KUMPULAN MAKALAH : 01/12/20

Sunday, January 12, 2020

MAKALAH KERAJINAN DARI BAHAN KERAS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bambu merupakan kekayaan hutan bukan kayu yang merupakan bagian dari kekayaan sumber daya hutan Indonesia. Bambu dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengurangan penebangan kayu di hutan yang semakin terbatas keberadaannya. Di desa-desa, pemanfaatan bambu seringkali terlihat pada perlengkapan rumah tangga. Namun sekarang makin berkembang menjadi industri, sehingga bagi masyarakat di pedesaan dikategorikan sebagai penunjang utama perekonomian masyarakat desa.
Bambu memiliki kemudahan, antara lain penanamannya cukup dilakukan sekali saja karena bambu akan berkembang biak dengan sendirinya dan mudah tumbuh pada habitat yang sesuai dan elanjutnyan dipanen sesuai kebutuhan. Pertumbuhan bamboo tidak terlepas dari factor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan optimal dari tanaman bamboo itu sendiri. Peningkatan penggunaan beberapa jenis bamboo menyebabkan tanaman rakyat terekploitasi secara tidak terkendali tanpa diimbangi dengan tindakan pembudidayaan. Hal tersebut dikarenakan informasi dan pengetahuan tentang budidaya jenis-jenis bamboo masih sangat kurang, demikian pula pengenalan terhadap jenis-jenis bamboo yang ada di Indonesia serta oemanfaatannya.
Oleh karena itu, pengembangan tanaman bambu khususnya pada jenis-jenis umumnya telah digunakan maupun yang belum dikenal oleh masyarakat namun mempunyai banyak manfaat.

1.2 Rumusan Masalah
·         Apa saja jenis bambu yang umum dimanfaatkan?
·         Bagaimana proses pengoahan bambu?
·         Bagaimana cara pengawetan bambu?
·         Bagaimana riset pasar pada bambu?


1.3 Tujuan
·         Mengetahui jenis bambu yang umum dimanfaatkan
·         Memahami proses pengoahan bambu
·         Mengetahui cara pengawetan bambu
·         Mengerti riset pasar pada bambu




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bambu
Bambu merupakan tanaman sebangsa rumput yang banyak tumbuh di Indonesia. Bambu secara botanis dapat digolongkan pada family Graminese (rumput). Tanaman ini dapat tumbuh di daerah beriklim panas maupun dingin. Bambu tumbuh secara bergerombol membentuk rumpun. Tunas-tunas mudanya keluar dari rimpang dan membentuk suatu rumpun dengan banyak buluh bambu. Bambu merupakan tanaman berdaun tunggal, tersusun berselang-seling di ujung buluh atau ranting-rantingnya. Perakaran tanamannya bamboo sangat kuat, karena rimpangnya bercabang-cabang dan punya ikatan kuat yang sukar dipisahkan. Tanaman bambu banyak ditanam di daerah-daerah miring atau dipinggir sungai dan sekaligus berfungsi untuk mencegah erosi atau tanah longsor (haryoto, 1996).
Tanaman bambu jarang berbunga, tetapi ada yang menyebut bahwa bambu hanya berbunga setiap 35 tahun. Pengembangbiakan bamboo umumnya dilakukan dengan tanaman potongan buluh yang mengandung tunas cabang. Walaupun bamboo mudah tumbuh dan harganya murah, namun sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Rebung bamboo bias dimasak orang untuk sayur. Bambu yang sudah tua dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan (haryoto, 1996).

2.2 Proses Produksi
Produksi merupakan suatu aktivitas fisik berupa pengubahan bentuk, sifat, atau tampilan suatu material untuk memberikan nilai tambah (Baroto, 2003). Produksi juga dapat diartikan sebagai cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu produk dengan mengoptimalkan sumber daya produksi (tenaga kerja, mesin, bahan baku) yang ada (Nasution, 2003).



2.3 Riset Pasar
Riset pasar atau riset pemasaran merupakan suatu fungsi yang menghubungkan konsumen, pelanggan, dan masyarakat dengan para pemasar melalui informasi-informasi yang digunakan untuk mengidentifikasikan peluang dan masakah pemasaran, menghasilkan, menyaring, dan mengevaluasi aktivitas-aktivitas pemasaran, memonitor kinerja pemasaran, dan meningkatkan pemahaman atas pemasaran sebagai suatu proses. Informasi-informasi yang dapat diperoleh pada riset pasar adalah (Churchill, 2001):
·         Menciptakan ide-ide untuk aktivitas-aktivitas pemasaran, termasuk identifikasi masalah dan peluang pemasaran
·         Mengevaluasi aktivitas pemasaran
·         Membandingkan kinerja vs pemasaran
·         Meningkatkan pemahaman umum mengenai fenomena dan proses pemasaran















BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Jenis-jenis Bambu
Jenis bambu di Indonesia sangat banyak macamnya, namun ada beberapa jenis bamboo yang dianggap penting dan umum dipasarkan di Indonesia. Macam-macam bambu tersebut antara lain
1. Bambu Betung
Bambu betung sifatnya keras baik untuk bahan bangunan karena seratnya besar-besar dan ruasnya panjang. Bambu ini dapat dimanfaatkan untuk saluran air, penampungan air aren yang disadap, dinding rumah yang dianyam (gedek atau bilik), dan berbagai jenis barang kerajinan.

2.  Bambu Bali
Jenis bambu ini banyak digunakan untuk tanaman hias karena tanamannya unik dan menarik.

3. Bambu Gendang
Kegunaan dari bambu ini juga sama dengan bambu bali yaitu dipakai untuk tanaman hias dan mempunyai nilai ekonomis untuk dikembangbiakan.

4. Bambu Kuning
Bambu kuning merupakan bambu yang banyak dimanfatkan untuk keperluan mebel, bahan pembuat kertas, kerajinan tangan dan dapat ditanam di halaman rumah karena cukup menarik sebagai tanaman hias serta untuk obat penyakit kuning atau lever.

5. Bambu Cendani
Batang bambu Cendani dapat digunakan untuk tangkai payung, pipa rokok, kerajinan tangan seperti tempat lampu, vas bunga, rak buku, dan berbagai mebel dari bambu.
6. Bambu Cangkoreh
Bambu Cangkoreh dapat digunakan utuk anyaman atau tempat jemuran tembakatu dan untuk obat misalnya obat tetes mata dan obat cacing.

7. Bambu Andong
Bambu Andong sebagian besar digunakan untuk membuat berbagai jenis kerajinan tangan, bahan bangunan, dan untuk chopstick.

8. Bambu hitam
Bambu hitam sangat baik untuk pembuatan alat musik seperti angklung, gambang, atau calung dan dapat juga digunakan untuk furniture dan bahan kerajinan tangan.

9. Bambu Tutul
Bambu Tutul sebagian besar digunakan untuk furniture, untuk dinding, dan lantai rumah, serta untuk kerajinan tangan.

10. Bambu Ater
Jenis bambu ini biasa digunakan orang untuk dinding rumah, pagar, alat-alat rumah tagga, kerajinan tangan dan ada juga yang menggunakan untuk alat musik.

11. Bambu Apus
Batang bambu Apus berbatang kuat, liat, dan lurus. Jenis ini terkenal paling bagus untuk dijadikan bahan baku kerajinan anyaman karena seratnya yang panjang kuat, dan lentur.



3.2 Proses Produksi Produk dari Bambu
Bambu diproduksi menjadi bahan yang mempunyai barang yang lebih mempunyai nilai ekonomis. Namun, proses pengolahan bambu di Indonesia tergolong sederhana. Produk olahan dari bambu antara lain:

1. Bambu untuk anyaman
Bambu yang digunakan untuk anyaman pertama dipotong dengan menggunakan parang tajam atau gergaji bergerigi halus. Pemotongan bambu dilakukan dengan hati-hati. Pemotongan bambu untuk anyaman tidak boleh mengelupaskan kulitnya karena akan menyulitkan proses selanjutnya. Selanjutnya Bambu harus dikuliti. Kulit luar yang halus dan berwarna disayat atau dibuang. Kemudian pembelahan, membelah bambu dengan cara yang salah akan menghasilkan belahan bambu yang tidak simetris sehingga menyulitkan proses pengolahan selanjutnya dan banyak menghasilkan sisa limbah.

2. Bambu untuk pelupuh
Batangan bambu yang ruasnya dibelah dengan kapak atau parang. Kemudian bambu dibelah sepanjang batang pada satu sisi dan selanjutnya celah direntangkan. Sekat rongga pada masing-masing ruas dihilangkan sampai dinding batang bambu dapat dipukul-pukul, diratakan sehingga menjadi pelupuh (papan bambu).

3. Bambu untuk kursi
Kursi bambu merupakan salah satu pemanfaatan bambu yang sampai kini terus berkembang. Tempo dulu orang hanya mengenal bangku panjang, ada yang menggunakan sandaran (lincak). Bambu untuk lincak, umumnya menggunakan bambu tutul atau bambu wulung.

3.3 Pengawetan Bambu
Tanaman bambu mudah rusak oleh hama pengisap cairan yang disebut Oregma bambusae.Hama ini akan melibas rebung dan pucuk tanaman bambu muda yang telah tumbuh menjulang tinggi. Faktor lain yang menyebabkan kerusakan bambu adalalah pengaruh alam, misalnya iklim, cuaca, kelembapan udara, air hujan, penetrasi sinar matahari, suhu udara, dan serangan organism perusak. Penyebab kerusakan non-biologis yang terpenting adalah air. Kadar air yang tinggi menyebabkan kekuatan bambu menurun dan mudah lapuk.
Pengawetan bambu bertujuan untuk menaikkan umur pakai dan nilai ekonomis bambu. Pengawetan perlu dilakukan, namun jarang diterapkan oleh orang karena kurangnya pengetahuan tentang teknik pengawetan, kurangnya fasilitas untuk metode perlakuan tertentu dan ketersediaan bahan kimia. Bambu tanpa perlakuan pengawetan, apabila dibiarkan bersentuhan secara langsung dengan tanah dan tidak terlindungi dari cuaca, hanya mempunyai umur pakai sekitar 1-3 tahun.

Metode Pengawetan
Tingkat kebergasilan pengawetan bambu dengan metode kimia tergantung dari beberapa faktor, yaitu:
·         Kondisi fisik bambu sebelum diawetkan
·         Berat jenis bambu
·         Umur bambu
·         Musim
·         Jenis bahan pengawet
·         Posisi dan ukran bambu

Bambu segar lebih mudah diberi perlakuan dibanding bambu yang sudah kering. Makin tinggi berat jenis bambu, maka semakin si=ulit diawetkan karena ikatan pembuluhnya makin rapat dan kandungan serabutnya makin banyak. Makin tua umur bambu, kadar airnya makin turun sehingga bambu makin sulit diawetkan. Metode kimia lebih baik diterapkan pada musim hujan. Penetrasi pengawet akan lebih baik bila digunakan senyawa garam laut  dalam air.

Pengawetan bambu dalam jumlah yang kecil akan menaikkan biaya pengawetan. Aspek ekonomis yang perlu dipertimbangkan adalah biaya pengawetan. Aspek ekonomis yang perlu dipertimbangkan adalah biaya pengangkutan dari hutan (kebun) ke tempat pengawetan. Suatu metode pengawetan dikatakan ekonomis apabila umur pakai bambu dapat mencapai waktu 10-15 tahun, untuk bambu dalam keadaan terbuka, dan 15-25tahun untuk bambu yang diberi perlindungan tertentu.
Metode pengawetan bambu ada dua macam yaitu:

1. Metode non-kimia
Pengawetan bambu secara non-kimia dilakukan dengan pengeringan dan perendaman dalam air atau perebusan dalam air mendidih.
a. Pengeringan dan Perendaman
Bambu utuh yang baru ditebang disandarkan dengan kemiringan 75 derajat agak tegak di bawah naungan pohon yang teduh dan dibiarkan sampai kadar airnya berkurang dan berubah warna menjadi kuning dan kering atau setengah kering. Bambu disandarkan ditempat terbuka dengan tujuan agar bambu tersebut tidak melengkung dan menghindari kekeringan yang tidak merata.
Bambu yang sudah berubah warna dan benar-benar kering selanjutnya direndam dalam kubangan air (kolam) yang menggenang atau mengalir selama 1-6 bulan. Volume air perendaman bambu harus melebihi permukaan bambu paling atas agar semua dapat terendam. Perendaman bambu sebaiknya dibebani dengan pemberat untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Pengawetan bambu dengan cara pengeringan dan perendaman kurang baik untuk bahan baku kerajinan anyaman. Bambu yang terlalu lama direndam sulit dibelah menjadi irisan halus, bersifat rapuh dan warnanya buram. Namun bambu untuk bahan baku anyaman juga perlu dilakukan perendaman tetapi hanya 7-10 hari.

b. Perebusan
Tempat perebusan untuk pengawetan bambu dapat berupa drum bekas atau wadah lain yang ditaruh di atas tungku. Drum berisi air sebanyak 75% bagian, kemudian direbus hingga mendidih.


2. Metode kimia
Pengawetan secara kimiawi bertujuan mencegah kerusakan bambu dari serangan serangga atau jamur. Bahan-bahan yang digunakan untuk pengawetan antara lain soda ai, abu, prusi, natrium bisulfit, dan lain-lain. Bahan- bahan tersebut dapat dipakai berulang-ulang dan cara penggunaan bahan pengawet ini cukup praktis dan tidak berbahaya.
1) Pengawetan dengan Soda Api (NaOH)
Cara pengawetan ini adalah dengan memasukkan soda api ke dalam air, kemudian direbus hingga mendidih sambil diaduk agar bahan tersebut larut dalam air. Kemudian potongan bambu dicelupkan dalam larutan selama 5-30 menit. Selanjutnya diangkat, dicuci bersih dan dikeringkan.

2) Pengawetan dengan Prusi
Prusi merupakan bahan kimia berwarna biru berupa gumpalan (bongkahan) kecil seperti gula batu. Bambu direbus dalam air mendidih yang mengandung prusi sebanyak 5%-10% selama 5-30 menit. Setelah itu diangkat, dicuci bersih dan dikeringakan.

3) Pengawetan dengan Soda Abu atau Natrium Bisulfit
Cara ini juga hamper sama dengan pengawetan soda api. Soda abu dimasukkan ke dalam air mendidih kemudian memasukkan bambu selama 60 menit. Setelah direbus kemudian bambu tersebut diangkat, dicuci bersih dan dikeringkan.
Beberapa metode pengawetan bambu yang dapat diterapkan antara lain:
·         Curing
Mula-mula batang bambu dipotong pada bagian bawah tetapi cabang dan daunnya tetap disisakan. Kemudian, selama waktu tertentu rumpun bambu tersebut disimpan di dalam ruang khusus. Karena proses asimilasi daun masih berlangsung, kandungan pati ruas bambu akan berkurang. Akibatnya, ketahanan bambu terhadap serngan kumbang bubuk meningkat. Tetapi metode ini tidak berpengaruh terhadap serangan jamur atau rayap.

·         Pengasapan
Bambu diletakkan di atas rumah perapian selama waktu tertentu sampai pengaruh asap menghitamkan batang bambu. Proses pemanasan menyebabkan terurainya senyawa pati dalam jaringan parenkim. Efek negatif dari metode ini adalah kemungkinan terjadinya retak yang dapat mengurangi kekuatan bambu.

4) Metoda Butt Treatment
Bagian bawah batang bambu yang baru dipotong diletakkan di dalam tangki yang berisi larutan pengawet. Cabang daun pada batang tetap disisakan. Karena prosesnya memakan waktu yang lama, metode ini hanya tepat diterapkan pada batang bambu yang pendek dan berkadar tinggi.

3.4 Riset Pasar Bambu
Pemasaran bambu bisa berupa kursi, anyaman, bahan bangunan, dan ada juga yang dijual dalam bentuk tanaman bambu hias. Bambu hias sekarang tengah banyak dicari konsumen. Alasannya, penampilan tanaman bambu unuk dan menawan. Bambu yang dimanfaatkan untuk tanaman hias yaitu bambu kuning, bambu Cendani, bambu Sian, bambu Macan. Bambu dijual dengan harga yang lebih murah daripada kayu dan di luar negeri dapat dimanfaatkan menjadi kayu lapis. Tidak hanya itu, permintaan bambu juga meningkat, karena industri kertas sekarang ini lebih memanfaatkan bambu sebagai bahan baku pembuatan kertas untuk mengganti sebagian kayu.

3.5 Kipas Bambu (Ilir Bambu)
Bambu merupakan pohon yang termasuk beraneka ragam jenis dan fungsinya, bahkan sebuah Negeri yang kita cintai ini berhasil di rebut kembali dari Penjajah oleh bambu runcing, yang di jadikan senjata utama oleh para Pejuang dulu. Waktu demi waktu, jama sudah berubah pun dari Era Tradisional, sampai sekarang yang di di sebut jaman Moderen pun, fungsi bambu masih kita pakai, bahkan semakin meningkat dengan adanya tangan-tangan trampil, diantaranya tidak sedikit sebuah cafe yang terkenal, gedung, atau bahkan hotel dan apartemen menggunakan arsitek bangunannya dari bambu.
Mungkin selain ingin meneruskan sebuah tradisi dari keluarga saya yang berasal dari keluarga Anyaman. Saya pribadi berinisiatif mengangkat sebuah seni yang berasal dari bahan bambu, yaitu Anyaman, dan sanya yakin seni dari bambu tidak akan silam di telan jaman, bisa saya buktikan seni music diantaranya yang dari bamboo seperti Angklung, sekarang sudah terkenal sampai Luar Negri. Tidak  menutup kemungkinan seperti yang saya bahas ini yaitu Ayaman bisa seperti Angklung, bahkan lebih mungkin, sampai terkenal ke Negara tetangga dan bahkan terkenal di seluruh dunia, di suatu saat nanti itu yang saya harapkan.
3.5.1 Anyaman
Anyaman merupakan sebuah tradisi yang sifatnya turun temurun, dan juga merupakan sebuah hobi, atau sebuah kerjaan sampingan, bahkan sampai pekerjaan pokok untuk menghidupi anak istri. Akan tetapi waktu demi waktu anyaman semakin meningkat permintaanya di pasaran. Sampai harganya pun lebih mahal di banding dengan produk bahan bangunan yang termasuk bahan bangunan modern. Kenapa? Karna di samping pembuatanya secara manual, tahan produknya pun bisa puluhan tahun.
3.5.2 Macam-macam Ayaman
a.          Anyaman Tunggal
Ayaman tunggal yaitu ayaman yang dibuat secara tungal/satu-satu di anyamnya. Ayaman ini bisa di gunakan untuk membuat kerajinan:
-                    Saringan
-                    Tampan/Cetakan pembuata Tahu
-                    Cerangka dll

b.          Anyaman bilik
Ayaman bilik yaitu: anyaman yang di buat/disilang secara berurutan dengan melewati/menganyamnya dua-dua. Ayaman ini bisa di gunakan untuk membuat
-                    Bilik
-                    Nyiru/tampan alat napi beras dan padi
-                    Kombinasi di anyaman kerajinan yang lain.



c.          Anyaman terateai
Anyaman teratei yaitu sebuah anyaman yang sangat unik dan indah, berfungsi untuk membuat bilik bangunan/gubuk dengan harapan hanya sekedar sebuah seni bangunan.

d.          Ayaman Bunga Cengkih dll
Jenis ayaman ini bisa kita jumpai di beberapa anyaman seperti kipas, tolok/kecempeh, bakatul/sangku, dll.

Bahan-bahan :
·         Bambu
·         Kayu
·         Tali rotan
·         Tali dari plastik
·         Alat
·         Regaji
·         Golok
·         Pisau Raut
·         Jara/Paku

Cara Pembuatan :
·         Pengambilan bambu
·         Pertama-tama kita hati-hati, waspada, penuh pertimbangan, dan tanggungjawab.
·         Pastikan kita memilih bambu yang muda dan tidak terlalu tua
·         Tidak semua bambu bisa kita pakai untuk membuat anyaman, karna jenis bambu sangat banyak dan fungsinya pun berbeda-beda, di sini yang kita pilih untuk anyaman adalah Bambu Tali.
·         Cari bambu yang ujung dan rantingnya tidak menyatu dengan bambu lain, karna untuk memudahkan kita nanti menarik pohonnya.
·         Bersihkanlah ranting-ranting yang sekiranya menghalangi langkah kita karna di kebun bambu biasanya di pakai sarang ular.
·         Perhatikan buku bambu harus panjang ukuran dagingnya sekitar 40-50 cm, hal ini membantu kita mempermudah mengolah bambu dan dalam menganyamnya nanti.
·         Sesudah di pastikan bambu pas umur dan panjangnya buat di jadikan kipas sebelum kita tebang.
·         Ketika kita menebang harus memperhatikan arah pohonnya dan dari dagu pohon bambu itulah kita di sarankan memulai pemotongannya, agar bambu bisa jatuh mengarah kepada arah condongnya. Jangan coba-coba sampai memotong dari arah pundak/arah atas badan bambu. Karna memang pundak bambu sepintas enak dan nyaman di potongnya tapi kalau kita potong pundaknya akan langsung membelah dan mengarah wajah kita, peristiwa ini sering terjadi karna akan kurangnya ke waspadaan kita, akibatnya wajah kita yang jadi sasaran bambu. Maka dari itu di sarankan hati-hati dan waspadalah ketika menebang bambu.
·         Sesudah pohon bambu jatuh, kita membersihkan rantingnya, sampai ke ujung yang sekiranya tidak terpakai.
·         Bagian yang kita ambil untuk membuat anyaman adalah bagian tengahnya, karna dari bagian itulah yang paling bagus dan cocok untuk membuat anyaman, tapi kalau kita mengambil bagian pohon bambu yang puhunya kita pasti kesulitan karna di bagian itu sangat keras dan biasanya pendek ukuran bukunya.

3.5.3 Macam-macam bambu dan fungsinya
-                    Bambu Tali
Untuk membuat berbagai anyaman, bahan bangunan, bahan membuat tangga, bahan pembuatan tali/pengikat kayu bakar, pagar, sasak, tiang dll
-                    Bambu Gombong
Bambu gombong merupakan bambu yang termasuk kelas bambu besar dan panjang ukurannya di banding dengan bambu yang lain, dan ini fungsinya untuk bangunan, pembuatan pagar rumah merupakan hal yang bagus karna konstruksi urat bambunya sangat rapih dan gampang di atur, untuk bahan tiang ini juga sering di pakai karna selain besar, dia juga kokoh dan tahan cuasa. Untuk bahan keramba ikan, untuk bahan reng genteng atap rumah, dan uniknya walaupun ukuranya besar tapi enak kalau di makan di jadikan sayur.
-                    Bambu Tamiang
Bambu tamiang merupakan bambu yang hidupnya mayoritas tidak di pelihara dan banyak di jumpai di pinggir-pinggir sungai sepanjang pulau jawa. Biasanya para petani menggunakannya untuk bangunan, bahan saung sawah, dan mayoritas kelebihan bambu ini suka si buat bahan Tanggungan/ di Bahasa Sunda di sebut istlah Rancatan/alat untuk memikul. Dan masayrakat menggunakannya di jadikan untuk sayuran bagi bambu yang masih kecil kira-kira berukuran pendek sekitar 10cm-30cm.
-                    Bambu Bareg-beg
Bambu ini merupakan bambu yang panjang ukuran bukunya, kecil, dan hidupnya sama seperti bambu tamiang di tepi sungai. Fungsi bambu ini karna ukurannya kecil dan panjang, untuk gantar, untuk senjata sumpit, untuk bahan tempat jemuran baju kalau di pedesaan, dan para seniman music mereka memanfaatkan untuk bahan suling dan hiasan yang di buat dari bambu.
-                    Bambu Haur Geulis/ Bambu Teumen
Ini merupakan bambu yang struktur pohonnya kelihatan bagus dan rapih, maka masyarakat menyebutnya dengan bambu haur geulis, fungsi bambu ini masyarakat menggunakan untuk bahan pancingan, tangga, gantar, tongkat untuk anak-anak Pramuka, dan kalau masih kecil masyarakat memanfaatkannya untuk sayuran.
-                    Bambu Haur Kuning
Jenis bambu ini berbeda dengan bambu yang umumnya, karna selain warnanya kuning dia juga ada hokum mitosnya, konon bambu ini merupakan sebuah senjata yang sangat ampuh dan pernah di gunakan dulu oleh para pejuang kita, dan pada masyarakat sekarang ini sebuah senjata yang di gunakan untuk menaklukan orang jahat yang menggunakan ilmu Rawa Rontek yaitu sebuah ilmu yang bisa menyambungkan kembali organ yang di potong, atau ilmu yang lain dan biasa di gunakan oleh orang-orang jahat, bambu inilah senjata ampuh yang bisa menaklukan hal tersebut. Di era modernisasi sekarang bambu ini di jadikan hiasan halaman, atau hiasan sebuah kafe, bahkan hiasan sebuah apartemen sekalipun, memang indah, menarik bentuknya. Di samping ini semua bambu ini merupakan bambu yang enak di konsumsi, ketika masih kecil.
-                    Bambu Hitam
Bambu macam ini merupaka bambu yang popular dan sering kita jumpai di berbagai kesenian, hal tersebut tidak aneh karna bambu ini merupakan bambu yang indah, dan unik, mayoritas di pergunakan untuk bermacam-macam seniman, bahan bangunan, bahan membuat angklung, calung, anyaman pun sering kita lihat sebuah kafe dan restoran yang menggunakan bangunan tradisional anyaman bilik, tiang dll memakai bambu hitam yang di ukir sedemikian rupa.

3.5.4 Pengolahan bambu
Bambu yang sudah di tebang kita potong perbuku dengan menggunakan regaji supaya rapih hasilnya, dan usahakan jangan dengan bukunya kita ambil dagingnya saja.
-                    Setelah  di potong kita bersihka hinis/kulit yang bisa melukai kulit kita.
-                    Usahakan pengerikan kulit tadi sama rata dan rapih.
-                    Setelah beres perngerikan baru kita memulai pembelahan dan pengirisan, kita sesuaikan saja dengan besar kecilnya bulatan bambu.
-                    Setelah pengirisan lalu kita keringkan bisa dengan sinar matahari atau kita bisa dengan cara di ganggang di atas tumpu.
-                    Sesudah kira-kira kering rata kita sebit dengan menggunakan pisau raut/pisau lain asalkan tajam, dan di usahakan pisaunya tipis tapi keras. Dari sinilah kita di tuntut harus hati-hati karna banyak yang gagal dan urat bambu biasanya susah di sebit kalau kita belum biasa.
-                    Kita sebit dengan ukuran tipis agar kipasnya lenrut dan mudah untuk di anyamnya.
-                    Kemudian kita lihat apakah masih perlu pengeringan atau tidak, caranya kita coba raut/bersihkan bulu-bulu pori-pori daging bambu, kalau kelihatan sudah kering maka kita teruskan saja raut, tapi kalau bulunya masih mengembag dan susah di bersihkannya itu berarti masih perlu pengeringan.
-                    Perautan. Dalam perautan/perapihan terakhir ini kita memerlukan sekil yang harus hati-hati karna sama seperti pengirisan tadi pasti banyak yag terbuang karna selain bamboo sudah kering, dan tipis maka pasti sering kita terpotongnya,
-                    Dalam proses perauta kita menggunakan tangan atau paha kita.
-                    Gunakan kain di tangan dan paha  kita agar tidak terkena irisan/terusuk oleh pori-pori bamboo.
-                    Bahan anyaman kita ikat agar tidak berantakan.
-                    Setelah beres peralatan kita menuju ke anyaman.

Fungsi kayu disini yaitu untuk dijadikan sebagai gagang kipas, dan untuk penjepit ujung anyaman. Kayu yang kita perlukan tidak susah, ranting pohon pun bisa dijadikan sebagai gagang kipas, akan tetapi cara pembelahanya harus ekstra hati-hati, karna akan mempengaruhi kerapian.
Yang disarankan untuk bahan kayu yaitu:
-                    Albasia karan struktur kayunya lembut dan mudah untuk kita gergaji/di belah, akan tetapi mudah untuk patah.
-                    Mahuni, jenis kayu ini memang keras dan lentur, aka tetapi kuat untuk dijadikan gagang dan rapi kelihatannya, di sarankan cara pembelahanya kita menggunakan gergaji karna urat kayu didalamya sangat rapat dan susah di belah.
-                    Afrika, kayu ini memang jarang di gunakan karna jarang di temui, tapi bahannya bagus karena mayoritas pohon dan rantingnya lurus, kayu ini hampir sama dengan mahuni, tapi kalau kita bandingkan lebih keras mahuni, dan terdapat serabut di dalamnya.
-                    Salam, jenis kayu ini sangat keras dan berat, akan tetapi mudah untuk di belah. Mayoritas tumbuhnya di tepi sungai dan jarang manusia menanamnya secara sengaja jadi tumbuhnya dengan alam/burung/ tapi kebanyakannya oleh kelelawar karna buahnya yang di makan oleh kelelawar dan kalong.

Fungsi/Kegunaan Kipas dari Bambu
Diantataranya:
-                    Ciri khas adat (adat sunda)
-                    Di sebuah adat memang erat kaitannya baik dari segi kesenian, bahasa, samapi alat-alat rumah tangga sekalipun, ini penting dan merupakan dari cirri has adat itu sendiri, kalau di Kota Bandung itu ada tempat yang namanya yaitu Musium Sri Baduga, disana terdapat sebuah cirri-ciri has Adat Sunda yang kumplit, diantaranya yaitu alat-alat masak seperti Anyaman Kipas.
-                    Untuk alat-alat masak dalam  rumah tangga (menanak nasi).
-                    Di pedesaan seperti daerah Tasikmalanya, Ciamis, Garut, kipas ini sebagai alat rumah tangga, dan fungsinya untuk menanak nasi, dan mendinginkan makanan.
-                    Untuk pembakaran sate
-                    Pedagang sate mayoritas menggunakan alat tradisional, dari muali jenis arangnya, kipasnya, agar kualitas aroma dan rasanya.
-                    Untuk menghilangkan rasa gerah
-                    Di pedesaan biasanya menghilangka rasa gerah dengan menggunakan anyaman kipas, selain bernilai ekonomis mereka juga bisa sambil duduk bercanda gurau di depan rumah, atau sabil ngopi, setelah seharian menguras tenaga, pulang dari sawah.




















BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.          Sejak munculnya barang-barang produk modern, barang hasil kerajinan anyam bambu tergeser dari pasaran sehingga menyebabkan pendapatan masyarakat mengalami penurunan.
2.          Harga bahan baku yang kian melambung tinggi menjadi kendala utama dalam penyediaan bahan baku.

4.2 Saran
Dalam uraian ini penulis ingin mengemukakan beberapa saran. Adapun saran yang ingin penulis sampaikan antara lain :
1.      Untuk tetap melestarikan seni anyam bambu hendaknya dibentuk sebuah lembaga desa yang bisa memasarkan hasil produksi anyaman bambu.
2.      Bagi para pengrajin hendaknya berusaha lebih kreatif lagi dalam membuat anyaman bambu.