KUMPULAN MAKALAH : MAKALAH BENCANA ALAM DAN NON ALAM

Friday, May 20, 2022

MAKALAH BENCANA ALAM DAN NON ALAM

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya. Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca.

Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

Bekasi, 20 Mei 2022

 

 

 

Penulis,

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR.. 1

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Rumusan Masalah. 2

1.3 Tujuan. 2

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

2.1 Bencana Longsor. 3

2.1.1 Pengertian. 3

2.1.2 Proses Terjadinya Tanah Longsor. 3

2.1.3 Dampak Dari Bencana Tanah Longsor. 5

2.1.4 Cara Menanggulangi Bencana Tanah Longsor. 6

2.2. Bencana Wabah Penyakit. 7

2.2.1 Pengertian. 7

2.2.2 Pengebab Wabah. 7

2.2.3 Dampak Wabah Penyakit. 8

2.2.4 Penanggulangan Wabah penyakit. 10

BAB III. 12

PENUTUP.. 12

3.1 Kesimpulan. 12

3.2 Saran. 12

DAFTAR PUSTAKA.. 13

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah arti negara berkembang yang rawan akan bencana alam. Hal ini diungkapkan karena secara geografis Indonesia menjadi negara kepulauan yang terletak di antara pertemuan empat lempeng tektonik yakni, lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Bencana bisa disebabkan karena faktor alam, non alam, ataupun manusia. Sehingga, dari bencana itu muncullah kerugian bagi manusia, lingkungan, dan psikologis, yang menghambat pembangunan nasional.

Bencana alam adalah serangkain kejadian yang terjadi di alam, kejadian tersebut dianggap mengancam perkembangan dan arti populasi manusia sehingga diperlukan suatu bentuk penanganan bencana yang meliputi analis dampak bencana terhadapa masyarakat dalam hal ekonomi, lingkungan, infrastruktur, keuangan, pemerintahan, dan pendidikan.

Sedangkan Bencana non alam bisa saja menimpa berbagai wilayah di berbagai negara. Apalagi, wilayah Indonesia jika dilihat dari kondisi geografis (posisi negara), geologis (kondisi bumi), hidrologis (distribusi air), dan demografis (kependudukan) termasuk wilayah yang rentan terkena bencana.

Menurut Kamadhis UGM (2007) Bencana adalah serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam, sehingga peristiwa tersebut mengakibatkan kerugian materi, korban jiwa, dan kerusakan lingkungan.

Sedangkan Menurut WHO (2002) bencana adalah kejadian yang mengakibatkan kerusakan, hilangnya nyawa manusia, gangguan ekologis, atau memburuknya derajat kesehatan pada suatu skala tertentu sehingga mengudang respon dari luar masyarakat.

 

1.2 Rumusan Masalah

·         Apa itu bencana alam dan non alam?

·         Apa itu bencana longsor?

·         Apa itu bencana wabah penyakit?

·         Apa penyebab bencana?

·         Apa saja jenis-jenisnya?

·         Apa saja Dampak Dari Bencana ini?

·         Bagaimana cara menanggulanginya?

 

1.3 Tujuan

          Untuk mengetahui pengertian, penyebab, proses kejadian, dampak/akibat, upaya/usaha penanggulangan dari bencana bencana tersebut.

 

 

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Bencana Longsor

2.1.1 Pengertian

          Tanah longsor adalah salah satu jenis bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia selain gempa bumi, banjir, kekeringan, dan angin topan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendefinisikan tanah longsor sebagai salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, yang menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng. Sementara merujuk sumber lain, pengertian tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, ataupun campuran material-material tersebut, yang bergerak ke bawah atau keluar lereng.

 

2.1.2 Proses Terjadinya Tanah Longsor

          Peristiwa tanah longsor dapat terjadi apabila air yang meresap ke dalam tanah menyebabkan bobot tanah bertambah, kemudian menembus sampai ke bidang gelincir, hingga menyebabkannya bergerak keluar lereng. Apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan maka terjadilah longsor. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan, demikian dikutip dari laman BPBD DIY. Bencana tanah longsor sering muncul di musim hujan, setelah musim kering yang menyebabkan permukaan tanah retak dan berpori. Saat tanah retak, maka air hujan makin mudah meresap ke bagian dalam tanah, membuat kandungan air dalam tanah menjadi jenuh. Air yang terakumulasi di dasar lereng memicu gerakan lateral, sehingga mudah bergerak menuruni lereng. Namun, jika ada banyak pohon maka tanah tidak mudah bergerak longsor. Maka itu, penghijauan di daerah perbukitan, pegunungan dan sekitar lereng penting dilakukan.

 

Jenis-Jenis Tanah Longsor & Ciri-Ciri

Area Rawan Longsor Agar dapat lebih waspada terhadap jatuhnya korban baik jiwa maupun harta, maka ada baiknya kita mengenali ciri-ciri daerah yang rentan mengalami tanah longsor. Selain itu, untuk mengenali kerawanan bencana ini, jenis-jenis tanah longsor juga perlu diketahui.

Berikut ini ciri-ciri kawasan rawan bencana tanah longsor:

·         Umumnya tanah longsor terjadi di wilayah perbukitan dan lereng gunung dengan kemiringan 20 derajat.

·         Lapisan tanah di bagian atas lereng tebal

·         Lahan gundul tidak ada pepohonan, sehingga lereng terbuka

·         Terdapat retakan tanah di atas lereng dan tebing

·         Sistem saluran air yang buruk di daerah lereng

·         Ada mata air atau rembesan di tebing, dan didahului oleh longsoran kecil

·         Adanya bangunan di bagian atas tebing yang menyebabkan beban berlebihan.

 

Jenis-jenis tanah longsor yang umum terjadi setidaknya 6, yakni:

·         Longsoran Translasi: gerakan massa tanah dan batuan di tebing dengan bidang gelincir rata atau bergelombang landai.

·         Longsorang Rotasi: gerakan massa tanah dan batuan pada bidang gelincir cekung

·         Pergerakan Blok (longsoran translasi blok batu): perpindahan batuan pada bidang gelincir rata atau lurus.

·         Runtuhan batu: batuan atau material yang bergerak ke bawah dengan jatuh bebas. Biasanya terjadi di lereng terjal, seperti yang ada di daerah pantai.

·         Rayapan tanah: jenis tanah longsor yang lamban bergerak dan lama. Biasanya dapat diamati saat pohon atau rumah mulai miring atau retak perlahan ke arah bawah.

·         Aliran bahan rombakan: massa tanah bergerak didorong oleh air, sehingga kecepatan longsor tergantung pada volume air, tekanan air, dan seberapa miring lerengnya. Dapat diamati pada daerah aliran sungai di sekitar gunung merapi, saat berlangsung longsoran lahar dingin.

 

2.1.3 Dampak Dari Bencana Tanah Longsor

Berikut adalah Beberapa Dampak Tanah Longsor bagi Lingkungan dan Masyarakat disekitar:

1.      Jatuhnya korban jiwa

Hal yang paling memprihatinkan dari kejadian bencana alam tanah longsor adalah, Jatuhnya korban jiwa baik korban luka-luka ataupun hingga merenggut nyawa manusia. Hujan yang turun secara tiba-tiba dapat menyebabkan ke tidak stabilan kontur tanah di bagian dataran tinggi ataupun di daerah yang rawan pergeseran tanah. Di kutip dari World Health Organization(WHO), antara 1998 hingga 2017, tanah longsor mempengaruhi sekitar 4,8 juta orang dan menyebabkan lebih dari 18 ribu kematian. Tidak hanya berdampak secara fisik, korban selamat dari tanah longsor kerap kali mengalami trauma psikis antara trauma ringan sampai trauma yang berat, Hal ini sering terjadi pada anak-anak maupun orang tua.

 

2.      Rusaknya Fasilitas umum dan terputusnya akses Keluar-Masuk Desa

Tanah Longsor juga dapat merusak fasilitas umum seperti insfraktrukur dan terputusnya akses jalan yang mengakibatkan masyarakat di sekitar tempat kejadian perkara menjadi terisolir. Hal ini terjadi karena banyak jalanan dan jembatan banyak yang rusak akibat dari kejadian tanah longsor.

Bencana Tanah longsor yang fatal juga bisa merusak Jalan, jembatan, Gedung, dan Menara pemancar sinyal Telekomunikasi. Hal tersebut sering kali menutup jalan dan memutus sinyal komunikasi, yang dapat menyebabkan daerah yang terkenal longsor sulit dicapai.

 

3.      Hilangnya tempat tinggal

Bencana alam ini dapat merusak rumah warga yang berada di lokasi rawan tanah longsor. Hal ini sangat merugikan bagi masyakat yang terdampak dari bencana alam tanah longsor. Kehilangan tempat tinggal juga menyebabkan korban tanah longsor tidak memiliki tempat perlindungan, makanan, dan pakaian, Kejadian ini seharusnya sangat perlu perhatian dari pemerintah untuk lebih sigap dan tanggap dalam menangani bencana tanah longsor seperti ini.

4.      Tercemarnya sumber air bersih

Tanah longsor dapat mencemari sumber air di sekitarnya seperti mata air dan sungai. Bencana tanah longsor ini dapat menurunkan kadar kualitas air bersih,karena biasanya bencana tanah longsor bisa membawa kandungan logam maupun zat kimia. Zat kimia dan juga kandungan logam berat dapat merusak kualitas sungai, mencemari sepanjang aliran sungai, dan memberikan gangguan kesehatan hingga kematian pada makhluk hidup di sekitarnya.

 

2.1.4 Cara Menanggulangi Bencana Tanah Longsor

Adapun cara mengurangi risiko tanah longsor ialah sebagai berikut:

·         Tidak membangun rumah atau vila di lereng gunung, sehingga beban tanah di wilayah tersebut bertambah.

·         Tidak membuat sawah atau kolam di atas lereng karena air mudah meresap dan menimbulkan retakan di lereng.

·         Tidak membuat rumah di daerah bawah tebing atau lereng, untuk menghindari korban jiwa saat sewaktu-waktu terjadi longsor.

·         Tidak menebang pohon secara membabi buta di sekitar wilayah lereng, agar akar pepohonan dapat mengikat tanah dan mencegah longsor.

·         Menanami daerah lereng gunung dan bukit yang gundul dengan pepohonan, agar tidak terjadi erosi tanah apabila hujan datang.

·         Membuat terasering atau sistem tanah bertingkat jika harus menanam padi di lereng bukit. Terasering akan memperlambat aliran air dan tanah saat hujan.

 

2.2. Bencana Wabah Penyakit

2.2.1 Pengertian

          Bencana non alam adalah serangkaian peristiwa yang bukan berasal dari alam. Bencana non alam ini bisa disebabkan konflik sosial antarkelompok, masyarakat, ataupun aksi teror.

          Hasilnya, bencana ini berupa gagalnya memajukan teknologi, gagalnya melakukan modernisasi, ataupun wabah penyakit yang bisa menjadi pandemi dan endemi. Selain itu, ada wabah penyakit juga termasuk bencana non alam. Selama manusia hidup, wabah penyakit terus terjadi dan penyebabnya juga beragam.

          Bisa jadi penyebabnya adalah virus baru ataupun virus hasil mutasi dari beberapa virus. Jika tidak ditangani serius, wabah penyakit bisa menyebabkan kematian besar pada populasi manusia di dunia. Berikut ini beberapa jenis wabah penyakit yang pernah dilalui oleh manusia.

 

2.2.2 Pengebab Wabah

          Selain kontaminasi air, wabah paling sering disebabkan oleh pola cuaca yang tidak biasa, perubahan kelimpahan pembawa penyakit seperti nyamuk dan kutu, dan pengelolaan limbah.

          Wabah besar mungkin disebabkan oleh patogen virus seperti coronavirus SARS, virus influenza dan virus ensefalitis Jepang. Umumnya, wabah kecil dikaitkan dengan kontaminasi makanan, produksi ternak lokal dan kontak manusia-hewan.

          "Kami tahu bahwa faktor-faktor seperti paparan mamalia liar, gangguan habitat, perdagangan internasional dan perjalanan serta kontak dengan makanan dan air yang terkontaminasi merupakan pertimbangan penting," kata Stephens dalam rilis berita universitas.

          "Penelitian kami dirancang untuk memahami proporsi wabah yang disebabkan oleh berbagai penyebab. Sepengetahuan kami, penelitian ini adalah yang pertama untuk sampel global wabah banyak penyakit," kata Stephens.

 

2.2.3 Dampak Wabah Penyakit

          Dampak Wabah penyakit yang bisa kita lihat yaitu contohnya seperti COVID-19, Sampai awal 2021 pandemi Covid-19 belum juga dapat diatasi. Di dunia sudah sekitar 95 juta kasus dan lebih dari 2 juta kematian terjadi. Di negara kita orang sudah membicarakan kemungkinan 1 juta kasus dalam waktu tidak terlalu lama lagi, serta angka kematian mendekati 30.000 jiwa.

          Yang amat perlu diwaspadai adalah angka kepositifan kita yang sudah berkisar 20% dan bahkan dalam beberapa hari sampai 30%, padahal kita ketahui rekomendasi WHO (World Health Organization) adalah hanya 5% saja. Angka kepositifan menunjukkan bagaimana besarnya penularan terjadi di masyarakat. Dan angka kita menunjukkan empat kali atau bahkan pernah enam kali dari angka WHO.

          Sambil pemerintah dan kita semua harus terus menangani aspek kesehatan pandemi terburuk sepanjang kita hidup ini, maka sudah kita ketahui bersama pula bahwa korona memberi dampak amat besar pada sektor ekonomi dan sosial di dunia. Dan ini tentunya harus ditanggulangi dengan penuh perhatian.

          WHO bersama International Labour Organization (ILO), Food and Agriculture Organization (FAO) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) pada Oktober 2020 menyatakan bahwa disrupsi sosial ekonomi akibat Covid-19 amat besar. Puluhan juta orang dapat jatuh menjadi amat miskin. Jumlah orang kurang gizi di dunia yang pada Oktober 2020 diperkirakan 690 juta orang akan bertambah 132 juta lagi sampai akhir 2020.

          Dunia usaha mengalami tantangan amat berat. Sekitar setengah dari 3,3 miliar pekerja di dunia menghadapi risiko kekurangan uang dan atau kehilangan pekerjaan dalam berbagai tingkatannya. Sektor ekonomi informal juga terpukul hebat. Jutaan petani di dunia, begitu juga pekerja migran menghadapi situasi ekonomi yang berat dengan berkurang atau bahkan hilangnya penghasilan mereka.

          Direktur Jenderal WHO pada September 2020 menyatakan bahwa ekonomi global akan dapat kontraksi triliunan dolar Amerika Serikat pada 2020. Banyak negara memberi berbagai paket stimulus ekonomi, tetapi investasi besar ini tidak menghilangkan akar masalahnya. Yaitu penyakit dan pandemi yang amat membebani sistem kesehatan, mendisrupsi ekonomi dan menimbulkan kekhawatiran yang meluas serta ketidakpastian situasi.

          Sementara itu, pada November 2020 WHO meluncurkan Konsil Ekonomi Kesehatan (Council on the Economics of Health for All). Konsil yang beranggotakan pakar terkemuka di bidang ekonomi dan pakar kesehatan ini akan bekerja agar konsep kesehatan untuk semua (health for all) dapat menjadi pola pikir utama dalam membentuk sistem nilai sosial dan pertumbuhan ekonomi.

          Pada suatu webinar pertengahan Desember 2020 yang lalu ini pihak Asian Development Bank (ADB) menyampaikan bahwa ekonomi negara-negara berkembang di Asia diperkirakan akan mengalami kontraksi sampai 0,4% di tahun 2020. Sebuah penurunan yang nyata dari pertumbuhan 5,1% di tahun 2019. Ini adalah kontraksi besar di kawasan ini dalam enam dekade terakhir ini.

          Disebutkan juga bahwa penurunan kemiskinan yang sudah terjadi dalam tiga empat tahun belakangan ini akan berbalik trend- nya. Bila kita gunakan batas kemiskinan sebesar US$ 1,90, maka di Asia diperkirakan akan ada 192 juta orang miskin pada akhir 2020. Kalau angka batas kemiskinannya di tingkatkan lagi maka tentu jumlah orang miskin akan bertambah pula.

          Disebutkan juga bahwa penutupan sebagian tempat kerja di Asia pada kurun tiga kuartal tahun 2020 ini mengakibatkan kehilangan pendapatan pekerja karena hilangnya jam kerja. Di sisi lain, penurunan permintaan dan relatif rendahnya harga minyak akan membuat inflasi di Asia tahun 2020 jadi 2,8% dan di tahun 2021 akan 1,9%.

          Disampaikan pula Malaysia diperkirakan akan mengalami penurunan GDP 6% tahun ini tapi akan naik kembali 7,0% di tahun 2021. Filipina mengalami kontraksi ekonomi sebesar 10,0% dalam periode Januari sampai September 2020. Singapura juga mengalami kontraksi ekonomi 6,5% pada periode yang sama, Januari sampai September 2020.

          Di sisi lain, Vietnam ternyata mengalami pertumbuhan ekonomi yang tadinya 0,4% di kuartal ke dua 2020 menjadi 2,6% di kuartal ketiga. Sehingga pertumbuhan rata-rata periode Januari sampai September adalah 2,1%. Diperkirakan pertumbuhan sepanjang 2020 Vietnam menjadi 2,3%.

 

2.2.4 Penanggulangan Wabah penyakit

          Penanggulangan Penyakit Menular adalah upaya kesehatan yang mengutamakan aspek promotif dan preventif yang ditujukan untuk menurunkan dan menghilangkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian, membatasi penularan, serta penyebaran penyakit agar tidak meluas antar daerah maupun antar negara serta berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa/wabah.

1) Upaya pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan dilakukan melalui beberpa kegiatan :

·         Promosi Kesehatan;

·         Surveilans Kesehatan;

·         Pengendalian Faktor Risiko;

·         Penemuan Kasus;

·         Penanganan Kasus;

·         Pemberian Kekebalan (Imunisasi)

·         Pemberian Obat Pencegahan Secara Massal;

2) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat;(PHBS);  paling sedikit berupa:

·         Cuci Tangan Pakai Sabun (Ctps);

·         Pemberantasan Jentik Nyamuk;

·         Menggunakan Air Bersih Untuk Keperluan Rumah Tangga;

·         Mengkonsumsi Makanan Gizi Seimbang;

·         Melakukan Aktivitas Fisik Setiap Hari;

·         Menggunakan Jamban Sehat;

·         Menjaga Dan Memperhatikan Kesehatan Reproduksi; Dan

·         Mengupayakan Kondisi Lingkungan Yang Sehat.

3) Mengurangi Kontak.

          Pencegahan penyakit menular dapat diupayakan melalui perilaku mengurangi kontak; yaitu mengurangi kontak dengan orang yang sakit dan mengurangi kontak dengan binatang pembawa penyakit. Perilaku mengurangi kontak anatara lain : mengenakan masker, menjaga jarak, dan tidak mengunjungi tempat yang sedang terdapat wabah.

          Pengendalian faktor risiko ditujukan untuk memutus rantai penularan dengan cara: perbaikan kualitas media lingkungan; pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit; rekayasa lingkungan. Sedangkan pemberian vaksin untuk mencegah dan menangkal terjadinya penyakit tertentu. Suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu antigen, sehingga jika terpapar olen antigen yang sama tidak terjadi infeksi.

          Pencegahan dengan vaksin relatif lebih baik; namun proses pembuatan vaksin sejak munculnya penularan atau infeksi; cukup lama dan punya perjalanan panjang dengan berbagai tahapan. Pembuatan vaksin selain memakan waktu yang lama juga memerlukan biaya tinggi, dimulai dengan identifikasi virus atau mikroorganisme, pembuatan, percobaan pada hewan, percobaan pada manusia, sampai dinyatakan aman untuk digunakan sebagai vaksin.

 

 


BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Dari berbagai fakta yang ada jelas terlihat bahwa bencana besar yang terjadi tidak serta merta datang, namun didahului oleh adanya eksploitasi lingkungan, adanya kebijakan yang tidak memenuhi aspirasi masyarakat, serta tidak adanya manajemen bencana dari pemerintah.

Bencana-bencana tersebut seharusnya tidak perlu terjadi dan bisa diminimalisir oleh pemerintah seandainya pemerintah berbesar hati untuk tidak mencampakkan alam dengan dalih kebijakan pembangunan atau devisa. Sungguh bencana tersebut adalah bencana yang terencana.

 

3.2 Saran

Saran yang  dapat disampaikan setelah pembahasan makalah ini adalah :

1.      Kepada pemerintah agar meningkatkan manajemen bencana agar sedini  mungkin dapat diantisipasi terjadinya bencana alam di Indonesia.

2.      Kepada masyarakat agar lebih menjaga lingkungan karena bagaimanapun bencana yang terjadi tidak terlepas dari kerusakan lingkungan.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

http://piba.tdmrc.org/content/proses-terjadinya-tsunami

http://ekookdamezs.blogspot.com/2012/04/makalah-bencana-alam.html

http://carakata.blogspot.com/2012/04/penyebab-gempa-bumi-secara-umum.html

 

No comments:

Post a Comment