KUMPULAN MAKALAH

Tuesday, January 4, 2022

MAKALAH HUBUNGAN FOTOSINTESIS DAN TRANSPIRASI

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “HUBUNGAN FOTOSINTESIS DAN TRANSPIRASI” ini dengan baik.

Kami berharap makalah ini mampu menambah wawasan serta pengetahuan bagi para pembacanya, khususnya tentang ilmu anatomi fisiologi tumbuhan mengenai fotosintesis dan transpirasi. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan didalamnya. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………..….I

DAFTAR ISI……………………………………………………………….……II

BAB I

            Pendahuluan…………………………………………,……………….…1

BAB II

            Pembahasan…………………………………….…………………….…..2

                        2.1       Transpirasi……………………………………………..…2

                        2.2       Anatomi stomata……………...…………………….……4

2.3       Pengaruh lingkungan hidup stomata…………………...4

2.4       Mekanika stomata…………………………………….….5

2.5       Peranan transpirasi terhadap pertukaran energy….….6

2.6       Pertukaran energy tumbuhan dan fotosistem………….6

2.7       Pertukaran energy tumbuhhan dan ekosistem………...9

 

BAB 3

            Kesimpulan…………………………………………………………...…11

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

       Air merupakan salah satu factor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan. Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada kecepatan proses masuknya air ke dalam tubuh tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk uap atau gas ke udara di sekitar tubuh tumbuhan dinamakan transpirasi. Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar.

       Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Faktor-faktor tersebut meliputi suhu, cahaya, kelembaban udara, dan angina. Di samping itu luas permukaan jaringan epidermis atau luka tempat proses transpirasi berlangsung juga ikut berperan.

       Transpirasi berhubungan langsung dengan intensitas cahaya. Semakin besar intensitas cahaya semakin tinggi laju transpirasi. Faktor-faktor lingkungan lainnya yang berpengaruh terhadap transpirasi antara lain: konsentrasi CO2, temperatur, kelembaban relatif, kepadatan udara, dan kecepatan angin.

       Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Transpirasi

·         Pengertian transpirasi

               Transpirasi merupakan proses keluarnya uap air dari dalam tanaman melalui stomata atau lubang lain seperti lenti sel. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata.

·         Pengukuran transpirasi

               Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah karena semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada empat cara laboratorium untuk menaksir laju transpirasi :

1. Kertas korbal klorida

            Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara yang diganti dengan pengukuran uap air yang hilang ke dalam kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna biru cerah dan tetapi menjadi biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap air. Sehelai kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan gelas preparat. Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk mengubah warna biru kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutup kertas.

2.Potometer
            Alat ini mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, dengan asumsi bahwa bila air tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi.

3. Pengumpulan uap air yang ditranspirasi

Cara ini mengharuskan tumbuhan atau bagian tumbuhan dikurung dalam sebuah bejana tembus cahaya sehingga uap air yang ditranspirasikan dapat dipisahkan.

4. Penimbangan langsung

Pengukuran transpirasi yang paling memuaskan diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh dalam pot yang telah diatur sedemikan rupa sehingga evaporasi dari pot dan permukaan tanah dapat dicegah. Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat ditaksir untuk jangka waktu tertentu dengan penimbangan langsung

·         Cara lain pengukuran Transpirasi

1. Metode lisimeter atau metode grafimeter

Dua abad yang lalu, Stephen Hales mempersiapkan tanaman dalam pot dan tanamannya yang ditutup rapat agar air tidak hilang, kecuali dari tajuknya yang bertranspirasi kemudian, tanaman dalam pot itu ditimbang pada selang waktu tertentu, dan arena jumlah air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman ( misalnya, yang diubah menjadi karbohidrat ) kurang dari 1 % dari jumlah air yang di transpirasikan, maka sebenarnya semua perubahan bobot dapat dianggap berasal dari transpirasi. Ini dinamakan metode lisimeter.

Hanks dan peneliti lannya sudah banyak sekali mengembangkan metode sederhana ini. Lisimeter miliknya di kebun Greenville merupakan beberapa bejana yang besar ( beberapa meter kubik besarnya ) diisi penuh dengan tanah dan dikuburkan, sehingga permukan atasnya sama tinggi dengan permukaan lapangan. Bejana terebut diletakkan di dekat bantalan karet besar yang diletakkan didasarnya dan diisi air dan zat anti beku yang dihubungkan dengan pipa yang tegak keatas permukaan tanah. Tinggi cairan dalam pipa menunjukkan ukuran bobot lisimeter, maka permukaannya berubah-ubah sejalan dengan perubahan kandungan air dalam tanah dilisimeter dan dalam tanaman yang sedang tumbuh, walaupun bobotnya kecil saja di bandingkan dengan bobot tanah. Jumlah air tanah di tentukan oleh air irigasi dan jumlah hujan dikurangi evapotranspirasi, yaitu gabungan antara penguapan dari tanah dan transpirasi dari tumbuhan. Penguapan dari tanah dapat diduga dengan berbagai macam cara. Lisimeter merupakan metode lapangan paling handal untuk mempelajari evapotransipirasi, tapi memang mahal dan tidak mudah di pindah-pindahkan. Meskipun tidak diseluruh dunia, lisimeter banyak digunakan. Teknik yang lebih umum, menggunakan persamaan perimbangan air untuk menghitung evapotranspirasi dari selisih anars masukkan dan pengeluaran Et = irigasi + hujan + pengurasan – drainase – aliran permukaan.

Dengan Et = evapo transpirasi, dan pengurasan adalah kehilangan dari cadangan tanah. Pengukuran cadangan air tangah pada awal dan akhir suatu periode menghasilkan nilai pengurasaan.

2. Metode pertukaran gas atau metode kurvet

Dalam metode ini, transpirasi dihitung dengan cara mengukur uap air di atmosfer yang tertutup yang mengelilingi daun. Sehelai daun di kurung dengan sebuah kuvet bening misalnya, dan kelembabapan suhu, dan volume gas yang masuk dan keluar kuvet di ukur.



2.2. Anatomi stomata

 

 

 

 

 

 

       Masing-masing stomata diapit oleh sepasang sel penjaga. Sel penjaga mengontrol diameter stomata dengan cara mengubah bentuk yang akan menyempitkan atau melebarkan celah diantara kedua sel tersebut. Ketika sel penjaga mengambil air melalui osmosis, sel penjaga akan membengkak. Ketika sel kehilangan air, menjadi lembek, serta mengkerut, sel-sel tersebutakan mengecil secara bersamaan kemudian menutup ruangan diantaranya.

Stomata berfungsi sebagai organ respirasi. Stomata mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan fotosintesis, mengeluarkan O2 sebagai hasil fotosintesis. Stomata ibarat hidung kita dimana stomata mengambil CO2 dari udara dan mengeluarkan O2, sedangkan hidung mengambil O2 dan mengeluarkan CO2. Stomata terletak di epidermis bawah

 

2.3. Pengaruh lingkungan terhadaap stomata

Stomata pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup pada saat hari gelap, sehingga masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis pada siang hari. Umumnya pada proses pembukaan stomata memerlukan waktu selama satu jam. Stomata juga peka terhadap kelembaban atmosfer. Stomata akan menutup jika selisih kandungan uap air di udara dan dalam ruang antar sel melebihi kritis (Purwanti, 2008).

Pergerakan pori stomata disebabkan oleh perubahan volume sel penjaga yang diatur oleh keluar masuknya ion K+ dan ion-ion lain dari dan ke sel penjaga selama proses pembukaan dan penutupan stomata. Selain itu cahaya, konsentrasi CO2, kelembaban, dan hormon tumbuhan merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi membuka dan menutupnya stomata. Cahaya menyebabkan membukanya stomata sedangkan keadaan gelap dapat meningkatkan konsentrasi CO2 dan turunnya kelembaban yang berakibat pada tertutupnya stomata. Diantara sekian banyak hormon tumbuhan, ABA (asam absisat) dan auksin merupakan hormon tumbuhan yang berpengaruh pada pergerakan stomata. ABA (asam absisat) menyebabkan menutupnya stomata, sedangkan auksin menyebabkan terbukanya stomata.

 

2.4. Mekanika stomata

Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat. Peningkatan tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel penjaga tersebut. Pergerakan air dari satu sel ke sel lainnya sebagaimana dijelaskan sebelumnya akan selalu dari sel yang mempunyai potensi air lebih tinggi ke sel dengan potensi air lebih rendah. Tinggi rendahnya potensi air sel akan tergantung pada jumlah bahan yang terlarut (solute) di dalam cairan sel tersebut. Semakin banyak bahan yang terlarut maka potensi osmotik sel akan semakin rendah. Dengan demikian, jika tekanan turgor sel tersebut tetap, maka keseluruhan potensi air sel akan pula menurun. Untuk memacu agar air masuk ke sel penjaga, maka jumlah bahan yang teralrut di dalam sel tersebut harus ditingkatkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat stomata membuka akan terjadi akumulasi ion kalium (K+) pada sel penjaga. Ion kalium ini berasal dari sel tetangganya. Peningkatan konsentrasi kalium sebesar 0,5 M cukup untuk menurunkan potensi osmotik sel sekitar 2,0 MPa. Korelasi positif antara peningkatan konsentrasi ion kalium dengan pembukaan stomata secara konsisten ditemukan pada semua spesies yang telah diteliti.Cahaya diketahui berperan merangsang masuknya ion kalium ke sel penjaga dan jika tumbuhan tersebut kemudian ditempatkan dalam gelap, maka ion kalium akan kembali keluar sel penjaga. Akan tetapi stomata akan membuka walaupun dalam gelap jika ditempatkan dalam udara yang bebas CO2. Cahaya merah dan biru diketahui efektif dalam merangsang pembukaan stomata, tetapi jika dibandingkan antara kedua panjang gelombang cahaya tersebut, maka cahaya biru agaknya lebih efektif dibandingkan cahaya merah. Pada intensitas rendah, di mana cahaya merah tidak menunjukkan pengaruh, cahaya biru telah dapat mempengaruhi pembukaan stomata.

Cahaya biru selain merangsang masuknya ion kalium ke sel penjaga, juga berperan dalam pemecahan molekul pati untuk meghasilkan fosfoenol piruvat (PEP) yang dapat menerima CO2 untuk membentuk asam malat. Untuk menjaga netralitas muatan listrik, maka masuknya ion kalium harus diikuti dengan masuknya suatu anion. Pada beberapa spesies dilaporkan bahwa anion tersebut adalah ion klor (Cl-). Tetapi beberapa peneliti lain melaporkan bahwa mereka tidak melihat adanya anion yang masuk ke sel penjaga bersama ion kalium tersebut. Untuk menjaga netralitas muatan listrik, ion Hidrogen (H+) keluar dari sel penjaga.

Asam-asam organik disintesis dalam sel penjaga sebagai tanggapan terhadap faktor-faktor yang menyebabkan stomata membuka. Asam organik yang disintesis umumnya adalah asam malat. Ion-ion hidrogen terkandung dalam asam organik tersebut. Hal ini akan menyebabkan pH sel penjaga akan turun jika ion hidrogen ini tidak dikirim keluar dari sel penjaga. Bertambahnya ion yang terlarut di dalam cairan sel (K+ dan malat) akan menyebabkan semakin rendahnya potensi osmotik sel penjaga.

 

2.5. Peranan transpirasi terhadap pertukaran energy

Transpirasi adalah proses pengeluaran air dari tanaman dengan bantuan bukaan kecil yang dikenal sebagai stomata. Dengan terlepasnya air dalam bentuk uap air melalui mulutdaun atau di kenal stomata dan kutikula ke udara bebas yang di kenal dengan istilah evaporasi maka akan semakin cepat terjadi transprassi. Hal ini berarti semakin cepat pula proses pengangutan air dan zat hara yang terlarut dan begitu pula sebalikna

Walaupun beberapa jenis tumbuhan dapat hidup tanpa melakukan transpirasi , tetapi jika tranpirasi berlangsung pada tumbuhan agaknya dapat memberikan beberapa keuntungan bagi tumbuhan tersebut. Misalnya:

• Pengangkutan air ke daun dan difusi air antar sel
• Penyerapan dan pengangkutan air, hara
• Pengangkutan asimilat
• Membuang kelebihan air
• Pengaturan bukaan stomata
• Mempertahankan suhu daun
• Pengangkutan mineral
• Pertukaran energi

Dari beberapa hasil pengujian didapatkan bahwa pengangkutan unsure hara tetap dapat berlangsung jika transpirasi tidak terjadi. Akan tetapi, laju pengangkutan terbukti akan berlangsung lebih cepat jika transpirasi berlangsung secara optimum.  

2.6. Pertukaran energi tumbuhan dan fotosistem

Fotosistem merupakan tahap pertama dari proses fotosintesis. Ketika klorofil menyerap energi foton dari cahaya, elektron pada klorofil akan terlepas ke orbit luar (tereksitasi). Elektron ini akan ditangkap oleh penerima elektron yaitu plastokuinon. Jadi unit penangkapan elektron inilah yang disebut dengan fotosistem.

Ketika elektron ditangkap oleh plastokuinon, akibatnya jumlah elektron di dalam klorofil menjadi tidak stabil. Untuk itu klorofil harus disuplai elektron dari molekul lain. Dalam waktu yang bersamaan H2O terpecah menjadi 2H+, OH- dan elektron (fotolisis). Elektron dari air inilah yang dipakai untuk menstabilkan klorofil.

Jadi secara sederhana, Unit yang mampu untuk menangkap energi cahaya matahari, yaitu klorofil yang melepaskan elektron dan menyerap foton (energi cahya dengan panjang gelombang yang sesuai), disebut dengan fotosistem.

fotosistem di dalam tilakoid Dikenal ada 2 macam bentuk, yaitu fotosistem I dan fotosistem II.

1.      Fotosistem I

Di dalam fotosistem I, terdapat molekul klorofil yang berada pada pusat reaksi dari fotosistem I dinamakan P700. Di sebut demikian karena sangat baik menyerap energi cahaya dengan panjang gelombang 700nanometer.

2.      Fotosistem II

Di dalam fotosistem II, terdapat molekul klorofil yang berada pada pusat reaksi fotosistem II dan dinamakan P680, karena sangat baik menyerap energi cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer.

Proses penyerapan cahaya yang selanjutnya berdampak pada lepasnya elektron dari klorofil, untuk selanjutnya di salurkan dan ditangkap oleh akseptor elektron. Proses ini merupakan awal dari proses fotosintesis. Berdasarkan aliran elektron, fotosistem I bersifat siklis dan fotosistem II bersifat nonsiklis. Untuk jelasnya semua ini akan diuraikan pada tahap selanjutnya yaitu Aliran atau siklus elektron.

Ketika terjadinya proses fotosistem atau penyerapan energi cahaya, klorofil yang dapat diserap adalah klorofil a (P700), yaitu klorofil yang mampu menyerap terutama cahaya merah dan biru-ungu. Klorofil a berperan langsung dalam fotosintesis (reaksi terang). Energi cahaya sampai ke klorofil a melalui mekanisme berikut :



Fosforilasi dapat terjadi secara siklik yaitu proses pembuatan ATP yang hanya menggunakan fotosistem I. Jalurnya disebut siklik karena elektron dari pusat reaksi P700 pada fotosistem I melalui reaksi yang pada akhirnya akan kembali ke pusat reaksi P700. Ketika ada cahaya mengenai pusat reaksi P700 elektron pada P700 akan tereksitasi dan menjadi berenergi dan akan mengalirkan elektron ke kompleks reseptor elektron didekatnya. Molekul yang tereksitasi yaitu yang menerima energi dari foton cenderung tidak stabil dan akan melepas energi yang dimilikinya ke molekul di dekatnya yang kemudian meneruskan elektron tersebut ke kompleks Phyloquinnon, Fe-S dan Ferodoxin, tetapi tidak sampai ke NADP sehingga tidak terbentuk NADPH. Elektron tersebut akan diteruskan kembali ke kompleks sitokrom B6f, yang akan memindahkan proton dari stroma ke lumen tilakoid melalui beberapa sitokrom yaitu sitokrom 4 subunit yang terdiri dari sebuah sitokrom dengan 2 heme tipe b, protein Fe-S, dan sitokrom f. (Stryer.2012:575)

Kompleks sitokrom akan mengkatalis proses perpindahan elektron ke plastocyanin, sementara 2 proton dilepas ke ruang tilakoid yang nantinya akan menimbulkan gradien proton(Stryer.2012:576).

Pada kloroplas arah pergerakan proton dari stroma menuju ruang tilakoid sehingga ruang tilakoid menjadi ber pH rendah dengan jumlah proton yang berlebih di ruang tilakoid, hal ini membuat proton H+ akan terpompa keluar melalui ATP sintase menghasilkan pergerakan yang mensintesis ADP + Pi menjadi ATP yang terjadi di stroma (Stryer.2012:578)

Sementara itu elektron dari kompleks sitokrom B6f elektronnya diteruskan menuju plastocyanin.Plastocyaninkemudian akan meneruskan elektron kembali ke pusat reaksi P700. Reaksi siklik ini tidak menghasilkan NADPH dan O2, sehingga melalui reaksi ini tumbuhan dapat mengatur perbandingan jumlah ATP dan NADPHnya terkait dengan jumlah kebutuhan ATP dan NADPH saat reaksi gelap (David, Michael.2004:741-742)

2.7. Pertukaran energi tumbuhan dan Ekosistem

              Pertukaran energy tumbuhan dapat terjadi melalui hasi fotosintesis proses pemanfaatan energy matahari oleh tumbuhan hijau yang terjadi pada kloroplas. Fotosintesis terjadi melalui dua tahap yaitu tahap reaksi terang (fotofosforilasi) dan tahap reaksi gelap (siklus calvin). Reaksi terang terjadi di ganum (grana), reaksi gelap terjadi di dalam stroma.

Berikut tentang reaks terang dan reaksi gelap :

1.Reaksi gelap

Reaksi gelap merupakan reaksi lanjutan dari reaksi terang dalam fotosintesis. Reaksi ini tidak membutuhkan cahaya. Reaksi gelap terjadi pada bagian kloroplas yang disebut stroma. Bahan reaksi gelap adalah ATP dan NADPH, yang dihasilkan dari reaksi terang, dan CO2, yang berasal dari udara bebas. Dari reaksi gelap ini, dihasilkan glukosa (C6H12O6), yang sangat diperlukan bagi reaksi katabolisme. Reaksi ini ditemukan oleh Melvin Calvin dan Andrew Benson, karena itu reaksi gelap disebut juga reaksi Calvin-Benson.



Dalam reaksi gelap terjadi proses fiksasi karbon, reduksi dan regenerasi.

2.Reaksi terang

Reaksi terang terjadi dalam membran tilakoid yang di dalamnya terdapat pigmen klorofil a, klorofil b, dan pigmen tambahan yaitu karoten. Pigmen-pigmen ini menyerap cahaya ungu, biru, dan merah lebih baik daripada warna cahaya lain.

Reaksi terang merupakan reaksi penangkapan energi cahaya. Energi cahaya yang diserap oleh membran tilakoid akan menaikkan elektron berenergi rendah yang berasal dari H2O. Elektron-elektron bergerak dari klorofil a menuju sistem transpor elektron yang menghasilkan ATP (dari ADP + P).

Tumbuhan hijau memiliki kemampuan menggunakan CO2 dari udara yang akan diubah menjadi bahan organic dengan bantuan cahaya matahari. Persamaan reaksi fotosintesis adalah :

6H2O + 6CO2  C6H12O6 + 6O2

Tidak semua radiasi cahaya matahari dapat dimanfaatkan untuk kegiatan fotosintesis, hanya pada radiasi cahaya tampak (380 – 700 nm). Cahaya tampak terbagi atas cahaya merah (610 – 700), hijau kuning (510 – 600 nm), biru ( 410 – 500 nm), dan violet.

Selain melalui fotosintesis pertukaran energy pada tumbuhan dapat terjadi pada saat proses respirasi. Respirasi merupakan reaksi oksidasi senyawa organik untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk aktifitas sel dan kehidupan tumbuhan dalam bentuk ATP atau senyawa berenergi tinggi lainnya (Jukri & Heru : 2004).

Jadi, respirasi merupakan proses pembongkaran molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana..

Respirasi sel-sel tumbuhan berupa oksidasi molekul organik oleh oksigen dari udara akan membentuk karbon dioksida dan air. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :

C6H12O6 + 6O2  6H2O + 6CO2 + 675 kal

Beberapa reaksi respirasi yang menghasilkan energi bergabung untuk membentuk ATP dan penggabungan inilah yang memungkinkan penyimpanan sebagian energi yang timbul selama respirasi, tidak hanya hilang sebagai panas. Jadi fungsi utama respirasi adalah menghasilkan molekul-molekul ATP.

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesumpulan 

1.       Transpirasi merupakan proses keluarnya uap air dari dalam tanaman melalui stomata atau lubang lain seperti lenti sel

2.       Stomata mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan fotosintesis, mengeluarkan O2 sebagai hasil fotosintesis.

3.       Dengan terlepasnya air dalam bentuk uap air melalui mulutdaun atau di kenal stomata dan kutikula ke udara bebas yang di kenal dengan istilah evaporasi maka akan semakin cepat terjadi transprassi.

4.       Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat stomata membuka akan terjadi akumulasi ion kalium (K+) pada sel penjaga.

5.       Ketika klorofil menyerap energi foton dari cahaya, elektron pada klorofil akan terlepas ke orbit luar (tereksitasi).

6.       Fotosintesis terjadi melalui dua tahap yaitu tahap reaksi terang (fotofosforilasi) dan tahap reaksi gelap (siklus calvin)

7.       Pertukaran energy tumbuhan dapat terjadi melalui hasil fotosintesis dan pada saat proses respirasi

8.       Reaksi terang merupakan reaksi penangkapan energi cahaya. Energi cahaya yang diserap oleh membran tilakoid akan menaikkan elektron berenergi rendah yang berasal dari H2O. Elektron-elektron bergerak dari klorofil a menuju sistem transpor elektron yang menghasilkan ATP (dari ADP + P).

9.       Reaksi gelap merupakan reaksi lanjutan dari reaksi terang dalam fotosintesis. Reaksi ini tidak membutuhkan cahaya. Reaksi gelap terjadi pada bagian kloroplas yang disebut stroma. Bahan reaksi gelap adalah ATP dan NADPH, yang dihasilkan dari reaksi terang, dan CO2, yang berasal dari udara bebas.

10.   Unit yang mampu untuk menangkap energi cahaya matahari, yaitu klorofil yang melepaskan elektron dan menyerap foton (energi cahya dengan panjang gelombang yang sesuai), disebut dengan fotosistem.



Monday, January 3, 2022

MAKALAH HARGA POKOK

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR................................................................................................................. ii

DAFTAR ISI................................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................ 1

1.1   Latar belakang............................................................................................................... 1

1.2  Rumusan masalah.......................................................................................................... 1

1.3  Tujuan penulisan........................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................. 2

2.1     Karakteristik harga pokok proses................................................................................. 2

2.2     Manfaat informasi harga pokok proses........................................................................ 3

2.3     Laporan biaya produksi satu departemen dan lebih dari satu departemen................... 3

BAB III PENUTUP..................................................................................................................... 12

3.1     Kesimpulan................................................................................................................... 12

3.2     Saran............................................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................. 13


BAB I PENDAHULUAN

 

 

1.1       Latar Belakang

Metode harga pokok proses yang merupakan metode pengumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang mengolah produknya secara massa. Di dalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dalam proses tertentu, selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.

Melalui makalah ini akan diuraikan metode harga pokok proses yang sederhana, yaitu yang diterapkan dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui satu departemen produksi dan dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui lebih dari satu departemen produksi.

 

1.2             Rumusan Masalah

1.      Apa saja Karakteristik harga pokok proses?

2.      Apa Manfaat informasi harga pokok proses?

3.      Bagaimana Laporan biaya produksi satu departemen dan lebih dari satu departemen?

 

1.3             Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui Apa saja Karakteristik harga pokok proses.

2.      Untuk mengetahui Apa Manfaat informasi harga pokok proses.

3.      Untuk mengetahui Bagaimana Laporan biaya produksi satu departemen dan lebih dari satu departemen.


BAB II PEMBAHASAN

 

 

2.1             Karakteristik harga pokok proses

Metode harga pokok proses, yang merupakan metode pengumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang mengolah produknya secara masal. Di dalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu, selama periode tertentu, dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan. Metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produksi perusahaan. Metode harga pokok proses memiliki karakteristik tertentu, yaitu:

1.      Biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu tertentu, misalnya bulan, tahun, dan sebagainya.

2.      Produk yang dihasilkan bersifat homogen dan bentuknya standar, tidak tergantung spesifikasi yang diminta oleh pembeli.

3.      Kegiatan produksi didasarkan pada budget produksi atau schedule produksi untuk satuan waktu tertentu.

4.      Tujuan produksi untuk mengisi persediaan yang selanjutnya dijual.

5.      Kegiatan produksi bersifat kontinu dan terus-menerus.

6.      Jumlah total biaya maupun biaya satuan dihitung setiap akhir periode, misalnya akhir bulan, akhir tahun.

Karakteristik utama dari metode harga pokok proses adalah sebagai berikut:

1.       Laporan harga pokok produksi digunakan untuk mengumpulkan, meringkas, dan menghitung harga pokok baik total maupun satuan atau per unit. Apabila produk diolah melalui beberapa tahap atau departemen, laporan harga pokok disusun setiap departemen di mana produk diolah.

2.       Biaya produksi periode tertentu dibebankan kepada produk melalui rekening barang dalam proses yang diselenggarakan untuk setiap elemen biaya. Apabila produk diolah melalui beberapa departemen, rekening barang dalam proses di samping diselenggarakan untuk setiap elemen biaya harus diselenggarakan untuk setiap departemen di mana produk diproses.

3.       Produksi dikumpulkan dan dilaporkan untuk satuan waktu atau periode tertentu. Apabila produk diproses melalui beberapa tahap atau departemen, laporan produksi tersebut dibuat untuk setiap departemen.

4.       Produksi ekuivalen (equivalent production) digunakan untuk menghitung harga pokok satuan. Produksi ekuivalen adalah tingkatan atau jumlah produksi di mana pengolahan produk dinyatakan dalam ukuran produk selesai.

5.       Untuk menghitung harga pokok satuan setiap elemen biaya produksi tertentu, maka elemen biaya produksi tertentu tersebut dibagi dengan produksi ekuivalen untuk elemen biaya yang bersangkutan.

6.       Harga pokok yang diperhitungkan untuk mengetahui elemen-elemen yang menikmati biaya yang dibebankan, berapa yang dinikmati produk selesai dari departemen tertentu atau pengolahan yang dipindahkan ke gudang atau ke departemen berikutnya dan berapa harga pokok produk dalam proses akhir.

7.       Apabila dalam proses pengolahan produk timbul produk hilang, produk rusak, produk cacat, tambahan produk akan diperhitungkan pengaruhnya dalam perhitungan harga pokok produk.

2.2             Manfaat Informasi Harga Pokok Proses

Untuk memberikan gambaran awal penggunaan metode harga pokok proses dalam proses pengumpulan biaya produksi, variasi contoh penggunaan metode harga pokok proses yang diuraikan ini mencakup:

1.      Metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya diolah hanya melalui satu departemen produksi.

2.      Metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya diolah melalui lebih dari satu departemen produksi.

3.      Pengaruh terjadinya produk yang hilang dalam proses terhadap perhitungan harga pokok produksi persatuan dengan anggapan:a. Produk hilang pada awal proses.b. Produk hilang pada akhir proses.

2.3             Laporan biaya produksi satu departemen dan lebih dari satu departemen

A.                 Metode Harga Pokok Proses Satu Departemen Produksi

Untuk dapat memahami perhitungan harga pokok produk dalam metode harga pokok proses, berikut ini disajikan contoh metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui satu departemen produksi, tanpa memperhitungkan adanya persediaan produk dalam proses awal periode.

Contoh :

PT Era Milenia Jaya mengolah produknya secara masal melalui satu departemen produksi. 1: Jumlah biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

·         Biaya bahan baku = Rp 5.000.000

·         Bahan penolong = Rp 7.500.000

·         Biaya tenaga kerja = Rp 11.250.000

·         Biaya overhead pabrik = Rp 16.125.000

·         Total biaya produksi = Rp 39.875.000

2: Jumlah produk yang dihasilkan selama bulan tersebut adalah:

·         Produk jadi = 2.000 kg

·         Produk dalam proses pada akhir bulan = 500 kg 3: Dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut:

·         Biaya bahan baku = 100%

·         Biaya bahan penolong = 100%

·         Beban tenaga kerja = 50%

·         Biaya overhead pabrik = 50%

Yang menjadi masalah adalah bagaimana menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok persediaan produk dalam proses yang pada akhir bulan belum selesai diproduksi.

Untuk tujuan tersebut perlu dilakukan penghitungan biaya produksi per satuan yang dikeluarkan dalam bulan Januari 2020. Hasil perhitungan ini kemudian dikalikan dengan kuantitas produk jadi dan akan dihasilkan informasi harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang.

Untuk menghitung harga pokok persediaan produk dalam proses pada akhir periode, biaya produksi per satuan tersebut dikalikan dengan kuantitas persediaan produk dalam proses dengan memperhitungkan tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses tersebut.

Untuk menghitung biaya per satuan yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut, perlu dihitung unit ekuivalensi bulan Januari 2020 dengan cara perhitungan sebagai berikut:

1.             Biaya Bahan Baku:

Dari data contoh soal di atas, kita melihat bahwa biaya bahan baku sebesar Rp

5.000.000 digunakan untuk menyelesaikan produk jadi sebanyak 2.000 kg dan 500 kg persediaan produk dalam proses.

Jadi ekuivalensi biaya harga bahan baku adalah:

= 2.000 + (100% x 500)

= 2.500 kg

2.             Biaya Bahan Penolong

Bahan penolong yang dikeluarkan bulan Januari 2020 sebesar Rp 7.500.000 menghasilkan 2.000 kg produk jadi dan 500 kg persediaan produk dalam proses.

Tingkat penyelesaian 100%.

Dengan demikian unit ekuivalensi biaya bahan penolong adalah 2.500 kg yang dihitung sebagai berikut:

= 2.000 + (100% x 500) = 2.500 kg

3.             Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan bulan Januari 2020 sebesar Rp 11.250.000 tersebut dapat menghasilkan 2.000 kg produk jadi dan 500 kg persediaan produk dalam proses.

Dengan tingkat penyelesaian biaya tenaga kerja 50%.

Dengan demikian unit ekuivalensi biaya tenaga kerja adalah 2.250 kg, yang dihitung sebagai berikut:

= 2.000 + (50% x 500) = 2.250 kg

4.             Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik yang dikeluarkan bulan Januari 2020 sebesar Rp 16.125.000.

Dan menghasilkan 2.000 kg produk jadi dan 500 kg persediaan produk dalam proses dengan tingkat penyelesaian 30%.

Dengan demikian unit ekuivalensi biaya bahan penolong dihitung sebagai berikut:

= 2.200 + (30% x 500) = 2.150 kg

Perhitungan biaya produksi per kilogram produk yang diproduksi dalam bulan Januari 2020 dilakukan dengan membagi tiap unsur-unsur harga pokok produksi, yaitu:

·         biaya bahan baku,

·         biaya bahan penolong,

·         biaya tenaga kerja, dan

·         biaya overhead pabrik, seperti berikut ini:

metode harga pokok proses 2 departemen

Perhitungan Harga Pokok Produksi Per Satuan

Setelah biaya produksi per satuan dihitung, harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dari harga pokok persediaan produk dalam proses dihitung sebagai berikut:

·         Harga pokok produk jadi: 2.000 x Rp 17.500 = Rp 35.000.000

·         Harga pokok persediaan produk dalam proses:

·         Biaya bahan baku : 100% x 500 x Rp 2.000 = Rp 1.000.000

·         Biaya bahan penolong : 100% x 500 x Rp 3.000 = Rp 1.500.000

·         Biaya TK : 50% x 500 x Rp 5.000 = Rp 1.250.000

·         Jumlah = Rp 4.875.000

·         Jumlah biaya produksi bulan Januari 2020 = (1) – (2) = Rp 39.875.000

Jurnal Umum Pencatatan Proses Produksi

Jurnal Pencatatan Biaya Produksi

Berdasarkan informasi yang disajikan dalam laporan biaya produksi, biaya produksi yang terjadi bulan Januari 2020, dicatat dengan jurnal umum berikut ini:

A: Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp 5.000.000 [Kredit] Persediaan Bahan Baku Rp 5.000.000

B: Jurnal untuk mencatat biaya bahan penolong:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Penolong Rp 7.500.000 [Kredit] Persediaan Bahan Penolonh Rp 7.500.000

C: Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp 11.250.000 [Kredit] Gaji dan Upah Rp 11.250.000

D: Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 16.125.000 [Kredit] Berbagai Rekening yang Dikredit  Rp 16.125.000

E: Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:

[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 35.000.000

[Kredit] Barang Dalam Proses Biaya Bahan Baku Rp 4.000.000 [Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Penolong Rp 6.000.000 [Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya TK Rp 10.000.000

[Kredit] Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Rp 15.000.000

Note:

= 2.000 kg x Rp 5.000

= 2.000 kg x Rp 7.500

F: Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai diolah pada akhir bulan Januari 2020:

[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses Rp 4.875.000

[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp 1.000.000 [Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Penolong Rp 1.500.000 [Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp 1.250.000 [Kredit] Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Rp 1.125.000

B.                 Metode Harga Pokok Proses Lebih Dari Satu Departemen Produksi

Metode harga pokok proses dua departemen adalah penggunaan metode harga pokok proses produk diolah melalui lebih dari satu departemen produksi. Jika produk diolah melalui lebih dari satu departemen produksi. Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen produksi pertama sama dengan yang telah dibahas dalam contoh di atas. Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah perhitungan yang bersifat kumulatif. Karena produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah produk jadi dari departemen sebelumnya, yang juga membawa biaya produksi dari departemen produksi sebelumnya.

Maka harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama, terdiri dari:

1.      Biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya.

2.      Biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama. Contoh :

Perhatikan contoh perhitungan biaya produksi per satuan, jika produk diolah melalui dua departemen produksi, dapat diikuti dalam contoh 2 berikut:

PT Xidev Bening Jaya memiliki dua departemen produksi Departemen A dan Departemen B untuk menghasilkan produknya.

Dan produksi dan biaya kedua departemen tersebut dalam bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

Departemen A:

1: Dimasukkan dalam proses = 35.000 kg

·         Produk selesai yang ditransfer ke Dept B = 30.000

·         Jumlah produk selesai yang ditransfer ke gudang = 0

·         Produk dalam proses akhir bulan = 5.000 kg 2: Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 2020:

·         Biaya bahan baku = Rp 70.000

·         Beban tenaga kerja = Rp 155.000

·         Biaya overhead pabrik = Rp 248.000

3: Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir:

·         Biaya bahan baku = 100%

·         Biaya konversi = 20% Departemen B:

1: Dimasukkan dalam proses

·         Produk selesai yang ditransfer ke Dept B

·         Jumlah produk selesai yang ditransfer ke gudang = 24.000 kg

·         Produk dalam proses akhir bulan = 6.000 kg 2: Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 2020:

·         Biaya bahan baku = Rp 0

·         Beban tenaga kerja = Rp 270.000

·         Biaya overhead pabrik = Rp 405.000

3: Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir:

·         Biaya bahan baku = –

·         Biaya konversi = 50%

Perhitungan Harga Pokok Produksi di Departemen A

1.      Cara Menghitung Harga Pokok Produk Selesai

Untuk menghitung harga pokok produk selesai Departemen A yang ditransfer ke Departemen B. Dan harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen A pada akhir bulan Januari 2020, perlu dilakukan penghitungan biaya produksi per satuan yang dikeluarkan oleh Departemen A dalam bulan yang bersangkutan.

Hasil perhitungan ini kemudian dikalikan dengan kuantitas produk selesai yang ditransfer Departemen A ke Departemen B. Dan diperoleh informasi harga pokok produk jadi yang ditransfer tersebut.

Untuk menghitung harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen A pada akhir periode biaya produksi per satuan tersebut dikalikan dengan kuantitas persediaan produk dalam proses, dengan memperhitungkan tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses tersebut.

Untuk menghitung biaya produksi per satuan yang dikeluarkan oleh Departemen A tersebut, perlu dihitung unit ekuivalensi tiap unsur biaya produksi Departemen A dalam bulan Januari 2020 dengan cara perhitungan sebagai berikut:

a.   Biaya Bahan Baku:

Biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh Departemen A bulan Januari 2020 sebesar Rp

70.00 menghasilkan 30.000 kg produk selesai dan 5.000 kg persediaan produk dalam proses. Tingkat penyelesaian 100%.

Dengan demikian unit ekuivalensi biaya bahan baku adalah:

= 30.000 kg + (100% x 5.000 kg) = 35.000 kg.

 

1.        Biaya Konversi:

Biaya konversi yang terdiri dari biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik yang dikeluarkan Departemen A bulan Januari 2020 adalah Rp 155.000.

Dan menghasilkan 300.000 kg produk jadi dan 5.000 kg persediaan produk dalam proses. Tingkat penyelesaian 20%.

Dengan demikian unit ekuivalensi biaya konversi adalah:

= 30.000 kg + (20% x 5.000 kg) = 31.000 kg.

Perhitungan biaya produksi per kg produk yang dihasilkan oleh Departemen A bulan Januari 2020 dihitung dengan membagi tiap unsur biaya produksi, yaitu

·         biaya bahan baku,

·         biaya bahan penolong,

·         biaya tenaga kerja, dan

·         biaya overhead pabrik yang dikeluarkan oleh Departemen A.

Harga Pokok Produksi per Satuan Departemen

Harga Pokok Produksi per Satuan Departemen

Setelah biaya produksi per satuan dihitung, harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen A ke Departemen B.

Dan harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen A pada akhir bulan Januari 2020 dapat dihitung sebagai berikut:

·         Harga pokok produk selesai yang di transfer ke Departemen B:

= 30.000 x Rp 15 = Rp 450.000

·         Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir:

·         Biaya bahan baku: 100% x 5.000 = Rp 10.000

·         Biaya TK: 20% x 5.000 = Rp 5.000

·         Biaya Overhead Pabrik: 20% x 5.000 = Rp 8.000

·         Jumlah biaya produksi Departemen A bulan Januari 2020:

= (a) + (b)

= Rp 450.000 + Rp 23.000 = Rp 473.000

2.        Pencatatan Jurnal Umum Biaya Produksi Departemen

Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen A

Berdasarkan informasi biaya produksi Departemen A tersebut, biaya produksi yang terjadi dalam Departemen A di bulan Januari 2020 dicatat dengan jurnal berikut ini:

A: Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:

[Debit] Barang dalam Proses – By Bahan Baku Dept A Rp 70.000 [Kredit] Persediaan Bahan Baku Rp 70.000

B: Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya TK Departemen A Rp 155.000 [Kredit] Gaji dan Upah Rp 155.000

C: Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik:

[Debit] Barang Dalam Proses – BOP Departemen A Rp 248.000 [Kredit] Berbagai Rekening yang Dikredit Rp 248.000

D: Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh Departemen A ke Departemen B:

[Debit] BDP – Biaya Bahan Baku Departemen B Rp 450.000 [Kredit] BDP Biaya Bahan Baku Departemen A Rp 60.0001 [Kredit] BDP – Biaya Tenaga Kerja Departemen A Rp 150.0002 [Kredit] BDP – Biaya Overhead Pabrik Departemen A Rp 240.0003 Note:


1: 30.000 kg x Rp 2 = Rp 60.000

2: 30.000 kg x Rp 5 = Rp 150.000

3: 30.000 kg x Rp 8 = Rp 240.000

E: Jurnal umum untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai diolah dalam Departemen A di akhir bulan Januari 2020:

[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses – Dept A Rp 23.000 [Kredit] BDP – Biaya Bahan Baku Dept A Rp 10.000

[Kredit] BDP – Biaya Tenaga Kerja Dept A Rp 5.000 [Kredit] BDP Biaya Overhead Pabrik Dept A Rp 8.000

Perhitungan Harga Pokok Produksi di Departemen B

1.        Perhitungan Biaya Produksi

Dari contoh di atas, terlihat bahwa 30.000 kg produk selesai yang diterima oleh Departemen B dari Departemen A, telah menambah total biaya produksi dari Departemen A sebesar Rp 450.000, atau Rp 15 per kg.

Untuk mengolah produk yang diterima dari Departemen A tersebut, Departemen B mengeluarkan biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik bulan Januari 2020 berturut-turut sebesar Rp 270.000 dan Rp 405.000.

Dari 30.000 kg produk yang diolah Departemen B tersebut dapat dihasilkan produk jadi yang ditransfer ke gudang sebanyak 24.000 kg.

Dan persediaan produk dalam proses pada akhir bulan sebanyak 6.000 kg dengan tingkat penyelesaian 50% untuk biaya konversi.

Untuk menghitung harga pokok produk jadi Departemen B yang ditransfer ke gudang dan harga pokok persediaan produk dalam proses pada akhir Januari 2020.

Perlu dilakukan penghitungan biaya per satuan yang ditambahkan oleh Departemen B dalam bulan yang bersangkutan.

Hasil perhitungan ini kemudian dikalikan dengan kuantitas produk selesai yang ditransfer oleh Departemen B ke gudang dan akan diperoleh informasi biaya yang ditambahkan atas harga pokok produk yang dibawa dari Departemen A.

Untuk menghitung harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen B pada akhir periode.

Harga pokok produk yang berasal dari Departemen A harus ditambah dengan biaya produksi per satuan yang ditambahkan Departemen B.

Dikalikan dengan kuantitas persediaan produk dalam proses tersebut dengan memperhitungkan tingkat penyelesaiannya.

Untuk menghitung biaya produksi per satuan yang ditambahkan oleh Departemen B perlu dihitung unit ekuivalensi tiap unsur biaya produksi yang ditambahkan oleh Departemen B dalam Januar 2020.

Dengan cara perhitungan sebagai berikut:

Biaya konversi, yang terdiri dari biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik, yang ditambahkan oleh Departemen B dalam bulan Januari 2020.

Yaitu biaya untuk memproses 30.000 kg produk yang diterima dari Departemen A sebesar Rp

155.000 tersebut.

Di mana dalam proses tersebut menghasilkan 24.000 kg produk jadi dan 6.000 kg persediaan produk dalam proses yang tingkat penyelesaian biaya konversianya sebesar 50%. Hal ini berarti biaya konversi tersebut telah digunakan untuk menyelesaikan produk selesai sebanyak 24.000 kg. Dan 3.000 kg persediaan produk dalam proses.

Dengan demikian unit ekuivalensi biaya konsersi adalah 27.000 kg, yang dihitung sebagai berikut:

= 24.000 + (50% x 6.000)

= 27.000 kg

Perhitungan biaya produksi per kg yang ditambahkan oleh Departemen B dalam bulan Januari 2020 dihitung dengan membagi tiap unsur biaya produksi yang dikeluarkan oleh Departemen B seperti berikut ini:

Perhitungan Biaya Produksi

Perhitungan Biaya Produksi per Satuan yang Ditambahkan Dalam Departemen B

Setelah biaya produksi per kg yang ditambahkan oleh Departemen B dihitung. Harga pokok produksi selesai yang ditransfer oleh Departemen B ke gudang dan harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen B pada akhir bulan Januari 2020 dapat dihitung berikut ini:

·         Harga pokok produk selesai yang ditransfer Departemen B ke gudang:

·         Harga pokok dari Dept A: 24.000 x Rp 15 = Rp 360.000

·         Biaya yang ditambahkan oleh Dept B: 24.000 x Rp 25 = Rp 600.000

·         Total harga pokok produk jadi yang ditransfer Departemen B ke Gudang:

·         24.000 x Rp 40 = Rp 960.000

·         Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir:

·         Harga pokok dari Departemen A: 6.000 x Rp 15 = Rp 90.000

·         Biaya yang ditambahkan oleh Departemen B:

·         Biaya TK: 50% x 6.000 x Rp 10 = Rp 30.000

·         BOP: 50% x 6.000 x Rp 15 = Rp 45.000

·         Total harga pokok persediaan produk dalam proses Dept B:

   = (d) + (e)

   = Rp 90.000 + 75.000

   = Rp 165.000

·         Jumlah biaya produksi kumulatif Dept B bulan Januari 2020:

   = (b) + (f)

   = Rp 960.000 + Rp 165.000

   = Rp 1.125.000

2.        Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen B

A: Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari Departemen A: [Debit] Barang Dalam Proses Biaya Bahan Baku Dept B Rp 450.000 [Kredit] BDP Biaya Bahan Baku Departemen A Rp 60.000 [Kreditit] BDP Biaya Tenaga Kerja Departemen A Rp 150.000 [Kredit] BDP – Biaya Overhead Pabrik Departemen A Rp 240.000 B: Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja:

[Debit] BDP – Biaya Tenaga Kerja Departemen B Rp 270.000 [Kredit] Gaji dan Upah Rp 270.000

C: Jurnal untuk mencatat Biaya Overhead Pabrik:

[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 405.000

[Kredit] Berbagai Rekening yang Dikredit Rp 405.000

D: Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh Departemen B ke gudang:

[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 960.000

[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Departemen B Rp 360.0001 [Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Departemen B Rp 240.0002 [Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Departemen B Rp 360.0003 Note:

1: 24.000 kg x Rp 15 (harga pokok produksi per kg dari Dep A)

2: 24.000 kg x Rp 10 (biaya tenaga kerja yang ditambahkan oleh Dept B) 3: 24.000 kg x Rp 15 (Biaya Ov. Pabrik yang ditambahkan oleh Dept B)

D: Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai diolah dalam Dept B pada akhir bulan Januari 2020:

[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses Dept B Rp 165.000

[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Dept B Rp 90.000 [Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Dept B Rp 30.000 [Kredit] Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabri Dept B Rp 45.000


BAB III PENUTUP

 

 

3.1             Kesimpulan

Metode harga pokok proses adalah metode pengumpulan biaya produksi melalui departemen produksi atau pusat pertanggungjawaban biaya, yang umumnya diterapkan pada perusahaan yang menghasilkan produk atau massa. Metode harga pokok proses biasanya digunakan oleh perusahaan yang menghasilkan produk yang sama (homogen) dan melalui serangkaian proses yang sama.

Dalam perusahaan yang memproduksi produknya secara massa, karakteristik produksinya antara lain adalah produk yang dihasilkan merupakan produk standar dan sama setiap bulan. Metode pengumpulan harga pokok proses memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.      Sifat produksinya terus menerus.

2.      Pengumpulan harga pokok produk dilakukan periodik, biasanya setiap akhir bulan.

3.      Perhitungan harga pokok per satuan dilakukan setiap akhir periode, misalnya setiap akhir bulan.

3.2             Saran

Semoga dengan adanya makalah ini diharapkan akan menambah minat mahasiswa untuk membaca, mempelajari, dan menambah rujukan atau referensi mengenai materi “Penentuan harga Pokok Produk: Metode harga pokok proses (Process Cost)” Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya yang telah membaca, dan saya selaku penyusun makalah ini.