KUMPULAN MAKALAH : BAB II EFEKTVITAS HBsAg RAPID SCREENING TEST UNTUK MENDETEKSI DINI PENYAKIT HEPATITIS B

Tuesday, June 2, 2026

BAB II EFEKTVITAS HBsAg RAPID SCREENING TEST UNTUK MENDETEKSI DINI PENYAKIT HEPATITIS B

 

2.1     Struktur Virus Hepatitis B

Virus hepatitis B tergolong dalam hepadna virus, yaitu virus hepatitis DNA, yaitu kelompok virus yang mengandung DNA beruntai ganda dan hanya menyerang sel hati. Virus hepatitis B mempunyai bentuk pleomorfik yang terdiri dari tiga jenis partikel, yaitu partikel bulat kecil (bola) dengan diameter 22 nm, partikel oval (tubulus) dengan diameter hampir 22 nm, dan partikel bulat besar bercangkang ganda. diameter 42 dst. Partikel berbentuk bola dan tabung kemungkinan berasal dari lapisan luar berlebih. Virus hepatitis B adalah virus DNA terkecil. Partikel HBsAg tersusun dari lipoprotein, asam amino (terutama leusin), lipid, karbohidrat, kolesterol, dan triptofan. HBsAg terdapat dalam tiga bentuk yaitu HBsAg virion envelope (partikel Dane) dan dua partikel HBsAg non-virion yaitu partikel bulat dan tubular, seperti terlihat pada Gambar 2. HBsAg terdiri dari tiga jenis protein yaitu protein kecil (SHB) dan protein sedang. . protein. (MHBs) dan protein besar (LHBs) (Waugh et al., 2014).

 

2.2     Penyakit Hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV), anggota keluarga hepadna virus, yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau kronis, yang pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati. Virus ini tidak menyebar melalui makanan atau kontak biasa, namun dapat menyebar melalui darah atau cairan tubuh yang terinfeksi. Saat melahirkan, anak bisa tertular dari ibunya. Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui aktivitas seksual, penggunaan jarum suntik berulang kali, dan transfusi darah yang mengandung virus. Pertama kali dikenal sebagai "hepatitis serum", penyakit ini menjadi epidemi di beberapa bagian Asia dan Afrika. Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan beberapa negara Asia (Ryan, 2016).

Infeksi hepatitis B dapat dicegah dengan vaksinasi, yaitu suntikan yang membuat tubuh kebal terhadap penyakit tersebut. Namun vaksinasi hanya memberikan perlindungan maksimal sekitar 90 persen dan tidak sepenuhnya menghilangkan risiko infeksi. Beberapa orang yang terkena virus ini dapat mengatasinya dengan cepat. Kebanyakan dari mereka terinfeksi seumur hidup. Biasanya gejalanya hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Terkadang hati rusak parah sehingga menyebabkan gagal hati. Gejala umum gagal hati adalah penyakit kuning, yaitu kulit dan mata penderita menjadi kuning karena zat yang diproduksi hati tidak disaring atau dikeluarkan. Masalah lainnya adalah hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati (Dienstag, 2018).

Tes darah dapat mendeteksi tanda-tanda kerusakan hati. Jika pasien mengalami gejala-gejala tersebut, pengobatan hepatitis B dapat mencegah kerusakan hati akibat virus. Pengobatan antivirus dilakukan untuk mencegah virus berkembang biak dengan cara menggandakan dirinya sendiri. Namun begitu virus sudah tertanam, mustahil untuk menghapusnya sepenuhnya (Zuckerman, 2016).

 

2.3     Epidemiologi Penyakit Hepatitis B

Status Umum: Presiden Persatuan Pengkajian Liver Indonesia (PPHI), Profesor Dr. Laurentius A Lesmana mengungkapkan, prevalensi hepatitis B di Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Total pasiennya sebanyak 13,3 juta orang. Berdasarkan data Profil Kesehatan Provinsi (Suplemen) tahun 2003, Indonesia mempunyai 6.654 kasus hepatitis B, sedangkan Sumatera Barat 649 kasus, urutan ketiga setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur, Indonesia adalah China (123,7 juta) dan India (30 -50 juta). ketiga setelah ) setelah Prevalensinya di Indonesia sebesar 5-10% (Sastrawinata, 2008).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), prevalensi antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) di Indonesia tinggi pada tahun 2008, lebih dari 8% pada tahun 2006. Diperkirakan sekitar 25 hingga 40 persen penderita hepatitis B akut berisiko tinggi terkena sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Lebih dari 4 juta kasus infeksi HBV akut terjadi setiap tahunnya, dan sekitar 25% di antaranya meninggal setiap tahun akibat hepatitis kronis aktif, sirosis, atau kanker hati. Oleh karena itu, para peneliti ingin menemukan metode cepat untuk tes skrining primer guna mempelajari hepatitis B secara akurat dan dengan biaya yang relatif rendah untuk deteksi dini (WHO, 2022).

 

2.4     Pemeriksaan Hepatitis B

1.              Metode ELISA

Diagnosis laboratorium hepatitis B dengan metode ELISA, studi laboratorium intensif HBV menemukan temuan di klinik dan laboratorium. Data di atas (penanda serologis) mengandung variabel yang sering dipantau. Tes yang sangat sensitif juga telah dikembangkan secara luas untuk memastikan diagnosis hepatitis B pada kasus ringan, subklinis, atau persisten. Salah satunya adalah penelitian yang menurut WHO tergolong generasi ketiga atau ELISA. ELISA dianggap sebagai tes dengan spesifisitas dan sensitivitas tinggi yang dapat mendukung diagnosis klinis hepatitis B (Handojo, 2004).

ELISA adalah metode yang digunakan untuk mengukur kadar antigen atau antibodi dalam media cair (misalnya serum atau organ yang dicairkan/dilarutkan). Metode ELISA digunakan untuk mengukur kadar HBsAg dalam serum pasien. Ikatan antigen-antibodi dibaca melalui reaksi enzimatik, sehingga intensitas warna larutan dapat berubah. Intensitas warna ini kemudian diukur dengan ELISA reader. Prinsip penelitian ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay) adalah reaksi antigen-antibodi (Ag-Ab), dimana terjadi perubahan warna setelah penambahan konjugat, yaitu. antigen atau antibodi yang diberi label enzim dan substrat. Intensitas perubahan warna ini diukur dengan alat pembaca yang disebut spektrofotometer atau ELISA reader yang menggunakan panjang gelombang tertentu (Handojo, 2014).

2.              Metode Rapid Tes

Tes diagnostik cepat (RDT) adalah tes sekali pakai yang tersedia dalam format sederhana dan umumnya tidak memerlukan reagen selain yang disertakan dalam kit tes. Mereka dibaca secara visual dan dapat memberikan hasil kualitatif sederhana dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena kesederhanaannya, biayanya, dan waktu penyelesaiannya yang cepat, tindakan ini dapat dilakukan oleh orang awam yang terlatih atau profesional kesehatan. Oleh karena itu, RDT berkualitas tinggi sangat berguna dalam situasi di mana layanan pengujian berbasis laboratorium konvensional tidak tersedia (WHO, 2017).

Tes HBsAg (serum/plasma) merupakan tes langsung untuk pemeriksaan kualitatif keberadaan HBsAg dalam sampel serum atau plasma. Tes ini menggunakan kombinasi antibodi monoklonal dan poliklonal untuk mendeteksi peningkatan kadar HBsAg dalam serum atau plasma. Prinsipnya HBsAg pada sampel berikatan dengan konjugat koloid emas anti-HBs, membentuk kompleks yang bergerak melalui membran area uji yang dilapisi anti-HBs. Kemudian terjadi reaksi sehingga membentuk garis ungu yang menunjukkan hasil positif (Suharjo, 2021).

Keuntungan rapid tes sebagai berikut:

a.       Dapat diakses di tingkat terendah dari sistem perawatan kesehatan (termasuk komunitas pengaturan)

b.      Tidak secara khusus membutuhkan fasilitas laboratorium

c.       Bisa dilakukan dengan dilatih penyedia awam dan perawatan kesehatan pekerja, serta laboratorium teknisi

d.      Bisa digunakan dengan kurang invasive Spesimen yang tidak dibutuhkan venepuncture seperti seluruh darah kapiler atau oral cairan

e.       Jika pengujian pada atau mendekati titik perawatan, hasil hari yang sama mungkin, yang bisa mengurangi jumlah individu yang ada hilang untuk menindaklanjuti dan karena itu tidak menerima hasil tes mereka

f.       Perangkat bisa disimpan di 2-30 ° C


refrensi :

 

Cecep Waugh, Anne dan Grant, Allison, Ross and Wilson. 2004. Anatomy and Physiology in Health and Illness, Churchill Livingstone. British; hal 317

Dienstag, J. L. (2008). "Hepatitis B Virus Infection". New England Journal of Medicine 359 (14): 1486–1500. doi:10.1056/NEJMra0801644. PMID 18832247.

Handojo dan Indro.2004. Immunoassai Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya : Airlangga University Press.

Lin YH, Wang Y, Loua A, Day GJ, Qiu Y, Allain JP, et al. 2008. Evaluation of a new hepatitis B virus surface antigen rapid test with improved sensitivity. J Clin Micobiol. 46(10):3319.

Maylin S , Tianbin C, Lin J, Chen H,Chen J, Lin S, etal. 2012. Evaluation of the performance off ourmet hods for detection of hepatitis B surfaceantigen and their application fortesting 116,455 specimens. J Virol Methods.

Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (4th ed. ed.). McGraw Hill. pp. pp. 544–51. ISBN 0-8385-8529-9. Diakses pada tanggal 5 juni 2017.

Sastrawinata, Ucke Sugeng. 2008. Virologi Manusia. Bandung: Penerbit PT Alumni

World Health Organization. 2002. Hepatitis B. Tersedia dari: URL Diakses pada tanggal 17 November 2014.

World Health Organization. 2017. Guidelines On Hepatitis B and C Testing. Tersedia dari: URL Diakses pada tanggal 17 November 2014.

Zuckerman AJ (1996). Hepatitis Viruses. In: Baron's Medical Microbiology (Baron S et al, eds.) (4th ed. ed.). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.

Penulis :
Ariska Nurfadilah 

No comments:

Post a Comment