KUMPULAN MAKALAH : 06/02/26

Tuesday, June 2, 2026

BAB II PENGARUH KUALITAS PELAYANAN,KUALITAS PRODUK DAN PERSEPSI NILAI TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PRODUK KOSMETIK (JAFRA)

 

2.1     Landasan Teori

2.1.1 Kepuasan konsumen

        Menurut (Indrasari, 2019) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan perasaan senang yang muncul dari diri seseorang dikarenakan kebutuhan atau keinginannya dapat terpenuhi, kepuasan merupakan fungsi dari persepsi atau kesan atas kinerja dan harapan. Hal ini juga diperjelas oleh (Irawan, 2019) yang mengungkapkan kepuasan konsumen adalah suatu perasaan pelanggan sebagai respon terhadap produk barang atau jasa yang telah dikonsumsi.

        Kepuasan konsumen adalah tingkat kepuasan, keinginan, dan pengalaman positif yang dirasakan oleh pelanggan setelah menggunakan produk atau menerima layanan dari suatu perusahaan atau organisasi. Penting bagi perusahaan untuk memantau dan mengukur tingkat kepuasan konsumen secara teratur untuk mendapatkan wawasan tentang area di mana mereka dapat meningkatkan produk, layanan, atau proses bisnis mereka. Dengan fokus pada kepuasan konsumen, perusahaan dapat memperkuat hubungan dengan pelanggan, membangun merek yang kuat, dan tetap bersaing di pasar yang kompetitif (Ahyani, 2022).

 

2.1.1.1 Indikator Kepuasan Konsumen

        Menurut Hawkins dan Lonney dikutip dalam (Tjiptono, 2014:354), indikator pembentuk kepuasan pelanggan terdiri dari:

1.      Kesesuaian Harapan

Merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja jasa yang diharapkan oleh konsumendengan yang dirasakan oleh konsumen.

2.      Minat Berkunjung

Kembali Merupakan kesediaan konsumen untuk berkunjung kembali atau melakukan pemakaian ulang terhadap jasa terkait.

3.      Kesediaan Merekomendasikan

Merupakan kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan jasa yang telah dirasakan kepada teman dan keluarga.

2.1.2 Kualitas Pelayanan

        Menurut Kotler dan Keller (2012) menyatakan kualitas pelayanan adalah totalitas fitur dan karakteristik dari suatu produk atau jasa yang menanggung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Sedangkan menurut Tjiptono (2008) bahwa kualitas pelayanan adalah sebagai ukuran seberapa bagus tingkat pelayanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan.

         Berdasarkan definisi dari beberapa para ahli diatas mengenai kualitas pelayanan maka dapat di tarik beberapa pokok pikiran penting yaitu setiap kegiatan / tidakan yang di berikan atau ditawarkan kepada pelanggan pada dasarnya tidak berwujud dan apabila kebutuhan pelanggan dapat terpenuhi maka dapat memberikan kepuasan bagi pelanggan.

 

2.1.2.1 Indikator Kualitas Pelayanan

Terdapat 3 indikator Kualitas Pelayanan yang lebih umum digunakan adalah yang diungkapkan oleh Kotler dan Keller (2012) :

1.         Bukti Fisik (Tangibles) berupa penampilan pegawai dan daya tarik fasilitas, peralatan, dan material perusahaan.

2.         Empati, fakta bahwa bisnis memahami masalah yang dihadapi kliennya dan bertindak demi kepentingan terbaik mereka, layanan pelanggan individual, dan jam kerja yang nyaman.

3.         Kemampuan karyawan untuk membantu pelanggan dan menanggapi permintaan mereka, serta memberi tahu pelanggan kapan layanan akan diberikan dan kemudian memberikan layanan tersebut dengan cepat, merupakan contoh sikap tanggap. Memastikan (Konfirmasi), cara berperilaku pekerja dapat mengembangkan kepercayaan klien terhadap organisasi dan organisasi dapat menimbulkan perasaan bahwa segala sesuatunya baik bagi kliennya. Selain itu, jaminan ini menetapkan bahwa karyawan akan selalu bersikap sopan dan memiliki pengetahuan serta kemampuan yang diperlukan untuk mengatasi masalah atau pertanyaan apa pun yang diajukan pelanggan.

 

2.1.3 Kualitas Produk

          Menurut Tjiptono & Chandra (2017) menjelaskan bahwa produk ialah sesuatu yang ditawarkan kepada konsumen yang dapat berupa barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang kemudian dapat digunakan atau dirasakan oleh pelanggan.         

          Kualitas produk adalah kemampuan pada suatu produk yang dapat memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan, bahkan dapat melebihi harapan pelanggan (Tjiptono & Chandra, 2016). Apabila produk jasa yang ditawarkan memiliki kualitas yang lebih rendah dari harapan pelanggan, maka pelanggan akan merasa tidak puas, namun apabila produk jasa yang ditawarkan memiliki kualitas yang sama dengan apa yang diharapkan, maka pelanggan akan merasa puas (Tjiptono & Diana, 2018)

 

2.1.3.1 Indikator Kualitas Produk

Menurut Tjiptono & Chandra (2017) indicator kualitas produk sebagai berikut:

1.         Kualitas Eksekusi adalah evaluasi yang berhubungan dengan bagaimana suatu item dapat diperkenalkan dan ditampilkan kepada klien. Fitur dasar produk, seperti dimensi kinerja kosmetik Oriflame, atau kualitas hasil setelah penggunaan, akan menjadi fokus utama pada tingkat evaluasi.

2.         Highlights adalah atribut item yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan atau meningkatkan minat pembeli terhadap item tersebut.

3.         Kesesuaian dengan Spesifikasi, atau sejauh mana karakteristik operasional mendasar suatu produk memenuhi spesifikasi konsumen tertentu atau bebas dari cacat.

4.         Kekokohan, berkaitan dengan berapa lama barang tersebut dipakai. Kehidupan ekonomi dan teknis termasuk dalam dimensi ini.

5.         Minat konsumen sangat dipengaruhi oleh keandalan, atau tingkat keandalan dan konsistensi suatu produk di seluruh proses produksi dan pemrosesan. Minat pelanggan dan cara mendapatkan kepercayaan mereka terkait erat dengan keandalan.

6.         Keterlaksanaan, termasuk kecepatan, keterampilan, kenyamanan, perbaikan sederhana, dan penanganan keluhan yang baik. Layanan yang diberikan tidak terbatas pada sesaat sebelum transaksi, namun juga selama siklus bisnis hingga setelah transaksi, yang juga mencakup layanan perbaikan dan aksesibilitas suku cadang yang diperlukan.

7.         Daya tarik produk terhadap panca indera merupakan contoh estetika. Misalnya keunggulan item plan, keunikan model item, dan perpaduannya.

8.         Persepsi konsumen terhadap kualitas atau keunggulan suatu produk secara keseluruhan dikenal dengan istilah persepsi kualitas. Seringkali, karena pembeli tidak mengetahui banyak tentang fitur atau karakteristik produk yang ingin mereka beli, mereka menilai kualitasnya berdasarkan harga, iklan, reputasi perusahaan, dan negara produsen.

 

2.1.4 Persepsi Nilai

           Menurut Kotler dan Keller (2012) Customer-Perceived Value (CPV) adalah selisih antara evaluasi pelanggan dari semua manfaat yang dirasakan dan semua biaya yang di keluarkan.

          Sedangkan menurut Best dalam Sumarwan (2010) nilai pelanggan merupakan benefit yang diperolah pelanggan dikurangi biaya pembelian. Jadi dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi nilai, nilai pelanggan atau customer value adalah selisih antara manfaat yang diperoleh customer dari suatu produk atau jasa dengan upaya dan pengorbanan yang dilakukannya untuk bisa mendapatkan dan menggunakan produk itu.

2.1.4.2 Indikator Persepsi Nilai

          Menurut Sweeney dan Soutar (2004) seperti dikutip Adi (2013) indicator dari nilai pelanggan terdiri dari:

1.         Nilai emosional

adalah utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif (emosi positif) yang ditimbulkan dari konsumsi produk.

2.         Nilai sosial

adalah utilitas yang didapatkan dari kemampuan produk untuk meningkatkan konsep diri sosial konsumen.

3.         Nilai kualitas kinerja produk

adalah utilitas yang diperoleh dari persepsi terhadap kualitas atau kinerja yang diharapkan dari suatu produk.

4.         Harga atau nilai biaya

adalah utilitas yang didapatkan dari produk karena reduksi biaya jangka pendek dan jangka panjang.

 

2.2     Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian tentang pengaruh Pengaruh kualitas pelayanan,kualitas produk dan persepsi nilai terhadap kepuasan produk kosmetik JAFRA adalah sebagai berikut:

1.             Penelitian ini di lakukan oleh Setyo Ferry Wibowo,Iin Pusfita Sarih,Agung Kresna Murti dalam artikel yang berjudul “pengaruh persepsi kualitas pelayanan dan persepsi nilai terhadap kepuasan pelanggan “ Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) Vol.5,No.2,2014. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan persepsi kualitas pelayanan berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan konsumen, adanya pengaruh positif signifikan persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen, adanya pengaruh positif signifikan persepsi kualitas pelayanan dan persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen.

2.             Penelitian ini di lakukan oleh Ryan Ibnu Wijayanto;Erni Widiastuti dalam artikel yang berjudul “pengaruh kualitas pelayanan,kualitas produk dan promosi terhadap kepuasan pelanggan” jurnal Surakarta management journal Vol.3 No.2 desember 2021. ISSNOnline:2715-4637. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kualitas Pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Konsumen, dapat dikatakan bahwa hipotesis 1 pada penelitian ini dapat diterima, Kualitas Produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Konsumen, dapat dikatakan bahwa hipotesis 2 pada penelitian ini dapat diterima, dan Promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Konsumen dapat dikatakan bahwa hipotesis ke 3 pada penelitian ini dapat diterima. Selanjutnya Kualitas Pelayanan, Kualitas Produk dan Promosi Secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Konsumen dapat dikatakan bahwa hipotesis ke 4 pada penelitian ini dapat diterima

3.             Penelitian ini di lakukan oleh Mahira, Prasetyo Hadi , Heni Nastiti dalam artikel yang berjudul “Pengaruh kualitas produk dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan indihome” Jurnal Konferensi Riset Nasional Ekonomi, Manajemen, Dan Akuntansi Volume 2, 2021│hlm.1267-1283. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) Kualitas Produk berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan (2) Kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan.

4.             Penelitian ini di lakukan oleh  Muhammad Syahwi, Setyo Pantawis dalam artikel yang berjudul “Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Layanan, Citra perusahaan dan nilai pelanggan terhadap kepuasan pelanggan Indihome” Journal of Economics and Banking ISSN 2685-3698 Volume 3 No. 2 Oktober 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk, citra perusahaan dan nilai pelanggan berpengaruh positif dan signifikan. Sedangkan variabel kualita layanan tidak berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan. Variabel nilai pelanggan memberikan pengaruh yang paling dominan terhadap kepuasan pelanggan indihome di Kota Semarang.

5.             Penelitian ini di lakukan oleh  Eka Giovana Asti ; Eka Avianti Ayuningtyas dalam artikel yang berjudul “pengaruh kualitas pelayanan,kualitas produk dan harga terhadap kepuasan konsumen” jurnal ekonomi dan bisnis Volume 01 Issue 01 – Jan 2020, e-ISSN 2716-0238. Hasil dari penelitian menunjukkan ada pengaruh secara parsial antara Kualitas Pelayanan, Harga, terhadap Kepuasan Konsumen sedangkan Kualitas Produk tidak berpengaruh terhadap Kepuasan Konsumen pada Resto Oto Bento Villa Nusa Indah Uji thitung (signifikan korelasi ) untuk variabel Kualitas Pelayanan diperoleh nilai thitung= 5,953, variabel Kualitas Produk diperoleh nilai thitung = - 0,788 variabel Harga diperoleh nilai thitung = 4,089 sementara ttabel yang diperoleh mengunakan nilai alpa (α=5% diperoleh nilai sebesar = 1,664), nilai thitung variabel X1 dan X3 lebih besar dari pada nilai ttabel, H1 diterima dan H0 ditolak yang artinya terdapat pengaruh antara Kualitas Pelayanan dan Harga terhadap Kepuasan Konsumen pada Resto Oto Bento villa nusa indah, sedangkan nilai thitung variabel X2 lebih kecil daripada nilai ttabel, H1 ditolak dan H0 diterima yang artinya tidak terdapat pengaruh antara Kualitas Produk terhadap Kepuasan Konsumen pada Resto Oto Bento villa nusa.

6.             Penelitian ini di lakukan oleh Shilfa Firizkia Pebriany, Eddy Syah Yahya, Rafiati Kania dalam artikel yang berjudul “Analisis pengaruh Kualitas layanan elektonik,dan persepsi nilai terhadap kepuasan dan loyalitas konsumen pada beauty E-commerce” rosiding The 12th Industrial Research Workshop and National Seminar Bandung, 4-5 Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan elektronik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap persepsi nilai, kepuasan dan loyalitas konsumen. Selain itu, persepsi nilai juga memiliki pengaruh terhadap kepuasan dan loyalitas konsumen. Kepuasan konsumen dapat mempengaruhi loyalitas konsumen.

7.             Penelitian ini di lakukan oleh Shilfa Firizkia Pebriany, Eddy Syah Yahya, Rafiati Kania dalam artikel yang berjudul “pengaruh ekspetasi, pengalaman dan persepsi nilai customer terhadap kepuasan customer “ Jurnal Administrasi Bisnis (JUTRANIS), Vol. 01 No.01 Februari 2024 ISSN 3032-2561.Hasil Penelitian menunjukan bahwa variabel ekspektasi (X1) secara parsial berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y), variabel pengalaman (X2) secara parsial berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y), variabel persepsi nilai customer (X3) secara parsial berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y), serta variabel ekspektasi (X1) variabel pengalaman (X2) variabel persepsi nilai customer (X3) secara simultan berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y).

8.             Penelitian ini di lakukan oleh Rosa Lesmana,Ratnasari dalam artikel yang berjudul “pengaruh kualitas produk dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pt. rdekatama piranti nusa” jurnal Manajemen Pemasaran ISSN N0. (PRINT) 2598-0823, (ONLINE) 2598-2893. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk dan kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan dengan persamaan regresi Y = 15,009 + 0,294X1 + 0,422X2. Kontribusi pengaruh kualitas produk, kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan secara simultan adalah sebesar 44,8%, nilai F hitung lebih besar dari F tabel atau (39,285 > 2,700), dengan signifikansi 0,000 < 0,05.terdapat pengaruh positif dan signifikan secara simultan antara kualitas produk dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen.

9.             Penelitian ini di lakukan oleh Ahyawa Aulia Khoirin Nisa dalam artikel yang berjudul “Pengaruh Promosi, Harga, Kualitas Layanan, Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Pelanggan Shopee: Sebuah Kajian Konseptual” JURMA: Jurnal Riset Manajemen Vol. 1 No. 3 September 2023 e-ISSN :2985-7627, p-ISSN :2985-6221, Hal 315-328.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa harga,kualitas layanan,kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen.

2.3     Hipotesa dan Model Penelitian

2.3.1 Hipotesa

Hipotesis dalam karya ilmiah ini, dengan tema pengaruh kualitas pelayanan,kualitas produk, dan persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen kosmetik (JAFRA) di tetapkan sebagai berikut :

H1 : Terdapat pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen JAFRA

Hipotesa ini di dukung oleh:

1.        Kajian teori yang dikemukakan oleh Kotler dan Keller (2012) menyatakan kualitas pelayanan adalah totalitas fitur dan karakteristik dari suatu produk atau jasa yang menanggung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.indikator Kualitas pelayanan yang dikutip dari Kotler dan Keller (2012) terdapat 3 yaitu bukti fisik,empati,kemampuan.

2.        Penelitian ini di lakukan oleh Setyo Ferry Wibowo,Iin Pusfita Sarih,Agung Kresna Murti dalam artikel yang berjudul “pengaruh persepsi kualitas pelayanan dan persepsi nilai terhadap kepuasan pelanggan “ Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) Vol.5,No.2,2014. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan persepsi kualitas pelayanan berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan konsumen, adanya pengaruh positif signifikan persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen, adanya pengaruh positif signifikan persepsi kualitas pelayanan dan persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen.

3.        Penelitian ini di lakukan oleh Ryan Ibnu Wijayanto;Erni Widiastuti dalam artikel yang berjudul “pengaruh kualitas pelayanan,kualitas produk dan promosi terhadap kepuasan pelanggan” jurnal Surakarta management journal Vol.3 No.2 desember 2021. ISSNOnline:2715-4637. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kualitas Pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Konsumen, dapat dikatakan bahwa hipotesis 1 pada penelitian ini dapat diterima, Kualitas Produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Konsumen, dapat dikatakan bahwa hipotesis 2 pada penelitian ini dapat diterima, dan Promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Konsumen dapat dikatakan bahwa hipotesis ke 3 pada penelitian ini dapat diterima. Selanjutnya Kualitas Pelayanan, Kualitas Produk dan Promosi Secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Konsumen dapat dikatakan bahwa hipotesis ke 4 pada penelitian ini dapat diterima

H2 : Terdapat pengaruh kualitas produk terhadap kepuasan konsumen JAFRA  

Hipotesa ini di dukung oleh:

1.        Kajian teori yang di kemukakan oleh Tjiptono & Chandra (2017) menyatakan bahwa produk ialah sesuatu yang ditawarkan kepada konsumen yang dapat berupa barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang kemudian dapat digunakan atau dirasakan oleh pelanggan.Indikator yang di kutip dari Tjiptono & Chandra (2017) yaitu kualitas eksekusi,highlights,kesesuaian dengan spesifikasi,kekokohan,minat konsumen,keterlaksanaan,daya Tarik,persepsi konsumen.

2.        Penelitian ini di lakukan oleh Mahira, Prasetyo Hadi , Heni Nastiti dalam artikel yang berjudul “Pengaruh kualitas produk dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan indihome” Jurnal Konferensi Riset Nasional Ekonomi, Manajemen, Dan Akuntansi Volume 2, 2021│hlm.1267-1283. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) Kualitas Produk berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan (2) Kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan. 

3.        Penelitian ini di lakukan oleh Ahyawa Aulia Khoirin Nisa dalam artikel yang berjudul “Pengaruh Promosi, Harga, Kualitas Layanan, Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Pelanggan Shopee: Sebuah Kajian Konseptual” JURMA: Jurnal Riset Manajemen Vol. 1 No. 3 September 2023 e-ISSN :2985-7627, p-ISSN :2985-6221, Hal 315-328.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa harga,kualitas layanan,kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen.

 

     

H3: Terdapat pengaruh persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen JAFRA

Hipotesa ini Di dukung oleh:

1.         Kajian teori yang di kemukakan oleh Kotler dan Keller (2012) menyatakan  Customer-Perceived Value (CPV) adalah selisih antara evaluasi pelanggan dari semua manfaat yang dirasakan dan semua biaya yang di keluarkan.indikator yang di kutip dari Sweeney dan Soutar (2004) seperti dikutip Adi (2013) yaitu nilai emosional,nilai social,nilai kualitas kinerja produk,harga atau nilai biaya.

2.        Penelitian ini di lakukan oleh Shilfa Firizkia Pebriany, Eddy Syah Yahya, Rafiati Kania dalam artikel yang berjudul “pengaruh ekspetasi, pengalaman dan persepsi nilai customer terhadap kepuasan customer “ Jurnal Administrasi Bisnis (JUTRANIS), Vol. 01 No.01 Februari 2024 ISSN 3032-2561.Hasil Penelitian menunjukan bahwa variabel ekspektasi (X1) secara parsial berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y), variabel pengalaman (X2) secara parsial berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y), variabel persepsi nilai customer (X3) secara parsial berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y), serta variabel ekspektasi (X1) variabel pengalaman (X2) variabel persepsi nilai customer (X3) secara simultan berpengaruh terhadap kepuasan customer (Y).

3.        Penelitian ini di lakukan oleh Setyo Ferry Wibowo,Iin Pusfita Sarih,Agung Kresna Murti dalam artikel yang berjudul “pengaruh persepsi kualitas pelayanan dan persepsi nilai terhadap kepuasan pelanggan “ Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) Vol.5,No.2,2014. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan persepsi kualitas pelayanan berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan konsumen, adanya pengaruh positif signifikan persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen, adanya pengaruh positif signifikan persepsi kualitas pelayanan dan persepsi nilai terhadap kepuasan konsumen.

 

2.4     Model Penelitian

Untuk memudahkan pemahaman mengenai keseluruhan rangkaian penelitian ini, maka disusunlah kerangka pikir penelitian. Penelitian ini terdiri dari tiga variabel independent dan satu variabel dependent. Di mana variabel independent yang pertama yaitu kualitas produk (X1), variabel independent ke dua yaitu kualitas pelayanan  (X2), dan variabel independent yang ke tiga yaitu trust (X3) berpengaruh  terhadap variabel dependent minat beli (Y).  Maka disusunlah kerangka pemikiran sebagai berikut, Berdasar uraian di atas, model penelitian pengaruh.

 

Gambar 1.2

Model Penelitian

 


Keterangan :

Y            : Variabel Dependen Kepuasan Konsumen

X1          : Variabel Independen kualitas produk

X2          : Variabel Independen kualitas Pelayanan

X3          : Variabel Independen Persepsi Nilai


Penulis : 
AYU HUMAIROTU ZAHRO

BAB II EFEKTVITAS HBsAg RAPID SCREENING TEST UNTUK MENDETEKSI DINI PENYAKIT HEPATITIS B

 

2.1     Struktur Virus Hepatitis B

Virus hepatitis B tergolong dalam hepadna virus, yaitu virus hepatitis DNA, yaitu kelompok virus yang mengandung DNA beruntai ganda dan hanya menyerang sel hati. Virus hepatitis B mempunyai bentuk pleomorfik yang terdiri dari tiga jenis partikel, yaitu partikel bulat kecil (bola) dengan diameter 22 nm, partikel oval (tubulus) dengan diameter hampir 22 nm, dan partikel bulat besar bercangkang ganda. diameter 42 dst. Partikel berbentuk bola dan tabung kemungkinan berasal dari lapisan luar berlebih. Virus hepatitis B adalah virus DNA terkecil. Partikel HBsAg tersusun dari lipoprotein, asam amino (terutama leusin), lipid, karbohidrat, kolesterol, dan triptofan. HBsAg terdapat dalam tiga bentuk yaitu HBsAg virion envelope (partikel Dane) dan dua partikel HBsAg non-virion yaitu partikel bulat dan tubular, seperti terlihat pada Gambar 2. HBsAg terdiri dari tiga jenis protein yaitu protein kecil (SHB) dan protein sedang. . protein. (MHBs) dan protein besar (LHBs) (Waugh et al., 2014).

 

2.2     Penyakit Hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV), anggota keluarga hepadna virus, yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau kronis, yang pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati. Virus ini tidak menyebar melalui makanan atau kontak biasa, namun dapat menyebar melalui darah atau cairan tubuh yang terinfeksi. Saat melahirkan, anak bisa tertular dari ibunya. Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui aktivitas seksual, penggunaan jarum suntik berulang kali, dan transfusi darah yang mengandung virus. Pertama kali dikenal sebagai "hepatitis serum", penyakit ini menjadi epidemi di beberapa bagian Asia dan Afrika. Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan beberapa negara Asia (Ryan, 2016).

Infeksi hepatitis B dapat dicegah dengan vaksinasi, yaitu suntikan yang membuat tubuh kebal terhadap penyakit tersebut. Namun vaksinasi hanya memberikan perlindungan maksimal sekitar 90 persen dan tidak sepenuhnya menghilangkan risiko infeksi. Beberapa orang yang terkena virus ini dapat mengatasinya dengan cepat. Kebanyakan dari mereka terinfeksi seumur hidup. Biasanya gejalanya hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Terkadang hati rusak parah sehingga menyebabkan gagal hati. Gejala umum gagal hati adalah penyakit kuning, yaitu kulit dan mata penderita menjadi kuning karena zat yang diproduksi hati tidak disaring atau dikeluarkan. Masalah lainnya adalah hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati (Dienstag, 2018).

Tes darah dapat mendeteksi tanda-tanda kerusakan hati. Jika pasien mengalami gejala-gejala tersebut, pengobatan hepatitis B dapat mencegah kerusakan hati akibat virus. Pengobatan antivirus dilakukan untuk mencegah virus berkembang biak dengan cara menggandakan dirinya sendiri. Namun begitu virus sudah tertanam, mustahil untuk menghapusnya sepenuhnya (Zuckerman, 2016).

 

2.3     Epidemiologi Penyakit Hepatitis B

Status Umum: Presiden Persatuan Pengkajian Liver Indonesia (PPHI), Profesor Dr. Laurentius A Lesmana mengungkapkan, prevalensi hepatitis B di Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Total pasiennya sebanyak 13,3 juta orang. Berdasarkan data Profil Kesehatan Provinsi (Suplemen) tahun 2003, Indonesia mempunyai 6.654 kasus hepatitis B, sedangkan Sumatera Barat 649 kasus, urutan ketiga setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur, Indonesia adalah China (123,7 juta) dan India (30 -50 juta). ketiga setelah ) setelah Prevalensinya di Indonesia sebesar 5-10% (Sastrawinata, 2008).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), prevalensi antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) di Indonesia tinggi pada tahun 2008, lebih dari 8% pada tahun 2006. Diperkirakan sekitar 25 hingga 40 persen penderita hepatitis B akut berisiko tinggi terkena sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Lebih dari 4 juta kasus infeksi HBV akut terjadi setiap tahunnya, dan sekitar 25% di antaranya meninggal setiap tahun akibat hepatitis kronis aktif, sirosis, atau kanker hati. Oleh karena itu, para peneliti ingin menemukan metode cepat untuk tes skrining primer guna mempelajari hepatitis B secara akurat dan dengan biaya yang relatif rendah untuk deteksi dini (WHO, 2022).

 

2.4     Pemeriksaan Hepatitis B

1.              Metode ELISA

Diagnosis laboratorium hepatitis B dengan metode ELISA, studi laboratorium intensif HBV menemukan temuan di klinik dan laboratorium. Data di atas (penanda serologis) mengandung variabel yang sering dipantau. Tes yang sangat sensitif juga telah dikembangkan secara luas untuk memastikan diagnosis hepatitis B pada kasus ringan, subklinis, atau persisten. Salah satunya adalah penelitian yang menurut WHO tergolong generasi ketiga atau ELISA. ELISA dianggap sebagai tes dengan spesifisitas dan sensitivitas tinggi yang dapat mendukung diagnosis klinis hepatitis B (Handojo, 2004).

ELISA adalah metode yang digunakan untuk mengukur kadar antigen atau antibodi dalam media cair (misalnya serum atau organ yang dicairkan/dilarutkan). Metode ELISA digunakan untuk mengukur kadar HBsAg dalam serum pasien. Ikatan antigen-antibodi dibaca melalui reaksi enzimatik, sehingga intensitas warna larutan dapat berubah. Intensitas warna ini kemudian diukur dengan ELISA reader. Prinsip penelitian ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay) adalah reaksi antigen-antibodi (Ag-Ab), dimana terjadi perubahan warna setelah penambahan konjugat, yaitu. antigen atau antibodi yang diberi label enzim dan substrat. Intensitas perubahan warna ini diukur dengan alat pembaca yang disebut spektrofotometer atau ELISA reader yang menggunakan panjang gelombang tertentu (Handojo, 2014).

2.              Metode Rapid Tes

Tes diagnostik cepat (RDT) adalah tes sekali pakai yang tersedia dalam format sederhana dan umumnya tidak memerlukan reagen selain yang disertakan dalam kit tes. Mereka dibaca secara visual dan dapat memberikan hasil kualitatif sederhana dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena kesederhanaannya, biayanya, dan waktu penyelesaiannya yang cepat, tindakan ini dapat dilakukan oleh orang awam yang terlatih atau profesional kesehatan. Oleh karena itu, RDT berkualitas tinggi sangat berguna dalam situasi di mana layanan pengujian berbasis laboratorium konvensional tidak tersedia (WHO, 2017).

Tes HBsAg (serum/plasma) merupakan tes langsung untuk pemeriksaan kualitatif keberadaan HBsAg dalam sampel serum atau plasma. Tes ini menggunakan kombinasi antibodi monoklonal dan poliklonal untuk mendeteksi peningkatan kadar HBsAg dalam serum atau plasma. Prinsipnya HBsAg pada sampel berikatan dengan konjugat koloid emas anti-HBs, membentuk kompleks yang bergerak melalui membran area uji yang dilapisi anti-HBs. Kemudian terjadi reaksi sehingga membentuk garis ungu yang menunjukkan hasil positif (Suharjo, 2021).

Keuntungan rapid tes sebagai berikut:

a.       Dapat diakses di tingkat terendah dari sistem perawatan kesehatan (termasuk komunitas pengaturan)

b.      Tidak secara khusus membutuhkan fasilitas laboratorium

c.       Bisa dilakukan dengan dilatih penyedia awam dan perawatan kesehatan pekerja, serta laboratorium teknisi

d.      Bisa digunakan dengan kurang invasive Spesimen yang tidak dibutuhkan venepuncture seperti seluruh darah kapiler atau oral cairan

e.       Jika pengujian pada atau mendekati titik perawatan, hasil hari yang sama mungkin, yang bisa mengurangi jumlah individu yang ada hilang untuk menindaklanjuti dan karena itu tidak menerima hasil tes mereka

f.       Perangkat bisa disimpan di 2-30 ° C


refrensi :

 

Cecep Waugh, Anne dan Grant, Allison, Ross and Wilson. 2004. Anatomy and Physiology in Health and Illness, Churchill Livingstone. British; hal 317

Dienstag, J. L. (2008). "Hepatitis B Virus Infection". New England Journal of Medicine 359 (14): 1486–1500. doi:10.1056/NEJMra0801644. PMID 18832247.

Handojo dan Indro.2004. Immunoassai Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya : Airlangga University Press.

Lin YH, Wang Y, Loua A, Day GJ, Qiu Y, Allain JP, et al. 2008. Evaluation of a new hepatitis B virus surface antigen rapid test with improved sensitivity. J Clin Micobiol. 46(10):3319.

Maylin S , Tianbin C, Lin J, Chen H,Chen J, Lin S, etal. 2012. Evaluation of the performance off ourmet hods for detection of hepatitis B surfaceantigen and their application fortesting 116,455 specimens. J Virol Methods.

Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (4th ed. ed.). McGraw Hill. pp. pp. 544–51. ISBN 0-8385-8529-9. Diakses pada tanggal 5 juni 2017.

Sastrawinata, Ucke Sugeng. 2008. Virologi Manusia. Bandung: Penerbit PT Alumni

World Health Organization. 2002. Hepatitis B. Tersedia dari: URL Diakses pada tanggal 17 November 2014.

World Health Organization. 2017. Guidelines On Hepatitis B and C Testing. Tersedia dari: URL Diakses pada tanggal 17 November 2014.

Zuckerman AJ (1996). Hepatitis Viruses. In: Baron's Medical Microbiology (Baron S et al, eds.) (4th ed. ed.). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.

Penulis :
Ariska Nurfadilah