KUMPULAN MAKALAH : MAKALAH KERAJINAN DARI BAHAN KERAS

Saturday, January 11, 2020

MAKALAH KERAJINAN DARI BAHAN KERAS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
       Kerajinan merupakan budaya tradisional yang kini menjadi komoditi negara untuk meningkatkan devisa. Diantara sejumlah kerajinan Nusantara, ada kerajinan yang tetap mempertahankan bentuk dan ragam hias tradisionalnya, tetapi ada pula yang telah dikembangkan sesuai dengan tuntutan pasar.
Seperti yang sudah dipelajari pada pembahasaan sebelumnya, bahwa produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua, yaitu produk kerajinan dari bahan lunak maupun produk kerajinan dari bahan keras. Produk kerajinan dari bahan keras merupakan produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat keras, contohnya dari kayu.
        Negara Indonesia merupakan daerah tropis yang sebagian besar wilayahnya diisi oleh lautan dan juga hutan. Hutan yang tersebar di banyak tempat di Indonesia tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi para perajin. Karya kerajinan ukir kayu adalah karya kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan  tatah ukir. Kerajinan ukiran memang lebih banyak menggunakan bahan baku kayu sebagai bahan utamanya. Kayu yang biasanya digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka, dan lain-lain.
       Kerajinan ukir kayu banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, dengan memanfaatkan motif ragam hias pada masing-masing daerah serta jenis kayu yang berkualitas tinggi sehingga dapat menghasilkan suatu karya kerajinan yang bernilai tinggi. Dari kerajinan bernilai tinggi tersebut dapat memungkinkan terjadinya proses perekonomian antar  masyarakat suatu daerah sehingga meninggikan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Kaligrafi Islam, yang dalam juga sering disebut sebagai kaligrafi Arab, merupakan suatu seni artistik tulisan tangan, atau kaligrafi, serta meliputi hal penjilidan  yang berkembang di negera-negera yang umumnya memiliki warisan budaya Islam. Bentuk seni ini berdasarkan pada tulisan Arab, yang dalam waktu lama pernah digunakan oleh banyak umat Islam untuk menulis dalam bahasa masing-masing. Kaligrafi adalah seni yang dihormati di antara berbagai seni rupa Islam, karena merupakan alat utama untuk melestarikan Al-Qur'an. Penolakan penggambaran figuratif karena dapat mengarah pada penyembahan berhala, menyebabkan kaligrafi dan penggambaran abstrak menjadi bentuk utama ekspresi seni dalam berbagai budaya Islam, khususnya dalam konteks keagamaan. Sebagai contoh, kaligrafi nama Tuhan diperkenankan sementara penggambaran figuratif Tuhan tidak diizinkan. Karya kaligrafi banyak dijadikan koleksi dan adalah hasil seni yang dihargai.
Kaligrafi Arab, Persia dan Turki Utsmaniyah memiliki hubungan dengan motif arabesque abstrak yang terdapat di dinding-dinding dan langit-langit masjid maupun di halaman buku. Para seniman kontemporer di dunia Islam menggali warisan kaligrafi mereka dan menggunakan tulisan kaligrafi atau abstraksi dalam berbagai karya seni mereka.

1.2  Tujuan
       Adapun tujuan dalam pembuatan karya kerajinan dari ukir kayu adalah sebagai berikut:
·         Mengapresiasi keanekaragaman produk kerajinan dari bahan keras dan wirausaha di wilayah setempat dan lainnya sebagai ungkapan rasa bangga dan wujud rasa syukur sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
·         Mengidentifikasi bahan, motif hias, teknik pembuatan, dan fungsi produk kerajinan dari bahan keras di wilayah setempat dan lainnya berdasarkan rasa ingin tahu dan peduli lingkungan.
·         Menganalisis unsur estetika dan ergonomis produk kerajinan dari bahan keras serta menunjukkan inovasi dalam berkarya dan semangat kewirausahaan.
·         Merancang pembuatan produk kerajinan dari bahan keras dan pengemasannya dengan menerapkan prinsip perencanaan produksi kerajinan serta menunjukkan perilaku jujur, percaya diri, dan mandiri.
·         Mendesain produk dan pengemasan karya kerajinan dari bahan keras berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya berdasarkan orisinilitas ide dan cita rasa estetis diri sendiri.
·         Membuat produk kerajinan dari bahan keras di wilayah setempat dan lainnya dengan sikap bekerja sama, gotong royong, bertoleransi, disiplin, bertanggung jawab, kreatif dan inovatif.
·         Menganalisis keberhasilan dan kegagalan serta peluang usaha kerajinan dari bahan keras di wilayah setempat dan lainnya dengan memperhatikan estetika dan ergonomis produk akhir untuk membangun semangat usaha.

1.3  Manfaat
       Manfaat dari pembuatan karya kerajinan dari bahan keras adalah:
·         Menghasilkan produk-produk terbaru yang berasal dari bahan keras
·         Mengeksplorasikan karya-karya pola motif ragam hias yang kreatif dan inovatif
·         Memberikan ilmu dan pengalaman dalam pembuatan kerajinan dari bahan keras yang pada nantinya ilmu dan pengalaman itu sendiri akan kita petik hasilnya.
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
2.1.1 Kerajinan Bahan Keras
Kerajinan bahan keras merupakan suatu kerajinan yang tahap pembuatannya memakai bahan yang bersifat keras.
Kerajinan merupakan budaya tradisional yang kini menjadi komoditi negara untuk meningkatkan devisa. Di antara sejumlah kerajinan Nusantara, ada kerajinan yang tetap mempertahankan bentuk dan ragam hias tradisionalnya, tetapi ada pula yang telah dikembangkan sesuai dengan tuntutan pasar. Sedangkan Kerajinan  bahan keras merupakan produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat keras. Beberapa bahan yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua yaitu, bahan keras alami dan bahan keras buatan. Dari kerajinan bahan keras ini dapat dijadikan kerajinan – kerajinan unik yang tentunya sangat bermanfaat dan memiliki nilai jual di pasaran.
Tahukah kita bahwa benda - benda seperti biji - bijian, kayu bekas bahkan benda lain yang tidak berharga dengan kreatifitas kita, benda yang tadinya tidak berguna bisa memiliki nilai seni bahkan nilai jual.
Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesipulan bahwa, produk kerajinan dari bahan keras merupakan produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat keras. Beberapa bahan keras yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua.

Kerajinan bahan keras dibedakan menjadi 2 :
1)      Kerajinan Bahan Keras Alami
Kerajinan bahan keras alami merupaka suatu kerajinan yang terbuat dari bahan baku pembuatannya yang berasal dari alam ataupun mengalami pengolahan tidak mengakibatkan perubahan wujud benda itu. Bahan Keras Alami amat mudah didapatkan dan relatif murah sebab beberapa bahan bisa diambil langsung di sekitar kita.
Contohnya yaitu :
·         Kayu
·         Tulang
·         Biji – Bijian
·         Bambu
·         Batu
·         Pasir
·         Kerang
·         Rotan

2)      Kerajinan Bahan Keras Buatan
Berbeda dengan kerajinan bahan keras yang alami, kerajinan bahan keras buatan yaitu kerajinan suatu yang bahannya sudah mengalami pengolahan kembali.
Contoh kerajinan bahan keras buatan :
·         Besi
·         Kaca
·         Kaleng
·         Kawat
·         Logam ( Tembaga, Kuningan, Perak, Emas dan Alumunium )
·         Semen
·         Timah

Contoh kerajinan bahan keras
Berikut adalah beberapa contoh kerajinan yana terbuat dari bahan keras
·         Lemari rotan
·         Patung yang di cetak
·         Kursi kayu jati
·         Kalung dari bahan Kerang
·         Bingkai Foto
·         Cincin Emas
·         Gong
·         Angklung
·         Uang Logam
·         Meja

2.1.2 Seni Kaligrafi Islam
Berasal dari bahasa Yunani kallos berarti keindahan dan grafien sama dengan menulis. Dalam bahasa Jepang Nihongo (日本語) adalah seni menulis dengan indah dengan pena sebagai hiasan. Jadi Seni Kaligrafi : seni menulis rapi dan indah, atau aksara yang sudah dibentuk dengan menekankan keindahan yang terdapat pada bentuk-bentuk huruf yang telah dimodifikasi atau digayakan sehingga mempunyai nilai estetika.
Dalam kebudayaan Islam merupakan salah satu bentuk keindahan Alquran disebut seni Khath. Kaligrafi dalam bahasa kita sering diasosiasikan terhadap tulisan Arab. Padahal tidak. Semua tulisan tangan yang indah bisa disebut dengan kaligrafi. Mungkin karena bahasa indonesia yang tidak mempunyai keaksaraan yang kuat, sehingga tulisan indah dalam bahasa Indonesia hampir tidak ada (tulisan memang ada, tetapi tidak mementingkan unsur keindahan aksara).
Sejak ditemukan kertas sebagai media, kaligrafi berkembang sangat  pesat. Di Tiongkok, Jepang dan Erop misalnya, budaya menulis kaligrafi menjadi sebagai ciri khas para terpelajar. Kaligrafi mengiringi kecermelangan ilmu pengetahuan saat itu. Dengan bermodalkan sebuah kwas dan tinta, para sarjana di Tiongkok menorehkan puisi ke selembar kertas. Catatan-catatan penting di zaman Renaissance juga ditorehkan di dalam sebuah buku. Kini perkembangan tulis menulis sudah mulai bergeser. Sejak memasuki era digital –dengan diperkenalkannya sistem operasi komputer– seolah-olah kaligrafi sudah menjadi barang “jadul” nan usang. Bentuk dan ukuran huruf (font) bisa peroleh dengan menggunakan aplikasi (software) dan bisa di cetak dengan mesin (printer)

a.       Asal-Usul Kaligrafi
Para pakar Arab mencatat, bahwa Nabi Adam As-lah yang pertama kali mengenal kaligrafi. Pengetahuan tersebut datang dari Allah SWT, sebagaiman firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 31:“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhya…“
Cerita-cerita keagamaan lainnya, misalnya saja, banyak yang percaya bahwa bahasa atau sistem tulisan berasal dari dewa-dewa
Muncul tafsiran-tafsiran baru tentang asal-usul tulisan indah atau kaligrafi yang lahir dari ide “menggambar” atau “lukisan” yang dipahat atau dicoretkan pada benda-benda tertentu seperti daun, kulit, kayu, tanah, dan batu. “
Pada mulanya tulisan tersebut berdasarkan pada gambar-gambar. Kaligrafi Mesir Kuno yang disebut Hieroglyph berkembang menjadi Hieratik, yang dipergunakan oleh pendeta-pendeta Mesir untuk keperluan keagamaan.
Dari huruf Hieratik muncul huruf Demotik yang dipergunakan oleh rakyat umum selama beberapa ribu tahun.9 Tulisan yang ditemukan 3200 SM di lembah Nil ini bentuknya tidak berupa kata-kata terputus seperti tulisan paku,10 tetapi disederhanakan dalam bentuk-bentuk gambar sebagai simbol-simbol pokok tulisan yang mengandung isyarat pengertian yang dimaksud. Kaligrafi bentuk inilah yang diduga sebagai cikal bakal kaligrafi Arab

b.      Kaligrafi Masuk Indonesia
·         Muncul di Nusantara pada abad XIII setelah Islam berkembang
·         Perpaduan seni Islam dengan seni tradisional Indonesia (Hindu-Buddha)
·         Berawal di kalangan istana kemudian menyebar ke masyarakat hingga sekarang

c.       Macam-Macam Huruf Kaligrafi
Huruf kaligrafi terdiri dari macam-macam huruf diantaranya huruf Hijaiyah (Arab), huruf Latin, huruf China, huruf Jepang, huruf India, huruf Sansekerta maupun huruf Jawa, dll
Macam-Macam Gaya Tulisan Kaligrafi
Sebagai sebuah seni tulis yang bernilai seni tinggi, kaligrafi memiliki aturan dan teknik khusus dalam teknik penulisannya. Lebih lanjut, terdapat pula aturan-aturan terhadap pemilihan warna, bahan tulisan, medium, hingga jenis pena. Secara teknis, kaligrafi juga sangat bergantung pada prinsip geometri dan aturan tentang keseimbangan. Aturan keseimbangan ini secara fundamental didukung oleh huruf alif dan titik yang menjadi penanda dan pembeda bagi beberapa huruf Arab. Meski dalam perkembangannya muncul ratusan gaya penulisan kaligrafi, tidak semua gaya tersebut bertahan hingga saat ini. Setidaknya ada sembilan gaya penulisan kaligrafi yang populer yang dikenal oleh para pecinta seni kaligrafi
1)      Kufi
Gaya penulisan kaligrafi ini banyak digunakan untuk penyalinan Alquran periode awal. Karena itu, gaya Kufi ini adalah model penulisan paling tua di antara semua gaya kaligrafi. Gaya ini pertama kali berkembang di Kota Basrah dan Kufah, Irak, yang merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam sejak abad ke-7 M. Gaya penulisan kaligrafi yang diperkenalkan oleh Bapak Kaligrafi Arab, Ibnu Muqlah, memiliki karakter huruf yang sangat kaku, patah-patah, dan sangat formal. Gaya ini kemudian berkembang menjadi lebih ornamental dan sering dipadu dengan ornamen floral. Dari kata Kufah maka tulisan ini dikenal dengan Kufi.

2)      Tsuluts
Seperti halnya gaya Kufi, kaligrafi gaya Tsuluts diperkenalkan oleh Ibnu Muqlah yang merupakan seorang menteri (wazii) di masa Kekhalifahan Abbasiyah. Tulisan kaligrafi gaya Tsuluts sangat ornamental, dengan banyak hiasan tambahan dan mudah dibentuk dalam komposisi tertentu untuk memenuhi ruang tulisan yang tersedia. Karya kaligrafi yang menggunakan gaya Tsuluts bisa ditulis dalam bentuk kurva, dengan kepala meruncing dan terkadang ditulis dengan gaya sambung dan interseksi yang kuat. Karena keindahan dan keluwesannya ini, gaya Tsuluts banyak digunakan sebagai ornamen arsitektur masjid, sampul buku, dan dekorasi interior.

3)      Nasakh atau Naskhi
Pertama kali diperkenalkan oleh seorang master kaligrafer bernama Imam Muqlah pada abad ke-10. Kaligrafi gaya Naskhi paling sering dipakai umat Islam, baik untuk menulis naskah keagamaan maupun tulisan sehari-hari. Gaya Naskhi termasuk gaya penulisan kaligrafi tertua.  gaya kaligrafiini sangat populer digunakan untuk menulis mushaf Alquran sampai sekarang.
Merupakan modifikasi dari Thuluth dengan memperkenalkan ukuran-ukuran yang kecil dan halus, sederhana, nyaris tanpa hiasan tambahan, sehingga mudah ditulis dan dibaca. Karena jenis ini relatif sangat mudah dibaca dan ditulis, paling banyak digunakan oleh para muslim dan orang Arab di belahan dunia.


4)      Ta'liq/Farisi
Ta'liq artinya menggantung, karena tulisan gaya ini terkesan menggantung. Seperti tampak dari namanya, kaligrafi gaya Farisi dikembangkan oleh orang Persia (Iran).Ta'liq disebut juga Farisi, termasuk gaya tulisan yang sederhana dan digunakan sejak awal abad ke-9 dan menjadi huruf resmi bangsa ini sejak masa Dinasti Safawi sampai sekarang. Kaligrafi Farisi sangat mengutamakan unsur garis, ditulis tanpa harakat, dan kepiawaian penulisnya ditentukan oleh kelincahannya mempermainkan tebal-tipis huruf dalam ‘takaran’ yang tepat. Gaya ini banyak digunakan sebagai dekorasi eksterior masjid di Iran, yang biasanya dipadu dengan warna-warni arabes.

5)      Ijazah (Raihani)
Gaya Ijazah (Raihani) merupakan perpaduan antara gaya Tsuluts dan Naskhi, yang dikembangkan oleh para kaligrafer Daulah Usmani. Gaya ini lazim digunakan untuk penulisan ijazah dari seorang guru kaligrafi kepada muridnya. Karakter hurufnya seperti Tsuluts, tetapi lebih sederhana, sedikit hiasan tambahan, dan tidak lazim ditulis secara bertumpuk (murakkab). Huruf - hurufnya agak lebih lebar dan panjang serta ditambah dengan tanda - tanda syakal Tulisan ini adalah satu - satunya yang paling fleksibel , elastis dan mudah dibentuk untuk disesuaikan dengan tempat tanpa menhilangkan keasliannya.

6)      Riq’ah
Kaligrafi gaya Riq’ah merupakan hasil pengembangan kaligrafi gaya Naskhi dan Tsuluts. Sebagaimana halnya dengan tulisan gaya Naskhi yang dipakai dalam tulisan sehari-hari. Riq’ah dikembangkan oleh kaligrafer Daulah Usmaniyah, lazim pula digunakan untuk tulisan tangan biasa atau untuk kepentingan praktis lainnya. Karakter hurufnya sangat sederhana, tanpa harakat, sehingga memungkinkan untuk ditulis cepat.

7)      Diwani
Gaya kaligrafi Diwani dikembangkan oleh kaligrafer Ibrahim Munif. Kemudian, disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah dan kaligrafer Daulah Usmani di Turki akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Gaya ini digunakan untuk menulis kepala surat resmi kerajaan. Karakter gaya ini bulat dan tidak berharakat. Keindahan tulisannya bergantung pada permainan garisnya yang kadang-kadang pada huruf tertentu meninggi atau menurun, jauh melebihi patokan garis horizontalnya. Model kaligrafi Diwani banyak digunakan untuk ornamen arsitektur dan sampul buku.

8)      Diwani Jali
Kaligrafi gaya Diwani Jali merupakan pengembangan gaya Diwani. Gaya penulisan kaligrafi ini diperkenalkan oleh Hafiz Usman, seorang kaligrafer terkemuka Daulah Usmani di Turki. Anatomi huruf Diwani Jali pada dasarnya mirip Diwani, namun jauh lebih ornamental, padat, dan terkadang bertumpuk-tumpuk. Berbeda dengan Diwani yang tidak berharakat, Diwani Jali sebaliknya sangat melimpah. Harakat yang melimpah ini lebih ditujukan untuk keperluan dekoratif dan tidak seluruhnya berfungsi sebagai tanda baca. Karenanya, gaya ini sulit dibaca secara selintas. Biasanya, model ini digunakan untuk aplikasi yang tidak fungsional, seperti dekorasi interior masjid atau benda hias.

9)      Moalla
Walaupun belum cukup terkenal, gaya kaligrafi Moalla merupakan gaya yang tidak standar, dan tidak masuk dalam buku panduan kaligrafi yang umum beredar. Meski tidak begitu terkenal, kaligrafi ini masih masuk dalam daftar jenis-jenis kaligrafi dalam wikipedia Arab, tergolong bagian kaligrafi jenis yang berkembang di Iran. Kaligrafi ini diperkenalkan oleh Hamid Ajami, seorang kaligrafer kelahiran Teheran.

2.2 Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Keras
      Produk kerajinan sangat beraneka ragam. Berikut ini contoh produk kerajinan dari bahan keras.
a.        Kerajinan Logam
Kerajinan logam menggunakan bahan logam seperti besi, perunggu, emas, perak, dan lain-lain. Teknik yang digunakan biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Bahan logam banyak dibuat sebagai perhiasan atau aksesoris, kemudian berkembang pula sebagai benda hias dan benda fungsional lainnya, seperti: gelas, kap lampu, perhiasan, wadah serbaguna bahkan sampai piala sebagai simbol kejuaraan. Logam memiliki sifat keras, sehingga dalam pengolahannya memerlukan teknik yang tidak mudah, seperti diolah dengan teknik bakar/pemanasan dan tempa.

b.        Kerajinan Kayu
Negara Indonesia merupakan daerah tropis yang sebagian besar wilayahnya diisi oleh lautan dan juga hutan. Hutan yang tersebar di banyak tempat di Indonesia tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi para perajin. Karya kerajinan ukir kayu adalah karya kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kerajinan ukiran memang lebih banyak menggunakan bahan baku kayu sebagai bahan utamanya. Kayu yang biasanya digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka, dan lain-lain.

c.        Kerajinan Bambu
Bambu dapat dijadikan berbagai produk kerajinan yang bernilai estetis dan ekonomi tinggi. Sejak ratusan tahun lalu, orang Indonesia telah menggunakan bambu untuk berbagai kebutuhan, mulai dari yang paling sederhana sampai yang rumit. Sampai saat ini, bambu masih digunakan untuk keperluan tersebut. Bahkan saat ini, produk kerajinan bambu tampil dengan desain lebih menarik dan artistik. Beberapa teknik dalam pembuatan kerajinan bahan alam dari bambu adalah teknik anyaman dan teknik tempel atau sambung. Anyaman Indonesia sangat dikenal di mancanegara dengan berbagai motif dan bentuk yang menarik.

d.        Kerajinan Rotan
Rotan merupakan hasil kekayaan alam yang sangat besar di Indonesia. Pulau yang paling banyak menghasilkan rotan adalah Kalimantan. Tumbuhan rotan bersifat kuat dan lentur sehingga sangat cocok sebagai benda kerajinan dengan teknik anyaman. Contoh produk kerajinan dari bahan rotan banyak digunakan pada meja kursi, almari, tempat makanan, dan lain-lain.

e.        Kerajinan Batu
Indonesia sangat kaya dengan bebatuan, jenisnya beraneka ragam. Daerah Kalimantan merupakan penghasil batu warna yang dinilai sangat unik. Banyak daerah di Indonesia menjadikan bebatuan warna sebagai produk kerajinan seperti: aksesoris pelengkap busana, juga sebagai penghias benda. Batu hitam yang keras dan batu padas berwarna putih/cokelat yang lunak banyak dimanfaatkan untuk produk kerajinan. Teknik pengolahan untuk batu hitam dan batu padas banyak menggunakan teknik pahat dan teknik ukir. Kerajinan batu banyak digunakan untuk hiasan interior dan eksterior.

f.         Kerajinan Kaca Serat (Fiberglass)
Kaca serat (fiberglass) adalah serat gelas berupa kaca cair yang ditarik menjadi serat tipis. Serat ini dapat dipintal menjadi benang atau ditenun menjadi kain, kondisi sudah siap pakai. Kemudian, diresapi dengan resin sehingga menjadi bahan yang kuat dan tahan korosi. Oleh sebab, itu fiberglass biasa digunakan sebagai badan mobil dan bangunan kapal. Dia juga digunakan sebagai agen penguat untuk banyak produk plastik. Kerajinan fiberglass membutuhkan beberapa campuran dalam proses pembuatannya. Campuran fiberglass terdiri atas cairan resin (minyak resin bahan dasarnya minyak bumi dan residu), katalis, met atau serat fiber, polish atau sabun krim silicon untuk membuat cetakan, serta talk untuk memekatkan warna. Proses pembuatan perlu perbandingan agar memperoleh hasil yang baik. Jika zat cair (resin dan katalis) dicampur, akan bereaksi dari cair berubah menjadi padat dan keras, serta berwarna bening mengilap. Berikut contoh kerajinan dari fiberglass.

2.3 Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Keras
Benda pakai, adalah karya kerajinan yang diciptakan mengutamakan fungsinya. Unsur  keindahannya hanyalah sebagai pendukung.
Benda hias, adalah karya kerajinan yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini  lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya.

2.4 Unsur Estetika dan Ergonomis Produk Kerajinan dari Bahan Keras
Pembuatan produk kerajinan harus memperhatikan unsur estetika dan ergonomis.
a.            Unsur Estetika
Unsur   estetika   sering   kita   kenal   dengan   istilah   keindahan. Keindahan   adalah   nilai-nilai   estetis   yang   menyertai   sebuah karya   seni.   Keindahan   juga   diartikan   sebagai   pengalaman estetis  yang  diperoleh  ketika  seseorang  mencerap  objek  seni atau dapat pula dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan. Nilai-nilai keindahan (estetik) atau keunikan karya seni memiliki prinsip: kesatuan (unity), keselarasan (harmoni), keseimbangan (balance),    dan    kontras    (contrast)    sehingga    menimbulkan perasaan haru, nyaman, nikmat, bahagia, agung, ataupun rasa senang.

b.            Unsur Ergonomis
Unsur   ergonomis   karya   kerajinan   selalu   dikaitkan   dengan aspek  fungsi  atau  kegunaan.    Adapun  unsur  ergonomis  karya kerajinan adalah seperti berikut:
·         Keamanan   (security)   yaitu   jaminan   tentang   keamanan orang menggunakan produk kerajinan tersebut.
·         Kenyamanan   (comfortable),   yaitu   kenyamanan   apabila produk  kerajinan  tersebut  digunakan.  Barang  yang  enak digunakan disebut barang terap. Produk kerajinan terapan adalah  produk  kerajinan  yang  memiliki  nilai  praktis  yang tinggi.
·         Keluwesan    (flexibility),    yaitu    keluwesan    penggunaan. Produk  kerajinan  adalah  produk  terap/pakai,  yaitu  produk kerajinan  yang  wujudnya  sesuai  dengan  kegunaan  atau terapannya.  Produk  terap/pakai  dipersyaratkan  memberi kemudahan   dan   keluwesan   penggunaan   agar   pemakai tidak mengalami kesulitan dalam penggunaannya.

2.5 Kerajinan Bahan Baku Alami Batu
Kali ini saya ingin membahas macam-macam kerajinan dari bahan dasar batu. Disini saya akan menjelaskan tentang kerajinan bahan dasar batu untuk benda pakai dan benda hias, yakni:
1)      Hias
Disini, saya mengambil contoh untuk benda hias dari bahan dasar batu, yaitu Cara Membuat Patung Batu Resin.

Banyak cara membuat patung (juga relief) batu cetak yang bisa dilakukan, setiap pembuat patung memiliki cara masing-masing. Bahan 'batu' yang digunakan juga berbeda-beda. Yang akan saya sampaikan disini adalah cara membuat batu cetak dengan bahan resin atau sering disebut batu fiber.
Prinsip dan tujuan pembuatan patung batu cetak adalah membuat "patung batu" menggunakan teknik cetak supaya waktu penyelesaian bisa lebih cepat dengan bentuk yang tidak berubah alias bentuknya sama. Sehingga teknik ini cocok untuk membuat reproduksi patung batu dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, untuk melayani pesanan pembuatan patung batu dengan kuantitas atau jumlah besar.
Teknik membuat patung batu inilah yang banyak diaplikasi oleh pengrajin patung batu di Borobudur, Muntilan, Prambanan, juga di Bantul Jogja untuk membuat patung Buddha, relief Candi Borobudur dan Prambanan, replika stupa, replika candi dan patung dewa Hindu - Buddha.

Bahan yang digunakan:
·         Serbuk atau Mill Batu. Mill batu adalah batu yang sudah digiling menjadi serbuk batu. Jadi bahan utamanya tetap batu (bukan semen atau pasir).
·         Resin. Bahan resin berfungsi untuk mengikat serbuk batu sehingga bisa disatukan menjadi bentuk tertentu.
·         Talk bubuk (talc powder). Talk digunakan sebagai bahan finishing.
·         Cairan Katalis untuk membuat semua komponen bahan menjadi 'bekerja'. Dalam hal ini patung yang dicetak menjadi kering.
·         Cobalt sebagai akselerator mempercepat pengeringan.
·         MAA untuk melapisi permukaan cetakan.
·         Fiberglass Mat untuk tulangan/perkuatan.

Alat yang digunakan:
·         Cetakan. Bisa terbuat dari silikon, resin fiber, sealant, atau cetakan yang lain.
·         Sarungtangan
·         Masker
·         Kayu dan alas untuk mencampur adonan.
·         Kuas
·         Sikat
·         pisau dan sejenisnya.
Proses dan Cara membuat:
Proses mencetak:
·         Siapkan cetakan. Dalam penjelasan cara membuat batu cetak ini kita akan menggunakan cetakan silikon. Cetakan silikon kita pilih karena memiliki banyak keunggulan.
·         Bersihkan permukaan cetakan dengan kuas atau sikat lembut secara perlahan supaya tidak sampai cacat. Dengan menggunakan kuas, olesi permukaan cetakan dengan MAA supaya nantinya cetakan tidak lengket atau mudah dilepas.
·         Buat adonan / campuran bahan untuk isian patung (cor) dengan komposisi, 1 bagian resin dan 5 bagian mill. Untuk membuat patung batu hitam (batu candi) gunakan mill batu hitam dan untuk patung batu putih gunakan mill batu putih.
·         Untuk memulai, tambahkan cairan katalis secukupnya lalu aduk adonan mill dan resin sampai benar-benar tercampur.
·         Prinsip pemakaian katalis adalah semakin banyak katalis, semakin cepat kering adonannya. Perlu latihan berulang-ulang supaya menemukan takaran dan tekanan saat mencampur dengan pas. Resin memiliki sifat plastik, sehingga terlalu banyak resin, permukaan patung  yang dihasilkan akan terlihat mengkilat, sebaliknya terlalu sedikit resin dan terlalu lemah mengaduk, membuat patung mudah patah (bhs.jawa- mripil).
·         Isikan adonan resin dan mill kedalam cetakan. Masukkan dengan tangan dengan hati-hati dan teliti supaya semua bagian cetakan terisi.
·         Gunakan bahan penguat atau tulangan untuk bentuk-bentuk rawan atau yang berukuran besar supaya nantinya patung tidak mudah patah. Bisa gunakan fiberglass mat, besi, atau bahan yang lain.
·         Untuk mempercepat pengeringan, bisa digunakan cairan cobalt (dicampurkan saat membuat adonan).
·         Diamkan, tunggu sampai kering dan keluarkan hasil cetakan patung dari cetakan.

Proses Revisi dan Finishing:
·         Ketidakrapian saat menyiapkan cetakan dan mengisikan adonan kedalam cetakan biasanya akan membuat patung hasil cetakan tidak rapi. Garis cetakan terekam terlihat jelas, banyak lubang dan banyak sisa kotoran adonan yang mengering dan menempel pada patung. Untuk itu diperlukan proses revisi untuk merapikan. Gunakan kuas, sikat, pisau atau apa saja yang bisa digunakan.
·         Patung yang baru keluar dari cetakan memiliki warna hitam kelam (warna batu basah). Untuk membuat patung nampak seperti patung batu alam yang asli, taburkan bubuk talk ke seluruh permukaan patung.
·         Patung batu cetak telah selesai dibuat. Untuk kelengkapannya, biasanya ditambahkan alas karet (rubber pad) pada bagian alas.
Catatan Penting:
·         Gunakan masker dan sarung tangan karena bahan adonan resin dan mill batu mengeluarkan bau menyengat dan apabila terlalu lama bersentuhan dengan kulit mengakibatkan iritasi.
·         Fiberglass mat kalau bersentuhan langsung dengan kulit akan menyebabkan rasa gatal.

Alat dan Bahan :
-          Batu Herbal
-          Pahat atau Obeng
-          Cat

Proses pembuatan
1.      Kita harus menyiapkan alat-lalat dan bahan yang di perlukan.
2.      Siap kan sebuah batu herbal yang sudah di potong sesuai bentuk yang di ingin kan.
3.      Buatkan sketsa di atas batu tersebut agar dapat mempermudah proses pembentukan gambar.
4.      Setelah itu gunakan pahat atau  bisa juga menggunakan obeng untuk mengukir bentuk dari sketsa tadi.
5.      Bagian yang telah di beri gambar biar kan seperti bentuk semula.
6.      Lalu Bagian yg di pahat atau di keruk yaitu bagian dasar dari sketsa.
7.      Setelah itu Bentuk dan ukir dengan perlahan agar tidak mengenai gambar.
8.      Setelah proses pembuatan gambar selesai.
9.      Lalu amplas permukaan dasar agar menjadi halus.
10.  Kemudian cat bentuk sketsa yang telah kita buat tadi.
11.  Bisa menggunakan cat tembok ataupun cat kayu.
12.  Cat hingga merata tapi, berikan warna yang berbeda pada dasar gambar agar lebih terlihat jelas bentuk ukiran nya.
13.  Setelah itu jemur batu tersebut hingga cat nya mengering, jika sudah kering berikan lubang di bangian belakang batu untuk menggantung batu kaligrafi tersebut.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dengan makalah ini banyak manfaat yang bisa diambil seperti untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang kerajinan dari bahan keras. Untuk mengetahui aspek apa saja yang diperlukan dalam memasarkan produk kerajinan yang dibuat. Fungsi kerajinan kali grafi dari batu sangat banyak diminati oleh para konsumennya. Maka itu kerajinan kali grafi dari batu merupakan produksi kerajinan yang sangat fungsional.

3.2 Saran
Kita sudah mengetahui bagaimana rumah kerajinan produksi kali grafi dari batu itu berjalan. Dengan hal itu kita bisa lebih mengeksplorasi dan mengetahui bagaimana cara mereka bekerja. Kita juga bisa memulai atau mengancang-ancang jika kita ingin membuat produksi kerajinan yang sama.

























No comments:

Post a Comment