau hadits, akan tetapi yang dimaksud adalah salah satu kandungannya saja. Beliau tidak mengatakan, “Kaidah kalian itu salah” akan tetapi beliau mengatakan “Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka… Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.” Lafaz semacam ini di dalam istilah ilmu ushul fiqih disebut dengan al ‘umum urida bihi al khushush (lafazh umum tetapi maksud yang disimpan di baliknya ialah makna yang khusus).

Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan, “Di dalam ayat ini, kata zalim dalam keadaan nakirah dan berada di konteks kalimat negatif, yaitu firman Allah ta’ala, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan.’ Ini menunjukkan kepada seluruh macam kezaliman. Akan tetapi apakah lafaz umum di sini yang dimaksud adalah lafaz umum yang mengalami pengkhususan (umum al makhsush) ataukah ia termasuk lafaz umum tetapi makna yang dikehendaki adalah makna khusus (umum uriida bihi al khushush). ….” Kemudian beliau mengatakan bahwa yang dimaksud oleh penulis Kitab Tauhid tatkala membawakan ayat ini adalah umum uriida bihi al khushush. Kemudian beliau berkata, “Memang benar, kata zalim dalam ayat ini adalah nakirah dalam konteks pe-nafian (yaitu dengan adanya kata lam yang artinya tidak), sehingga ia menunjukkan makna umum. Namun ia termasuk lafaz umum yang menyimpan maksud makna khusus. Ia khusus hanya meliputi salah satu macam kezaliman yaitu syirik. Dengan demikian, letak keumumannya beralih kepada seluruh makna yang tercakup dalam macam-macam syirik, bukan pada segala bentuk kezaliman. Sebab kezaliman itu meliputi:

 

Kezaliman hamba terhadap dirinya dengan berbuat maksiat,atau kezalimannya terhadap orang lain dengan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hak orang lain,dan termasuk juga di dalamnya kezaliman hamba terhadap hak Allah jalla wa ‘ala yaitu dengan melakukan syirik terhadap-Nya.

Nah, (syirik) inilah yang dimaksud dengan lafaz umum ini. Oleh karenanya lafaz tersebut bersifat umum mencakup semua jenis kesyirikan… Sehingga makna dari ayat ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka.’ ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24).

 

Demikianlah tafsiran yang diberikan oleh para ulama salaf terhadap ayat ini. Imam Ibnu Jarir membawakan sebuah riwayat dari Rabi’ bin Anas bahwa yang dimaksud iman di sini adalah ikhlash (memurnikan ibadah) untuk Allah saja. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja. Mereka tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. Mereka itulah yang akan merasakan keamanan pada hari kiamat serta memperoleh hidayah di dunia maupun di akhirat.” (lihat Fathul Majiid, hal. 34).

 

Pentingnya Peranan Rasulullah Dalam Menjelaskan Ayat

Dari sini kita bisa memahami betapa pentingnya kedudukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penjelas kandungan ayat-ayat Al Qur’an. Seandainya diantara para sahabat tidak ada beliau niscaya ayat ini akan sangat sulit dimengerti oleh orang-orang. Namun inilah bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Allah tidak membiarkan akal-akal mereka bebas (liberal) menafsirkan Al Qur’an menurut pemahaman mereka sendiri-sendiri. Akan tetapi Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka guna menjelaskan ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Adz Dzikra (wahyu) supaya engkau menjelaskan kepada manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl: 44). Inilah salah satu peranan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penafsir ayat Al Qur’an. Dengan demikian batillah dakwaan kaum yang mengaku hanya berpedoman dengan Al Qur’an tanpa Al Hadits, mereka itulah yang disebut Al Qur’aniyyuun atau di dalam negeri lebih kita kenal dengan nama Ingkarus Sunnah. Mereka racuni pemikiran para pemuda dengan tafsiran ala mereka sementara di sisi lain mereka mencampakkan tafsiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, subhaanallah. Adakah tindakan congkak yang melebihi kelakuan mereka ini?! Wallahul musta’aan.

 

Sempurnakan Tauhid, Niscaya Balasannya Juga Sempurna

Tauhid yang sempurna hanya bisa diraih dengan membersihkan diri dari segala bentuk kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan (lihat Fathul Majiid, hal. 56). Inilah yang disebut dengan tahqiq tauhid (merealisasikan tauhid). Namun bukan berarti orang seperti ini tidak pernah berbuat dosa. Orang yang berhasil mentahqiq tauhid adalah yang apabila terjatuh di dalam dosa dia segera bertaubat dan kembali mentaati Allah subhanahu wa ta’ala. Dia bekerja keras mengikis segala bentuk maksiat, karena baginya kemaksiatan itu akan mengurangi kemurnian tauhidnya. Dia memandang dosa laksana sebuah gunung besar yang akan roboh menimpa dirinya. Demikianlah sifat seorang mukmin sejati. Dia tidak memandang kecilnya dosa. Akan tetapi yang selalu diperhatikannya ialah keagungan dan kebesaran Dzat yang dosa itu tertuju kepadanya. Sehingga pantaslah jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah 70 kali sehari bahkan dalam riwayat lain disebutkan 100 kali. Inilah sosok manusia terbaik di muka bumi, inilah sosok pen-tahqiq tauhid terhebat sepanjang zaman. Lalu bagaimanakah dengan kita yang mengaku sebagai pengikut Nabi, bahkan mengaku salafi? Sudahkah istighfar dan taubat menghiasi lisan dan hati kita? Ataukah hati dan lisan kita justru telah pekat dengan rasa dengki dan kata-kata kotor lagi menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan daripada tindakan melahap bangkai saudaranya? Wahai jiwa, telitilah dirimu sendiri dahulu…

 

Syaikhul Islam mengatakan, “Barangsiapa bisa menyelamatkan dirinya dari ketiga macam kezaliman: berbuat syirik, menzalimi sesama hamba dan menzalimi diri sendiri selain syirik maka dia berhak memperoleh rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna (al amnu al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq). Sedangkan orang (bertauhid) yang tidak bisa menyelamatkan dirinya dari perbuatan zalim terhadap dirinya sendiri maka dia hanya akan memperoleh rasa aman dan petunjuk sekadarnya (tidak sempurna, disebut juga muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’, red). Dalam artian dia pasti akan masuk surga. Sebagaimana hal itu telah dijanjikan oleh Allah di dalam ayat lain. Dan Allah pun menunjukkan kepadanya jalan yang lurus yang pada akhirnya juga akan mengantarkannya menuju surga. Rasa aman dan petunjuk itu akan berkurang berbanding lurus dengan penurunan iman yang terjadi karena perbuatan zalimnya terhadap dirinya sendiri.”

Beliau melanjutkan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya (yang dimaksud zalim dalam ayat) itu adalah syirik’ itu bukan berarti barangsiapa yang tidak berbuat syirik akbar pasti akan meraih rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Sebab terdapat banyak sekali hadits serta nash-nash Al Qur’an yang menerangkan bahwa para pelaku dosa besar dihadapkan dengan cekaman rasa takut. Mereka tidak bisa memperoleh keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna; dua karunia yang bisa membuat mereka mendapatkan hidayah menempuh jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat Allah, tanpa sedikitpun siksa yang harus mereka terima. Akan tetapi mereka itu memiliki pokok petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus ini. Mereka juga memiliki pokok kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, sehingga mereka juga pasti akan merasakan masuk surga.” (Fathul Majiid, hal. 35).

Kemudian beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Apabila yang dimaksud dengan sabda Nabi, ‘Sesungguhnya yang dimaksud di sini adalah syirik’ adalah syirik akbar saja maka maksudnya ialah barangsiapa yang tidak melakukan syirik akbar maka dia kelak akan mendapatkan rasa aman dari siksaan dunia dan akhirat yang dijanjikan Allah untuk orang-orang musyrik (karena dengan terbebas dari syirik akbar dia bukan termasuk golongan orang musyrik, red). Dan apabila yang beliau maksud adalah jenis kesyirikan, maka perbuatan hamba dalam menzolimi dirinya sendiri seperti bersikap kikir karena demikian besar cintanya kepada harta sehingga tidak mau menunaikan kewajiban berinfak juga tergolong syirik ashghar. Begitu pula kecintaannya kepada sesuatu yang dibenci oleh Allah ta’ala sampai-sampai membuatnya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsunya di atas kecintaan kepada Allah juga termasuk syirik ashghar, dan lain sebagainya. Maka golongan orang semacam ini akan semakin kehilangan unsur keamanan dan petunjuk sesuai dengan banyaknya syirik ashghar yang dilakukannya. Berdasarkan sudut pandang inilah para ulama salaf dahulu juga mengkategorikan perbuatan-perbuatan dosa (selain syirik) ke dalam jenis syirik ini.” Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah.” (lihat Fathul Majiid, hal. 35).

 

Ketika mengomentari jawaban Nabi terhadap kemusykilan yang dilontarkan oleh para sahabat, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menambahkan, “Jawaban ini, demi Allah merupakan jawaban yang sangat memuaskan. Sesungguhnya kezaliman mutlak lagi sempurna adalah kezaliman yang ada pada perbuatan syirik.

 

Sebab kesyirikan merupakan tindakan menempatkan ibadah bukan pada tempat yang semestinya. Sedangkan keamanan dan petunjuk yang mutlak mencakup keamanan di dunia dan akhirat serta petunjuk meniti jalan yang lurus. Maka kezaliman yang mutlak lagi sempurna itulah yang menjadi sebab terangkatnya rasa aman dan petunjuk yang mutlak lagi sempurna. Hal ini tidaklah menafikan adanya kezaliman yang bisa menjadi sebab seorang hamba meraih sekedar rasa aman (muthlaqul amn) dan sekedar petunjuk (muthlaqul huda). Maka cermatilah hal ini. Sekedar balasan (rasa aman dan petunjuk) tetap akan didapatkan oleh orang yang masih memiliki iman (tauhid yang tidak tercampuri syirik). Sedangkan balasan istimewa (yaitu rasa aman dan petunjuk yang sempurna) akan didapatkan oleh orang yang istimewa pula (yaitu yang tauhidnya bersih dari berbagai kezaliman).” Dinukil secara ringkas. Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah. (lihat Fathul Majiid, hal. 36, dengan sedikit penyesuaian redaksional).

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa kata zalim yang dimaksud oleh Nabi tatkala menyebutkan ayat tersebut adalah kesyirikan. Sehingga makna ayat tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh bahwa makna “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka” ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24). Ketentraman dan hidayah inilah yang disebut dengan al amn al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq (lihat Al Qaul Al Mufid I/35-36). Artinya seorang yang bertauhid dan tidak berbuat syirik pasti memperoleh hidayah dan rasa aman. Hidayah di dunia dengan ditunjuki meniti jalan yang lurus (mendapat taufik untuk memeluk dan mengamalkan Islam sampai mati dan tidak melakukan pembatal keislaman). Sedangkan hidayah di akhirat berupa bimbingan untuk masuk surga. Adapun rasa aman di dunia berupa rasa tentram di dalam hati dan tidak bersedih karena selain Allah. Dan akhirnya adalah rasa aman di akhirat, yaitu diselamatkan dari terus menerus dalam siksaan api neraka (lihat At Tamhiid, hal. 25 dan Al Qaul Al Mufid, hal. 35-36) Inilah balasan yang akan didapatkan oleh semua orang yang bertauhid.

 

Perbedaan Kadar Rasa Aman dan Petunjuk

Sementara apabila dilihat dari sudut pandang balasan yang didapatkan hamba, maka rasa aman dan petunjuk itu ada dua macam:

Pertama; rasa aman dan petunjuk yang sempurna, atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang maksimal. Balasan ini hanya akan didapatkan orang-orang khusus di kalangan orang-orang yang bertauhid. Keistimewaan mereka dibandingkan sesama muwahhid lainnya adalah karena mereka bisa membersihkan dirinya dari segala bentuk syirik, bid’ah dan maksiat. Karena di dalam bid’ah dan maksiat itu sendiri juga terkandung unsur syirik yaitu ketika pelakunya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsu di atas kecintaan kepada aturan Allah. Maka apabila yang dimaksud rasa aman ialah rasa aman yang sempurna maka makna kezaliman yang tepat ialah yang mencakup segala macam kezaliman, bukan hanya syirik. Sehingga semakin sempurna tauhid dalam diri seorang hamba maka semakin sempurna pulalah ketentraman dan hidayah yang didapatkannya. Sebaliknya, apabila semakin banyak kezaliman yang dilakukannya maka semakin berkuranglah kadar ketentraman dan hidayah yang bisa diraihnya.

 

Kedua; rasa aman dan petunjuk yang sekadarnya. Atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang minimal. Inilah yang disebut dengan muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’. Balasan ini akan didapatkan oleh setiap hamba yang bertauhid, meskipun dia mati dalam keadaan masih berkubang dengan dosa-dosa besar (selain syirik). Yang demikian itu dikarenakan dia masih memiliki modal dasar keimanan atau tauhid yang lurus, sehingga dia tetap berhak untuk menikmati surga di akhirat kelak. Oleh karena itu apabila yang dimaksud dengan rasa aman adalah terbebas dari kekal di neraka maka makna kezaliman yang tepat ialah kesyirikan dan dosa-dosa lain yang setingkat dengannya. Dan inilah yang dimaksudkan oleh ayat dan diterangkan Nabi kepada para sahabat.

 

Dengan penjelasan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa sebenarnya tidak terdapat pertentangan antara mereka yang menafsirkan zalim dalam ayat ini dengan syirik maupun yang tetap membiarkannya berlaku umum meliputi semua macam kezaliman. Tergantung dari sudut pandang mana mereka menafsirkannya. Sebab pada dasarnya mereka semua sepakat semua ahli tauhid pasti masuk surga, dan pelaku dosa-dosa besar mendapatkan ancaman siksa di dalam neraka meskipun mereka juga bertauhid. Seorang muwahhid yang terjerumus dalam syirik kecil juga akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak kesyirikan yang dilakukannya. Sebagaimana seorang muwahhid yang berbuat maksiat akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak maksiat yang dilakukannya. Sebagaimana seseorang yang mengeluarkan dirinya dari barisan kaum muwahhidin kelak akan merasa menyesal karena telah kehilangan seluruh rasa aman dan petunjuk dari-Nya. Lalu sekarang siapakah yang akan merasa aman dan membusungkan dada seraya berkata “Inilah saya, seorang muwahhid!”

Bahkan tinta sejarah dan pena wahyu telah membuktikan fenomena sebaliknya yang sangat mengagumkan dan luar biasa. Sehingga Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pun menorehkan ayat ini di dalam Bab Al Khauf minasy Syirk (merasa takut terjerumus dalam syirik) dalam Kitab Tauhid beliau. Inilah perkataan seorang pengibar bendera tauhid kelas satu, Ibrahim ‘alaihis salaam, “(Tuhanku) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan arca-arca. Duhai Tuhanku, sesungguhnya mereka itu telah menyesatkan banyak manusia.” (QS. Ibrahim: 35-36). Lalu bagaimanakah rasa takut yang seharusnya menghinggapi hati orang yang kelasnya jauh di bawah Ibrahim? Sehingga salah seorang tokoh generasi tabi’in Ibrahim At Taimi rahimahullah mengatakan sesudah membaca ayat ini, “Lantas, siapakah orangnya yang merasa aman dari bencana (syirik) setelah Ibrahim?!!” (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana tercantum dalam Ad Durr Al Mantsur 5/46, dinukil dari At tamhiid, hal. 50).

 

Allahumma inni a’udzu bika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima la a’lam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Kata Islam, iman, serta rukunnya tidaklah asing bagi muslim. Perbedaan makna keduanya penting dipahami demi mendalami Quran – Hadits hingga tidak mudah mengkafirkan sesama mukmin dan salah mengambil hukum.

 

Pengertian Iman dan Islam

Jika ditanya apa definisi keduanya, sebagian kita akan menjawab antara 3 ;

·         Islam itu iman, iman adalah Islam,

·         Islam adalah syahadat. Iman artinya yakin dan percaya,

·         Islam spesifik nama agama, iman sifatnya umum.

 

Jadi yang mana kah yang benar?

Secara umum para ulama punya kaidah khusus terkait pengertian iman dan Islam ini :

 

إذا اجتمعا افترقا و إذا افترقا اجتمعا

“Bermakna sama (sinonim) saat terpisah, dan berbeda makna saat bersama.”

 

Maksudnya ;

Jika kata “iman” dan “Islam” ditemukan dalam satu ayat al-Quran maupun riwayat hadits, maka masing-masing memiliki makna tersendiri.

Tapi kalau disebut dalam kalimat berbeda, apalagi beda halaman, beda matan, maka bersinonim. Iman artinya Islam dan Islam adalah iman.

Begitu pula turunan kata keduanya : muslim, mukmin, muslimin, mukminin, muslimat dan mukminat.

Jadi, Islam dan iman adalah dua hal berbeda dalam satu kesatuan. Dengan kata lain, bagai jasad dengan ruh, jiwa dengan raga, lahir-batin. Saling melengkapi.

Keduanya terhubung meski berbeda. Bayangkan betapa ganas, menakutkan dan kuatnya harimau, tapi kalau udah mati, jadi kulit atau diawetkan, siapa takut!

 

Definisi Iman dan Mukmin

Iman berdasarkan bahasa artinya percaya.

Menurut istilah, iman adalah percaya dengan hati, ikrar dengan lisan dan beramal dengan seluruh anggota badan. Sedangkan mukmin artinya orang beriman.

 

Jadi, ada keselarasan antara hati, lisan dan sikap.

Di sinilah titik sorot orang munafik, antara hati, lisan serta sikap saling betolak-belakang.

Iman memiliki akar kata yang sama dengan aman dan amanah (أ م ن). Maka secara filosofis, orang beriman adalah orang yang teguh amanah dan menghadirkan rasa aman bagi orang lain. Rasul bersabda :

 

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

Tidak beriman orang yang tidak amanah. (Ahmad, Ibu Hibban)

 

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ، وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

 

Tidak sah iman sebelum hatinya lurus, tidak akan lurus hatinya selama lisannya tidak baik. Tidak akan masuk surga siapa yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya. (Ahmad)

Jadi, seorang mukmin tidak boleh dan tidak mungkin jadi teroris, pelaku bom bunuh diri dsb.

 

Definisi Islam dan Muslim

Islam dan muslim berasal dari kata dasar, aslama – yuslimu (أسلم – يسلم), artinya tunduk, menyerah dan patuh. Kata dasar ini menurunkan kata salam dan salamah, diserap bahasa Indonesia jadi “selamat”.

Menurut syairat, Islam adalah agama yang Allah turunkan kepada Rasulullah Muhammad secara khusus, dan 124 ribu nabi-rasul secara umum. Adapun muslim artinya orang Islam atau orang beragama Islam.

Dengan definisi yang disarikan dari bebagai dalil nash, maka beragama islam maknanya berserah diri, tunduk kepada Allah dengan mengikuti Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam– demi keselamatan dunia-akhirat.

Islam secara gamblang digunakan oleh Allah sebagai nama agama yang Ia turunkan.

 

إن الدين عند الله الإسلام

Sungguh hanya Islam, agama yang Allah terima … (Ali Imran : 19)

 

ورضيت لكم الإسلام دينا

dan telah Ku-ridai Islam sebagai agama bagimu. … (al-Maidah : 3)

Bahkan Allah sendiri yang menamakan pemeluk agama-Nya dengan sebutan muslim.

 

هو سماكم المسلمين من قبل

Allah menamakan kalian “muslim” sejak dahulu. (al-Hajj : 78)

Tidak heran jika sejumlah tokoh dan rasul menyatakan dirinya seorang muslim.



Sumber : SUMBARTODAY

No comments:

Post a Comment