KUMPULAN MAKALAH : 02/01/22

Tuesday, February 1, 2022

MAKALAH KEPERAWATAN PALIATIVE

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Field trip di RSUP Sanglah merupakan program belajar dari mata kuliah keperawatan paliatif yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung dan nyata kepada para mahsiswanya. Paliative care merupakan suatu bentuk perawatan yang bisa didapatkan oleh pasien yang menderita penyakit kronis dengan stadium lanjut, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitias hidup penderitanya. Peningkatan hidup dilakukan dengan cara pendekatan dari sisi fisik, psikologis, spiritual sehingga membuat pasien lebih tenang, nyaman ketika menjalani pengobatan. RSUP Sanglah merupakan salah satu rumah sakit terbesar khusus penyakit paliative care yang berada di Denpasar Bali.

Perawatan paliatif adalah pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan terhadap rasa sakit dan memberikan dukungan fisik, psikososial dan spiritual yang dimulai sejak tegaknya diagnosa hingga akhir kehidupan pasien. Perawatan paliatif ini ditujukan untuk orang yang menghadapi penyakit yang belum dapat disembuhkan seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif kronis, cystic fibrosis, stroke, parkinson, gagal jantung/heart failure, penyakit genetika dan penyakit infeksi seperti HIV/AIDS.

Perawatan paliatif di Indonesia sudah berkembang sejak tahun 1992 dan kebijakan perawatan paliatif telah diatur dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan RI No. 812, tertanggal 19 Juli 2007.SK tersebut merupakan suatu instruksi resmi yang diberikan kepada seluruh institusi pelayanan kesehatan di Indonesia untuk mengembangkan layanan perawatan paliatif di tempat masing-masing.

Beberapa rumah sakit yang sudah memberikan pelayanan perawatan paliatif, yaitu hanya ada di 5 kota besar yaitu DKI Jakarta (RSCM dan RS Kanker Dharmais), DIY (RS Dr. Sardjito), Surabaya (RSUD Dr. Soetomo), Denpasar (RS Sanglah) dan Makassar (RS Wahidin Sudirohusodo). Gambaran lain pelaksanaan perawatan paliatif di RSUP Sanglah Denpasar yaitu perawatan paliatif baru mulai diberikan pada pasien dengan kondisi terminal yang akan segera meninggal. Hal ini dikarenakan keterbatasan sumber daya dari tim perawatan paliatif. Perawatan paliatif ini diberikan pada pasien rawat inap, rawat jalan, maupun kunjungan/rawat rumah yang tujuannya adalah untuk mencegah dan meringankan penderitaan, memperpanjang umur, meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan dukungan kepada keluarga.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.    Apa saja pemahaman tentang palliative care ?

2.    Apa itu prinsippaliative care pada kasus HIV/AIDS yang diterapkan di RSUP Sanglah Bali ?

3.    Apa saja yang didapatkan dari field trip palliative care di RSUP Sanglah Bali ?

4.    Bagaimana penanganan pasien-pasien palliative care di RSUP Sanglah?

C.    TUJUAN

1.    Untuk memahami tentang palliative care

2.    Untuk mengetahui tentang prinsip paliative care pada kasus HIV/AIDS yang diterapkan di RSUP Sanglah Bali.

3.    Untuk mengetahui tentang field trip palliative care di RSUP Sanglah Bali.

4.    Untuk mengetahui tentang Bagaimana penanganan pasien-pasien palliative care di RSUP Sanglah.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Pemahaman tentang palliative care

Perawatan Paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan spiritual psikososial mulai saat diagnosis ditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap keluarga yang kehilangan / berduka. (AIDS Education & Training Center Program – National Coordinating Resource Center, 2014)

B.       Prinsip paliative care pada kasus HIV/AIDS yang diterapkan di RSUP Sanglah Bali

Pasien dengan kasus HIV/AIDS memiliki berbagai macam keluhan, salah satunya adalah pasien merakan nyeri.Selain nyeri, pasien juga merakan keluhan dari beberapa aspek, diantaranya yaitu.Hal-hal semua yang diberikan dalam palliative care pada pasien (total care) :

1.    Nyeri

2.    Spriritual

3.    Cultural

4.    Sosial

5.    Psychological

6.    Physical symptomps

Paliative care memiliki prinsip-prinsip untuk menangani kasus HIV/AIDS. Prinsip-prinsip paliative care untuk kasus HIV/AIDS juga dijalankan di RSUP Sanglah, Bali, dan prinsip yang diterapkan diantaranya sebagai berikut :

1)   Manajemen nyeri

Manajemen nyeri sangat penting dilakukan untuk kenyamanan dan mengurangi penderitaan pasien.Profesional perawatan kesehatan dan keluarga dapat berkolaborasi untuk mengidentifikasi sumber-sumber rasa sakit dan menyembuhkan kembali dengan obat atau bentuk terapi lainnya.

2)   Manajemen gejala penyakit

Manajemen gejala penyakit melibatkan pengobatan gejala selain rasa sakit seperti rasa mual, kelemahan usus, kandung kemih, gejala gangguan mental, kelelahan dan kesulitas bernafas.

3)   Dukungan emosi dan spiritual

Dukungan emosi dan spiritual penting diberikan kepada paien dan keluarga dalam menangani tuntutan emosional penyakit kritis.

Pendektan psikologis  yaitu sadar dengan adanya stress saat diagnosa dukungan        mengakui, menyadari dan menerima kenyataan        berbicara dengan orang-orang yang dapat dipercaya dan berbagi perasaan. Bertanya pada tim kesehatan dan begabung dengan komunitas.

Mencari penyebab stress perhatikan dan amati asal stress apakah dari keluarga, pekerjaan, hubungan interpersonal yang buruk, perlakuan tim kesehatan atau aturan-aturan yang harus diikuti agar dapat mempertahankan hidup setelah menjadi pasien HIV/AIDS.

Mengubah respon terhadap stress mengatasi perubahan fisiologik dari stress dengan menggunakan obat-obatan, latihan pernafasan dan terapi relaksasi.

Mengubah stress secara langsung mendorong pasien mencari informasi atau belajar keterampilan baru yang dapat membantu mengatasi stress.

Berpikir positif mendorong pasien menciptakan rasa syukur dan pikiran positif, melatih diri untuk mengubah cara menafsirkan dan memandang segala sesuatu yang tidak logis, melatih untuk mengoreksi diri secara lebih objektif dan positif.

Suasana yang kondusif yaitu diantaranya ada :

a)    Ciptakan suasana yang akan membuat penderita feel welcome (diterima), feel comportable (nyaman), feel important (berguna dan penting).

b)   FISIK, bebas dari gejala nyeri

c)    PSIKOSOSIAL, rasa aman, dimengerti & terlibat pengambilan keputusan.

d)   SOSIAL,rasa diterima & dibutuhkan serta kesempatan untuk melepaskan diri dari yang dicintai.

e)    SPIRITUAL, kedekatan pada tuhan & kesempatan memperbaiki kesalahan masa lalu.

Hidup dengan penerimaan – hidup bersama :

·      Melakukan rekreasi dan hobi yang menyenangkan

·      Memperhatikan diet yang teratur

·      Pendekatan spiritual

·      Mempersiapkan & mengorganisasi pekerjaan

·      Melakukan olahraga sesuai kondisi.

C.       Didapatkan dari field trip palliative care di RSUP Sanglah Bali

Field trip di RSUP Sanglah Bali yang diadakan oleh Program Studi Keperawatan S1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto, khususnya dalam mata kuliah keperawatan paliatif ini sangat memberikan banyak manfaat untuk saya. Sebelum saya melihat langsung ke lapangan yaitu pada untuk melihat seperti apa dan bagaimana manajemen paliative care , saya hanya belajar teori-teorinya saja. Akan tetapi, ketika saya hanya belajar teori, sedangkan teori itu tidak dipraktekan langsung maka menurut saya masih kurang pengalaman ilmu yang didapat. Setelah diadakanya kegiatan field trip ini, dan tempat yang dituju langsung di rumah sakit khusus paliative terbesar, maka saya bisa melihat secara langsung seperti apa penderitanya dan bagaimana cara pelayanannya, salah satunya saya bisa melihat langsung bagaimana pasien yang sedang menjalankan kemoterapi.

Pihak RSUP Sanglah juga memberikan informasi-informasi yang menurut saya sudah cukup jelas, dari mulai menjelaskan pengertian paliative care itu sendiri apa, tahap-tahap yang dilewati pasien sebelum sampai ke tahap penerimaan terdiagnosa penyakit, siapa saja yag berperan dalam pelayanan paliative care, sampai dengan penanganan-penanganan yang diterapkan di RSUP Sanglah, dan kami juga dapat bertanya langsung kepada ahlinya. Seorang psikolog juga mengajarkan bagaimana cara menangani pasien yang baru terdiagnosis penyakit paliatif, bagaimana cara memberikan dukungan terhadap pasien maupun keluarga pasien. Field trip ini sangat memberikan pengalaman kepada saya tentang paliative care.

D.      Penanganan  pasien-pasien palliative care di RSUP Sanglah

Pasien yang terdiagnosa dengan penyakit paliatif, maka akan memberikan reaksi awal atau berbagai macam respon awal yang cenderung negatif. Reaksi psikologis terhadap krisis hidup pada pasien paliative yaitu meliputi tahap menyangkal; marah; tawar-menawar; tahap depresi; dan setelah melewati tahap yang panjang, pada ahirnya pasien tersebut akan berada pada tahap penerimaan. Pasien-pasien yang menderita penyakit paliative, dengan melihat reaksi psikologis yang dialaminya, maka harus mendapatkan penanganan yang baik.

Adapun penanganan pasien paliative care yang dilakukan di RSUP Sanglah yaitu sebagai berikut:

1)   Tahap menyangkal (DENIAL)

·      Menolak dan menyangkal keadaannya sebagai reaksi awal, berlangsung beberapa hari.

·      Berharap ada suatu kesalahan diagnosa.

·      Lingkungan harus bersikap realistis serta waspada dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan siap mental bila pasien mulai menyadari keadaannya.

2)   Tahap Kemarahan (ANGER)

·      Kondisi semakin memburuk, terjadi perubahan perilaku dan kecenderungan labilitas emosi serta menyalahkan siapa saja, termasuk Tuhan,” Mengapa hal ini harus terjadi pada saya, apa salah saya ?”

·      Lingkungan harus bersikap sabar, tidak menyalahkan atau membalas dengan bersikap agresif (counter transference).

3)   Tahap tawar menawar (BARGAINING)

·      Sikap penuh pengertian, penuh perhatian dan mengarahkan untuk melihat realita.

·      Individu mengembangkan harapan dan berandai-andai.

·      Ditandai dengan kalimat-kalimat yang kontrakdikitif yang menggambarkan konflik, dimana di satu sisi mau menerima takdir tetapi di sisi lain masih mengharapkan kesembuhan.

4)   Tahap depresi (DEPRESSION)

·      Individun memasuki masa depresi ketika menyadari kondisinya tidak dapat diajak kompromi reaski depresi pasif (menangis, menarik diri, kehilangan nafsu makan dll).

·      Reaksi deprsi agresif (emosioner, mogok makan dll)

·      Kondisi yang wajar         upaya melepaskan diri dari hal-hal yang dicintainya.

·      Tidak memerlukan penghiburan        verbal,  beri toleransi dan waktu merenung.

·      Support spiritual        nilai-nilai kehidupan, beribadah dan beragama.

5)   Tahap penerimaan (ACCEPTANCE)

·      Tahap akhir yang diharapan yaitu penerimaan dengan ikhlas kondisinya, perasaan pasrah dan damai.

·      Ditandai kejernihan pikiran dan perasaan serta motivasi hidupnya untuk menjalani & hidup bersama HIV/AIDS dengan aktif meningkatkan kualitas hidupnya secara fisik, social, psikologis, kultural dan spiritual.


 

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Perawatan Paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan spiritual psikososial mulai saat diagnosis ditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap keluarga yang kehilangan /berduka. Untuk itu metode pendekatan yang terbaik yaitu melalui pendekatan terintegrasi dengan mengikutsertakan beberapa profesi terkait, antara lain dokter, perawat, terapis, farmakologis, sosial-medis, psikolog dll. Field trip di RSUP Sanglah Bali yang diadakan oleh Program Studi Keperawatan S1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto sangat bermanfaat untuk saya guna menambah pengetahuan tentang paliatif care.

B.     SARAN

1.      Untuk RSUP Sanglah, Bali

Sebaiknya kami diperbolehkan untuk melihat lebih lama dan lebih detail lagi untuk melihat berbagai macam pelayanan paliative care yang yang diterapkan di RSUP Sanglah, Bali.

2.      Untuk Pengampu Mata Kuliah Keperawatan Paliative

Sebaiknya kami diberikan waktu lebih lama lagi, supaya kami lebih banyak mendapatkan ilmu bahkan pengalaman skill dalam menangani kasus paliative care, karena waktu yang disediakan kemarin tidak cukup untuk kami belajar lebih dalam lagi.

MAKALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN TENTANG FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN

 

KATA PENGANTAR

 

Dengan mengucapkan puji dan syukur Alhamdulillah  kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan Ridho-Nya sehingga penyusun mampu dalam menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mandiri mata kuliah Manajemen Keperawatan yang berjudul “Fungsi Manajemen Keperawatan”

 

Penyusun mengucapkan terima kasih, terutama kepada, semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

 

Akhirnya penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan mohon maaf atas kekurangan yang masih terdapat didalamnya, karena penyusun menyadari adanya keterbatasan kemampuan yang dimiliki. Maka dengan senang hati penyusun akan menerima kritik dan saran pembaca guna perbaikan dalam penyusunan makalah selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

Februari 2019

 

                                                                                                                                     Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

BAB II  PEMBAHASAN

2.1  Pengertian

2.2  Fungsi – Fungsi Manajemen

2.3  Proses Manajemen Keperawatan

2.4  Lingkup Manajemen Keperawatan

BAB III MOTIVASI DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN

3.5 Penerapan Teori Motivasi Dalam Keperawatan

3.6 Kepuasan Kerja Dalam Ruang Lingkup Keperawatan

3.7 Peran Manajer Keperawatan dalam meningkatkan kepuasan kerja perawat :

3.8 Kegiatan yang perlu dilakukan manajer keperawatan untuk menciptakan suasana motivatif:

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat komplek dan merupakan komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara kesehatan masyarakat seoptimal mungkin. Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan, keberadaan perawat merupakan posisi kunci, yang dibuktikan oleh kenyataan bahwa 40-60 % pelayanan rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan dan hampir semua pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit baik di rumah sakit maupun tatanan pelayanan kesehatan lain dilakukan oleh perawat.

Menurut Nursalam (2002), keperawatan sebagai pelayanan yang professional bersifat humanistik, menggunakan pendekatan holistik, dilakukan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berorientasi kepada kebutuhan obyektif klien, mengacu pada standard professional keperawatan dan menggunakan etika keperawatan sebagai tuntunan utama. Keperawatan profesional secara umum merupakan tanggung jawab seorang perawat yang selalu mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan, sehingga dituntut untuk selalu melaksanakan asuhan keperawatan dengan benar (rasional) dan baik (etikal). Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan di era global ini dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus direspon oleh perawat. Oleh karena itu keperawatan di Indonesia pada saat ini dan di masa akan datang perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan keperawatan dengan memperhatikan dan mengelola perubahan yang terjadi di Indonesia secara profesional. Kontribusi pelayanan keperawatan terhadap pelayanan kesehatan, yang dilaksanakan di sarana kesehatan sangat tergantung pada manajemen pelayanan perawatan. Manajemen pelayanan keperawatan merupakan suatu proses perubahan atau transformasi dari sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan.

Keperawatan di Indonesia di masa depan sampai saat ini masih berada dalam proses mewujudkan keperawatan sebagai profesi, maka akan terjadi beberapa perubahaan dalam aspek keperawatan yaitu : penataan pendidikan tinggi keperawatan, pelayanan dan asuhan keperawatan, pembinaan dan kehidupan keprofesian, dan penataan lingkungan untuk perkembangan keperawatan.pelayanan keperawatan melalui pelaksana fungsi perncanaan, pengorganisasian, pengaturan ketenagaan, pengarahan, evaluasi dan pengendalian mutu keperawatan.

 

1.2 Tujuan

1)      Tujuan Umum

Setelah melakukan praktik manajemen keperawatan selama 4 minggu di ruang mahasiswa mampu mengelola asuhan keperawatan dan bimbingan praktik klinik keperawatan di ruang rawat inap dengan menggunakan keterampilan manajemen dan kepemimpinan untuk menghasilkan kualitas pelayanan profesional yang berkualitas tinggi

2)      Tujuan Khusus

Setelah melakukan praktek manajemen keperawatan di ruang mahasiswa mampu :

·         Mengumpulkan data, menganalisis data dan memahami data masalah dalam pengorganisasian asuhan keperawatan

·         Mengorganisasaikan pelaksanaan kegiatan keperawatan

·         Melakukan usaha-usaha koordinasi kegiatan keperawatan

·         Memilih dan menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai di ruangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pengertian

a.       Pengertian manajemen

Manajemen adalah suatu proses melakukan kegiatan atau usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui kerja sama dengan orang lain ( Hersey dan Blanchard, 2002).

Manajemen adalah pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan orang lain. ( G.R. Terry )

Manajemen adalah suatu proses merancang, memelihara suatu lingkungan dimana orang – orang yang bekerja sama di dalam suatu kelompok dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan seefisien mungkin ( H. Weihrich dan H. Koontz ).

 

b.      Pengertian manajemen keperawatan

Sedangkan manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat. (Gillies, 1989).

 

Manajemen keperawatan mempunyai lingkup manajemen operasional untuk merencanakan, mengatur, dan menggerakkan karyawan dalam memberikan pelayanan keperawatan sebaik – baiknya pada pasien melalui manajemen asuhan keperawatan.

 

Manajemen keperawatan semula ditekankan pada sentralisasi kewenangan dan tanggung jawab, kini menjadi desentralisasi melalui pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dengan memfokuskan kegiatan koordinasi, integrasi, dan kegiatan penunjang.

Selain itu, telah terjadi perubahan mendasar pada manajemen keperawatan dan pengguna sumber daya yang represif menuju ke pendayagunaan sumber daya yang bersifat pro aktif, lebih ditekankan pada terjaminnya aktivitas kolaborasi dan keterbukaan dalam setiap kegiatan untuk mencapai tujuan.( Agus Kuntoro, 2010 )

 


 

2.2 Fungsi – Fungsi Manajemen

Secara ringkas fungsi manajemen adalah sebagai berikut :

a.       Perenacanaan (planning), perncanaan merupakan :

·         Gambaran apa yang akan dicapai

·         Persiapan pencapaian tujuan

·         Rumusan suatu persoalan untuk dicapai

·         Persiapan tindakan – tindakan

·         Rumusan tujuan tidak harus tertulis dapat hanya dalam benak saja

·         Tiap – tiap organisasi perlu perencanaan

b.      Pengorganisasian (organizing), merupakan pengaturan setelah rencana, mengatur dan menentukan apa tugas pekerjaannya, macam, jenis, unit kerja, alat – alat, keuangan dan fasilitas.

c.       Penggerak (actuating), menggerakkan orang – orang agar mau / suka bekerja. Ciptakan suasana bekerja bukan hanya karena perintah, tetapi harus dengan kesadaran sendiri, termotivasi secara interval

d.      Pengendalian / pengawasan (controling), merupakan fungsi pengawasan agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana, apakah orang – orangnya, cara dan waktunya tepat. Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera diperbaiki.

e.       Penilaian (evaluasi), merupakan proses pengukuran dan perbandingan hasil – hasil pekerjaan yang seharusnya dicapai. Hakekat penilaian merupakan fase tertentu setelah selesai kegiatan, sebelum, sebagai korektif dan pengobatan ditujukan pada fungsi organik administrasi dan manajemen.

2.3  Proses Manajemen Keperawatan

Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem terbuka dimana masing – masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Karena merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari lima elemen yaitu input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik.

Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personel, peralatan dan fasilitas. Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset.

Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk budget dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur yang standar dan akreditasi. Mekanisme timbal balik berupa laporan finansial, audit keperawatan, survey kendali mutu dan penampilan kerja perawat.

 

 

A.    Prinsip-Prinsip yang Mendasari Manajemen Keperawatan

1)      Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.

2)      Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

3)      Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbergai tingkat manajerial.

4)      Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan keperawatan.

5)      Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.

6)      Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.

7)      Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.

8)      Manajemen keperawatan menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.

9)      Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat – perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.

10)  Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan prinsip – prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan.

Berdasarkan prinsip – prinsip diatas maka para manajer dan administrator seyogyanya bekerja bersama – sama dalamperenacanaan danpengorganisasian serta fungsi – fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

 

 

 

2.4  Lingkup Manajemen Keperawatan

Mempertahankan kesehatan telah menjadi sebuah industri besar yang melibatkan berbagai aspek upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan kemudian menjadi hak yang paling mendasar bagi semua orang dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai akan membutuhkan upaya perbaikan menyeluruh sistem yang ada. Pelayanan kesehatan yang memadai ditentukan sebagian besar oleh gambaran pelayanan keperawatan yang terdapat didalamnya.

Keperawatan merupakan disiplin praktek klinis. Manajer keperawatan yang efektif seyogyanya memahami hal ini dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Kegiatan perawat pelaksana meliputi:

a.       Menetapkan penggunakan proses keperawatan

b.      Melaksanakan intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa

c.       Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh

d.      perawat

e.       Menerima akuntabilitas untuk hasil – hasil keperawatan

f.        Mengendalikan lingkungan praktek keperawatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

MOTIVASI DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN

 

3.1 Penerapan Teori Motivasi Dalam Keperawatan

Motivasi adalah proses emosional lebih cenderung psikologis dari pada logika. Mempelajari bagaimana seorang perawat dapat merasakan dan membantu mempergunakan alat-alat yang akan membantu pencapaian perasaan tadi. Suatu perasaan yang berkaitan dengan orang0orang pada pekerjaan yang memungkinkan perawat itu merasa diterima, kinerja dimana perawat itu mempunyai keterampilan tinggi, dikenal mempunyai keterampilan memuaskan dibanding yang lainnya.

Sebagaimana dikemukakan terlebih dahulu, motivasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang tidak disadari. Apabila perawat ditanyakan mengapa perawat melakukan sesuatu, perawat itu tidak akan memberikan jawaban. Walaupun dasar sesorang itu tersembunyi dan tidak dapat diraba, kegiatan atau tingkah laku merekan dapat dimengerti oleh mereka.

Seorang perawat kepala bertanggung jawab untuk memotivasi bawahan dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Dengan menggunakan teori-teori motivasi untuk mencapai tujuan ini, pertama-tama pemimpin perlu mengkaji kekuatan motif tertinggi dari karyawan, dan kemudian menentukan tujuan yang akan secara langsung memuaskan kebutuhan pribadi karyawan. Pimpinan menggunakan factor intrinsic dan ekstrinsik dalam suatu tujuan. Jalan untuk mencapai tujuan yang, yang dengan demikian memuaskan kebutuhan, adalah melalui suatu perjalanan yang mencapai tujuan organisasi.

Proses motivasi yang telah yang telah dijelaskan merupakan proses untuk memotivasi satu orang. Karena seorang kepala perawat lebih sering harus memotivasi sekelompok orang dalam menyelesaikan tugas, maka teori motivasi pertama-tama diterapkan orang-orang secara individual dalam kelompok. Kebutuhan individu dikaji terlebih dahulu, kemudian kebutuhan terbanyak yang dianggap menjadi kebutuhan kelompok yang digunakan oleh pemimpin untuk merencanakan suatu strategi untuk memotivasi kelompok secara eksternal untuk mencapai tujuan organisasi.

Sangatlah logis untuk menyimpulkan bahwa strategi tersebut mungkin bukan yang terbaik untuk semua orang dalam kelompok. Seorang pemimpin mungkin bukan segala-galanya untuk setiap orang. Seorang pemimpin harus menjadi untuk sebagian bbesar orang dalam kelompok dan kemudian berusaha untuk melakukan pendekatan pribadi terhadap orang-orang yang belum terpuaskan.

 

3.2 Kepuasan Kerja Dalam Ruang Lingkup Keperawatan

Adanya kepuasan kerja, menurut Lateiner dan Levine (1971), karyawan akan merasa senang dalam bekerja sehingga akan menimbulkan aktifitas dan sikap yang positif dalam bekerja, serta adanya keterikatan dengan perusahaan dan perasaan selalu ingin dalam lingkungan perusahaan tersebut.

Sedangkan ketidakpuasan dapat mengakibatkan rendahnya keterikatan dengan perusahaan yang diwujudkan dalam perilaku penarikan diri dari pekerjaannya, kurang terlibat dalam pekerjaan, tingkat absensi maupun turn over yang tinggi.

Perawat pelaksana menginginkan iklim yang memberikan kepuasan kerja. Kepuasan kerja tercapai jika iklim dapat memberikan kondisi kerja yang baik, gaji yang tinggi, kesempatan untuk mengembangkan profesionalitas, tantangan, kesempatan dalam pengambilan keputusan, staffing yang tepat dan prestasi yang dihargai oleh manajer maupun pasien (Swansburg,1996).

Kepuasan kerja juga dapat tercipta apabila iklim organisasi dalam hal ini adalah situasi psikologis dalam pelaksanaan pekerjaan baik dan kondusif. Situasi psikologis yang kondusif dan baik artinya terciptanya komfomitas, kejelasan tanggung jawab, adanya standar dalam bekerja, layaknya penghargan, kejelasan tujuan organisasi, kehangatan dan dukungan antar sesama karyawan serta kepemimpinan yang berkualitas dan mampu diterima oleh seluruh karyawan. Situasi yang demikian akan menyebabkan karyawan merasa dirinya merupakan bagian penting dari organisasi kerja atau perusahaan dan menumbuhkan sikap postif karyawan terhadap kerja. Hal tersebut akan menghasilkan kepuasan yang optimal karyawan pada pekerjaanya dan dia akan lebih berdedikasi serta lebih loyal terhadap perusahannya, sehingga dapat meningkatkan hasil dan kualitas kerja yang maksimal.

Motivasi kerja seorang individu berkaitan dengan kepuasan kerja. Motivasi tidak terbebas dari lingkungan kerja seorang karyawan atau kehidupan pribadinya. Suatu penelitian meta analisis yang belum lama dilakukan menguji sembilan hasil penelitian yang melibatkan 2.237 orang pekerja yang mengungkapkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi dan kepuasan kerja. Karena kepuasan dengan pengawasan juga berkorelasi secara signifikan dengan motivasi, para manajer disarankan untuk mempertimbangkan bagaimana perilaku mereka mempengaruhi kepuasan karyawan. Para manajer secara potensial dapat meningkatkan motivasi para karyawan melalui usaha untuk meningkatkan kepuasan kerja (Kreitner & Kinicki, 2005).

 

 

 

3.3 Peran Manajer Keperawatan dalam meningkatkan kepuasan kerja perawat :

1)      bersikap empati, mendengar dan tanggap terhadap semua pernyataan orang lain,

2)      menciptakan situasi yang kondusif dalam komunikasi,

3)      membaca dan tanggap terhadap situasi yang terjadi dalam ruangan / lingkungan organisasi,

4)      mengembangkan tim kerja yang efektif,

5)      mempertahankan dan mengembangkan hubungan profesional antar petugas,

6)      menjadi mediator terjadinya konflik antara staf atau kelompok (Harris & belakley cit. Nursalam, 2002).

3.4 Kegiatan yang perlu dilakukan manajer keperawatan untuk menciptakan suasana motivatif:

a.       Mempunyai harapan yang jelas pada stafnya dan mengkomunikasikan harapan tersebut pada stafnya,

b.      Mengembangkan konsep tim kerja,

c.       Hindarkan adanya suatu kelompok / perbedaan antar staf,

d.      Mintalah tanggapan dan masukan kepada staf terhadap keputusan yang akan

e.       dibuat oleh organisasi,

f.        Ciptakan situasi saling percaya dan kekeluargaan dengan staf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat. (Gillies, 1989).

Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset.