2.1 Struktur Virus Hepatitis B
Virus
hepatitis B tergolong dalam hepadna virus, yaitu virus hepatitis DNA, yaitu
kelompok virus yang mengandung DNA beruntai ganda dan hanya menyerang sel hati.
Virus hepatitis B mempunyai bentuk pleomorfik yang terdiri dari tiga jenis
partikel, yaitu partikel bulat kecil (bola) dengan diameter 22 nm, partikel
oval (tubulus) dengan diameter hampir 22 nm, dan partikel bulat besar
bercangkang ganda. diameter 42 dst. Partikel berbentuk bola dan tabung
kemungkinan berasal dari lapisan luar berlebih. Virus hepatitis B adalah virus
DNA terkecil. Partikel HBsAg tersusun dari lipoprotein, asam amino (terutama
leusin), lipid, karbohidrat, kolesterol, dan triptofan. HBsAg terdapat dalam
tiga bentuk yaitu HBsAg virion envelope (partikel Dane) dan dua partikel HBsAg
non-virion yaitu partikel bulat dan tubular, seperti terlihat pada Gambar 2.
HBsAg terdiri dari tiga jenis protein yaitu protein kecil (SHB) dan protein
sedang. . protein. (MHBs) dan protein besar (LHBs) (Waugh et al., 2014).
2.2 Penyakit Hepatitis B
Hepatitis
B adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV), anggota
keluarga hepadna virus, yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau
kronis, yang pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker
hati. Virus ini tidak menyebar melalui makanan atau kontak biasa, namun dapat
menyebar melalui darah atau cairan tubuh yang terinfeksi. Saat melahirkan, anak
bisa tertular dari ibunya. Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui aktivitas
seksual, penggunaan jarum suntik berulang kali, dan transfusi darah yang
mengandung virus. Pertama kali dikenal sebagai "hepatitis serum",
penyakit ini menjadi epidemi di beberapa bagian Asia dan Afrika. Hepatitis B
telah menjadi endemik di Tiongkok dan beberapa negara Asia (Ryan, 2016).
Infeksi
hepatitis B dapat dicegah dengan vaksinasi, yaitu suntikan yang membuat tubuh
kebal terhadap penyakit tersebut. Namun vaksinasi hanya memberikan perlindungan
maksimal sekitar 90 persen dan tidak sepenuhnya menghilangkan risiko infeksi.
Beberapa orang yang terkena virus ini dapat mengatasinya dengan cepat.
Kebanyakan dari mereka terinfeksi seumur hidup. Biasanya gejalanya hanya
sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Terkadang hati rusak parah sehingga
menyebabkan gagal hati. Gejala umum gagal hati adalah penyakit kuning, yaitu
kulit dan mata penderita menjadi kuning karena zat yang diproduksi hati tidak
disaring atau dikeluarkan. Masalah lainnya adalah hepatitis B dapat menyebabkan
kanker hati (Dienstag, 2018).
Tes
darah dapat mendeteksi tanda-tanda kerusakan hati. Jika pasien mengalami
gejala-gejala tersebut, pengobatan hepatitis B dapat mencegah kerusakan hati
akibat virus. Pengobatan antivirus dilakukan untuk mencegah virus berkembang
biak dengan cara menggandakan dirinya sendiri. Namun begitu virus sudah
tertanam, mustahil untuk menghapusnya sepenuhnya (Zuckerman, 2016).
2.3 Epidemiologi Penyakit Hepatitis B
Status
Umum: Presiden Persatuan Pengkajian Liver Indonesia (PPHI), Profesor Dr.
Laurentius A Lesmana mengungkapkan, prevalensi hepatitis B di Indonesia
sebenarnya cukup tinggi. Total pasiennya sebanyak 13,3 juta orang. Berdasarkan
data Profil Kesehatan Provinsi (Suplemen) tahun 2003, Indonesia mempunyai 6.654
kasus hepatitis B, sedangkan Sumatera Barat 649 kasus, urutan ketiga setelah
DKI Jakarta dan Jawa Timur, Indonesia adalah China (123,7 juta) dan India (30
-50 juta). ketiga setelah ) setelah Prevalensinya di Indonesia sebesar 5-10%
(Sastrawinata, 2008).
Menurut
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), prevalensi antigen permukaan
hepatitis B (HBsAg) di Indonesia tinggi pada tahun 2008, lebih dari 8% pada
tahun 2006. Diperkirakan sekitar 25 hingga 40 persen penderita hepatitis B akut
berisiko tinggi terkena sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Lebih dari 4 juta
kasus infeksi HBV akut terjadi setiap tahunnya, dan sekitar 25% di antaranya
meninggal setiap tahun akibat hepatitis kronis aktif, sirosis, atau kanker
hati. Oleh karena itu, para peneliti ingin menemukan metode cepat untuk tes
skrining primer guna mempelajari hepatitis B secara akurat dan dengan biaya
yang relatif rendah untuk deteksi dini (WHO, 2022).
2.4 Pemeriksaan Hepatitis B
1.
Metode ELISA
Diagnosis
laboratorium hepatitis B dengan metode ELISA, studi laboratorium intensif HBV
menemukan temuan di klinik dan laboratorium. Data di atas (penanda serologis)
mengandung variabel yang sering dipantau. Tes yang sangat sensitif juga telah
dikembangkan secara luas untuk memastikan diagnosis hepatitis B pada kasus
ringan, subklinis, atau persisten. Salah satunya adalah penelitian yang menurut
WHO tergolong generasi ketiga atau ELISA. ELISA dianggap sebagai tes dengan
spesifisitas dan sensitivitas tinggi yang dapat mendukung diagnosis klinis
hepatitis B (Handojo, 2004).
ELISA
adalah metode yang digunakan untuk mengukur kadar antigen atau antibodi dalam
media cair (misalnya serum atau organ yang dicairkan/dilarutkan). Metode ELISA
digunakan untuk mengukur kadar HBsAg dalam serum pasien. Ikatan
antigen-antibodi dibaca melalui reaksi enzimatik, sehingga intensitas warna
larutan dapat berubah. Intensitas warna ini kemudian diukur dengan ELISA
reader. Prinsip penelitian ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay) adalah
reaksi antigen-antibodi (Ag-Ab), dimana terjadi perubahan warna setelah
penambahan konjugat, yaitu. antigen atau antibodi yang diberi label enzim dan
substrat. Intensitas perubahan warna ini diukur dengan alat pembaca yang
disebut spektrofotometer atau ELISA reader yang menggunakan panjang gelombang
tertentu (Handojo, 2014).
2.
Metode Rapid Tes
Tes
diagnostik cepat (RDT) adalah tes sekali pakai yang tersedia dalam format
sederhana dan umumnya tidak memerlukan reagen selain yang disertakan dalam kit
tes. Mereka dibaca secara visual dan dapat memberikan hasil kualitatif
sederhana dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena kesederhanaannya, biayanya,
dan waktu penyelesaiannya yang cepat, tindakan ini dapat dilakukan oleh orang
awam yang terlatih atau profesional kesehatan. Oleh karena itu, RDT berkualitas
tinggi sangat berguna dalam situasi di mana layanan pengujian berbasis
laboratorium konvensional tidak tersedia (WHO, 2017).
Tes
HBsAg (serum/plasma) merupakan tes langsung untuk pemeriksaan kualitatif
keberadaan HBsAg dalam sampel serum atau plasma. Tes ini menggunakan kombinasi
antibodi monoklonal dan poliklonal untuk mendeteksi peningkatan kadar HBsAg
dalam serum atau plasma. Prinsipnya HBsAg pada sampel berikatan dengan konjugat
koloid emas anti-HBs, membentuk kompleks yang bergerak melalui membran area uji
yang dilapisi anti-HBs. Kemudian terjadi reaksi sehingga membentuk garis ungu
yang menunjukkan hasil positif (Suharjo, 2021).
Keuntungan
rapid tes sebagai berikut:
a. Dapat diakses di tingkat terendah dari
sistem perawatan kesehatan (termasuk komunitas pengaturan)
b. Tidak secara khusus membutuhkan fasilitas
laboratorium
c. Bisa dilakukan dengan dilatih penyedia
awam dan perawatan kesehatan pekerja, serta laboratorium teknisi
d. Bisa digunakan dengan kurang invasive
Spesimen yang tidak dibutuhkan venepuncture seperti seluruh darah kapiler atau
oral cairan
e. Jika pengujian pada atau mendekati titik
perawatan, hasil hari yang sama mungkin, yang bisa mengurangi jumlah individu
yang ada hilang untuk menindaklanjuti dan karena itu tidak menerima hasil tes
mereka
f. Perangkat bisa disimpan di 2-30 ° C
refrensi :
Cecep Waugh, Anne
dan Grant, Allison, Ross and Wilson. 2004. Anatomy
and Physiology in Health and Illness, Churchill Livingstone. British; hal 317
Dienstag, J. L. (2008). "Hepatitis B Virus Infection". New England Journal of Medicine 359 (14): 1486–1500. doi:10.1056/NEJMra0801644. PMID 18832247.
Handojo dan
Indro.2004. Immunoassai Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya :
Airlangga University Press.
Lin YH, Wang Y,
Loua A, Day GJ, Qiu Y, Allain JP, et al.
2008. Evaluation of a new hepatitis B
virus surface antigen rapid test with improved sensitivity. J Clin
Micobiol. 46(10):3319.
Maylin S , Tianbin
C, Lin J, Chen H,Chen J, Lin S, etal.
2012. Evaluation of the performance off
ourmet hods for detection of hepatitis B surfaceantigen and their application
fortesting 116,455 specimens. J
Virol Methods.
Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (4th ed. ed.). McGraw Hill. pp. pp.
544–51. ISBN 0-8385-8529-9. Diakses pada tanggal 5 juni 2017.
Sastrawinata, Ucke Sugeng. 2008. Virologi
Manusia. Bandung: Penerbit PT Alumni
World Health
Organization. 2002. Hepatitis B. Tersedia dari: URL Diakses pada tanggal 17 November 2014.
World Health
Organization. 2017. Guidelines On Hepatitis B and C Testing. Tersedia dari: URL Diakses pada tanggal 17 November 2014.
Zuckerman AJ
(1996). Hepatitis Viruses. In:
Baron's Medical Microbiology (Baron S et al, eds.) (4th ed. ed.). Univ of Texas
Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.
Penulis :
Ariska Nurfadilah
No comments:
Post a Comment