KUMPULAN MAKALAH : 11/26/22

Saturday, November 26, 2022

Teks Editorial

 

Pengertian Teks Editorial

Teks editorial adalah tulisan yang ditulis oleh redaktur utama media yang berisikan pendapat, pandangan umum, atau reaksi mengenai suatu peristiwa atau kejadian (berita aktual) yang tengah menjadi sorotan masyarakat.

Teks editorial juga sering disebut dengan tajuk rencana yang berarti artikel utama dari suatu surat kabar yang berisi pandangan redaksi (tim penulis dan penyusun koran) terhadap suatu isu pada saat koran tersebut diterbitkan.

Intinya, kolom tersebut adalah kolom khusus berupa opini untuk menanggapi berita yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di kalangan masyarakat luas. Karena hal yang ditanggapinya adalah teks berita, maka di dalamnya juga terkandung fakta yang bercampur dengan pendapat subjektif (bukan fakta).

Struktur Teks Editorial

Karena teks editorial adalah suatu opini atau pendapat, maka teks ini termasuk ke dalam teks eksposisi. Dengan demikian, struktur umum dari teks ini juga meliputi: tesis, argumentasi, dan penegasan. Berikut adalah penjelasan lengkapnya berdasarkan yang diungkapkan oleh Tim Kemdikbud (2017, hlm. 98).

  1. Tesis (pengenalan Isu)
    Merupakan pendahuluan teks editorial berupa pendapat dan gambar umum mengenai isu yang dikomentari.
  2. Argumen (penyampaian pendapat)
    Pembahasan mendetail mengenai peristiwa yang dikomentari penguatan terhadap pendapat dalam bentuk argumen logis maupun data faktual.
  3. Penegasan (ulang)
    Merupakan saran, rekomendasi, kesimpulan, hingga harapan yang berkaitan dengan solusi ataupun sekedar prediksi ke depan mengenai berita yang dikomentari.

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

Sedangkan dari kaidah kebahasaan, meskipun teks ini termasuk ke dalam teks eksposisi, ciri kebahasaannya justru lebih dekat dengan bahasa jurnalistik. Hal ini karena pada dasarnya tujuan penulisan teks editorial adalah menyampaikan pendapat mengenai suatu berita.

Oleh karena itu, wajar saja jika kaidah kebahasaannya juga masih berkaitan erat dengan teks berita. Berikut adalah ciri-ciri bahasa atau kaidah kebahasaan teks editorial.

  1. Banyak menggunakan kalimat retoris. Kalimat retoris utama yang sering digunakan adalah kalimat pertanyaan yang tidak ditujukan untuk dijawab namun untuk merangsang pembaca agar merenungkan suatu masalah lebih dalam.
  2. Penggunaan kata-kata populer sehingga lebih mudah untuk dicerna oleh khalayak masyarakat seperti: menengarai, pencitraan, balada, terkaget-kaget, dsb. Penggunaan kata populer juga ditujukan agar pembaca tetap rileks meskipun tulisan dipenuhi tanggapan kritis.
  3. Banyak menggunakan kata ganti penunjuk yang merujuk tempat, peristiwa, waktu, seperti: ini, itu, ke sini, begitu.
  4. Banyak menggunakan kata penghubung atau konjungsi kausalitas (sebab-akibat) seperti: sehingga, karena, sebab, oleh sebab itu (Kemdikbud, 2017, hlm. 100).

Ciri Teks Editorial (Isi Teks Editorial)

Berdasarkan berbagai penjelasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri teks editorial adalah sebagai berikut:

  1. Berisi fakta atau peristiwa yang aktual, sedang ramai diperbincangkan, hingga kontroversial.
  2. Berupa opini atau pendapat redaksi media massa terhadap peristiwa yang diberitakan
  3. Memiliki kritik, penilaian, apresiasi, prediksi, saran maupun harapan terhadap isu yang dibahas.
  4. Terdapat saran atau rekomendasi yang dapat menjadi solusi ditunjukkan oleh bagaimana caranya secara konkret.

MAKALAH BAB II Menikmati Cerita Sejarah Indonesia KELAS 12

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Koran, radio, televisi, dan majalah merupakan sumber informasi. Sumber informasi tersebut disampaikan dalam bentuk lisan dan tulisan. Teks cerita sejarah juga dapat menjadi informasi karena di dalamnya memuat fakta atau informasi-informasi pada masa lalu yang berhubungan dengan peristiwa sejarah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teks berarti naskah berupa kata-kata asli dari pengarang, kutipan dari kitab suci untuk pangkat ajaran atau asalan dan bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran berpidato, atau yang lainnya.

 

Teks cerita sejarah adalah naskah cerita atau nasrasi rekaan yang mengandung unsur-unsur sejarah. Dalam teks cerita sejarah, ada beberapa unsur nyata, misalnya tokoh, nama tempat dan peristiwa. Namun, dalam teks cerita sejarah terdapat pula cerita yang sifatnya rekaan, misalnya mitos asal-usul raja, mitos pembukaan negeri, mitos kedatangan sebuah agama, dan mitos alegori.

B.      Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang di atas maka yang akan menjadi rumusan masalah, ialah:

  1. Apa pengertian konteks dan permodelan teks cerita sejarah?
  2. Bagaimana struktur dan ciri kebahasaan teks cerita sejarah?
  3. Bagaimana membandingkan teks cerita sejarah?
  4. Bagaimana cara menyunting dan mengabstraksi dalam teks cerita sejarah?
  5. Bagaimana memproduksi teks cerita sejarah?
  6. Bagaiamana cara mengonversi teks cerita sejarah kedalam bentuk lain?

 

 

 

C.      Tujuan Penulisan

Tujuan kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok Bahasa Indonesia yang diberikan oleh guru bidang studi kami. Adapun tujuan khusus dibuatnya makalah ini adalah:

  1. Memahami konteks dan permodelan teks cerita sejarah.
  2. Menjelaskan struktur teks cerita sejarah.
  3. Menjelaskan citi kebahasaan teks cerita sejarah.
  4. Mengetahui cara menyunting dan mengabstraksi teks cerita sejarah.
  5. Memproduksi teks cerita sejarah.
  6. Mengonversi teks cerita sejarah kedalam bentuk lain.

D.      Manfaat Penulisan

Diharapkan dengan adanya makalah ini, dapat membantu pembaca maupun penulis untuk mengetahui pembangunan konteks dan permodelan dalam teks cerita sejarah.

E.      Metode Penelitian

Metode penelitian dalam pembangunan konteks dan pemodelan teks cerita sejarah adalah sebagai berikut :

  1. Penelitian kepustakaan (Library Research)

Mencari literature dan referensi yang berasal dari buku-buku dan browsing dengan menggunakan internet mengenai informasi tambahan lainnya seputar pembangunan konteks dan pemodelan teks cerita sejarah serta referensi-referensi lain yang dapat membantu dalam penelitian ini.

F.       Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam laporan tugas ini adalah sebagai berikut :

  1. Halaman Depan : Berisikan cover makalah, halaman pengesahan, kata pengantar dan daftar isi.
  2. BAB I Pendahuluan : Berisi tentang latar belakang, rumusan permasalahan, metode penelitian, tujuan penelitian, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
  3. BAB II Landasan Teori : Berisikan teori-teori yang digunakan untuk pembengunan konteks dan pemodelan cerita sejarah.
  4. BAB III Pembahasan : Berisi cara pembengunan konteks dan pemodelan cerita sejarah.
  5. BAB IV Penutup : Berisi tentang kesimpulan, saran-saran, daftar pustaka, dan lampiran untuk pengembangan pembengunan konteks dan pemodelan cerita sejarah.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.      Pengertian Konteks dan Permodelan Teks Cerita Sejarah

Konteks adalah kondisi dimana suatu kejadian itu terjadi . Ada beberapa jenis konteks. Konteks fisik meliputi ruangan, objek nyata, pemandangan, dan lain sebagainya. Dimensi pemilihan waktu atau tempo suatu konteks meliputi hari dan rentetan peristiwa yang dirasakan terjadi sebelum peristiwa komunikasi. Teks cerita sejarah merupakan karangan berbentuk narasi atau wacana yang menceritakan peristiwa dalam kurun waktu tertentu. Narasi tersebut dapat berisi fakta atau fiksi.

Teks sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Kejadian dalam peristiwa tersebut dianggap sebagai proses atau dinamika suatu konteks historis. Sejarah termasuk ilmu empiris, karena sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Oleh sebab itu, sejarah kerap dimasukkan dalam ilmu kemanusiaan. Akan tetapi, sejarah berbeda dengan antropologi dan sosiologi, sejarah membicarakan manusia dari segi waktu, seperti perkembangan masyarakat dari suatu bentuk ke bentuk lainnya, kesinambungan yang terjadi pada suatu masyarakat, pengulangan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang biasanya disebabkan oleh pengaruh dari luar masyarakat itu sendiri.

Peristiwa sejarah ini bukan semata-mata cerita turun-temurun, tetapi sebagai negara yang cerdas kita harus mampu menggali nilai dan kearifan yang terdapat dalam sebuah cerita sejarah. Dalam menyusun teks cerita sejarah, langkah-langkah yang dilakukan adalah mencari informasi, mengumpulkan data yang tepat, akurat, serta autentik, kemudian di teliti secara cermat, diinterpretasikan kemudian direkontruksi sehingga menghasilkan kisah sejarah yang mudah dipahami.

B.      Memahami Struktur Dan Ciri Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

o    Struktur Teks Cerita sejarah

Teks cerita sejarah mempunyai struktur yang membedakannya dengan jenis karangan lainnya. Struktur teks cerita sejarah terbagi menjadi enam, yaitu abstrak, orientasi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan koda atau amanat.

1.      Abstrak

Abstrak adalah ringkasan atau inti cerita. Abstrak pada sebuah teks cerita sejarah bersifat opsional. Artinya, sebuah teks cerita sejarah bisa saja tidak melalui tahapan ini. abstrak biasanya berisi pengenalan singkat tentang atau tokoh.

2.      Orientasi

Orientasi menjadi pembuka dalam teks cerita sejarah. Orientasi berisi pengenalan tokoh dan latar cerita. Pengenalan tokoh berkaitan dengan pengenalan pelaku.

3.      Komplikasi

Tahapan ini berisi urutan kejadian. Kejadian-kejadian itu dihubungkan secara sebab-akibat. Peristiwa disebabkan atau menyebabkan terjadinya pseristiwa lain.

4.      Klimaks

Klimaks merupakan puncak konflik dalam sebuah teks cerita sejarah. Pada saat klimaks inilah konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi.

5.      Resolusi

Resolusi adalah suatu keadaan ketika konflik terpecahkan dan menemukan penyelesaiannya. Tahapan ini ditandai dengan upaya pengarang mengungkapkan solusi dari berbagai konflik yang dialami tokoh.

6.      Koda/Amanat

Koda adalah bagian akhir dari sebuah teks cerita sejarah. Pengarang teks cerita sejarah mempunya maksud menulis bagian koda ini, yaitu menyuarakan pesan moral sebagai tanggapan terhadap konflik yang tejadi.

·         Ciri Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

Teks cerita sejarah memiliki kaidah atau ciri kebahasaan, yaitu :

  1. Menggunakan bentuk lampau (peristiwa telah terjadi).
  2. Menggunakan kata kerja yang menyatakan tindakan, misalnya pergi, tidur, lari, dan membeli.
  3. Penggunaan konjungsi yang menyatakan urutan peristiwa atau kejadian, misalnya dan, tetapi, setelah     itu, dan kemudian. Konjungsi adalah kata sambung yang menghubungkan unsur-unsur kalimat. salah satu fungsi dari konjungsi adalah untuk menyatakan urutan peristiwa, hal itu seperti yang tampak pada kalimat berikut.
  • Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Maeda, di Jalan Imam Bonjol No.1 .
  • Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Kata yang bergaris bawah merupakan salah satu contoh konjungsi yang menyatakan urutan peristiwa. Selain kemudian, setelah, kata konjungsi lain seperti selanjutnya, lalu (temporal)

  1. Penggunaan fungsi keterangan yang mengungkapkan tempat, waktu dan cara. Fungsi dalam kalimat kita sudah kenali bersama ada subjek (S), objek (O), predikat (P), dan keterangan. Untuk fungsi keterangan ada yang menerangkan tempat, waktu dan cara.

Teks Cerita Sejarah dibagi menjadi 2 :

  1. Teks Cerita Sejarah Fiksi : Teks Cerita Sejarah yang tidak nyata.

Contoh :

  • Novel
  • Cerpen
  • Legenda
  • Roman
  1. Teks Cerita Sejarah Non-fiksi : Teks Cerita Sejarah yang nyata.

Contoh :

  • Biografi
  • Autobiografi
  • Certia Perjalanan
  • Catatan Sejarah

Perbedaan teks cerita sejarah fiksi dan non-fiksi :

  • Teks Cerita Sejarah Fiksi :
  1. Jalan pengisahan disusun bedasarkan dunia nyata atau menurunkan pengisahanya dari dunia nyata.
  2. Penggambaran kehidupan batin seorang tokoh  lebih mendalam.
  3. Pengembangan kharakter tokoh tidak diungkapkan sepenuhnya.
  4. Menyajikan kehidupan sesuai dengan pandangan pribadi pengarang.
  • Teks Cerita Sejarah Non-Fiksi :
  1. Disusun bedasarkan data atau fakta yang objektif
  2. Penggambaran tokoh ditulis lengkap bedasarkan fakta.
  3. Menyajikan kehidupan sesuai dengan data atau fakta.
  • Membandingkan Teks Cerita Sejarah

Menbandingkan teks cerita sejarah artinya membandingkan isi kedua teks cerita sejrah meliputi struktur,waktu dan kronologi kejadian.

Untuk membandingkan teks cerita sejarah, dapat di lihat dari sumber-sumber sejarah yang yang ada. Yang di maksud terdiri dari :

  1. Sumber Primer

Sumber primer merupakan sumber asli yang diperoleh dari para pelaku sejarah dan saksi sejarah. Sumber primer ini diperoleh dari orang sejaman atau orang pertama yang pernah mengalami sendiri secara langsung peristiwa sejarah yang sesungguhnya. Untuk memperoleh sumber ini maka seorang peneliti harus melakukan kegiatan wawancara, sehingga dapat diperoleh sejumlah keterangan lisan terhadap obyek penelitian.

Contoh obyek penelitian sejarah adalah “Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia”Sumber primer yang dibutuhkan adalah para pelaku atau saksi sejarah seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Ahmad Subardjo dan lain-lain. Terhadap para pelaku atau saksi tersebut maka peniliti harus melakukan wawancara Secara langsung, sehingga dapat memperoleh keterangan lisan mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

  1. Sumber Sekunder

Sumber sekuder merupakan keterangan lisan dari pihak kedua yaitu orang yang tahu terjadinya peristiwa sejarah tetapi tidak pernah menjadi pelaku. Pihak kedua ini merupakan saksi ahli yaitu orang-orang yang memiliki keahlian tertentu.

  • Penyuntingan dan Mengabstraksi Teks Cerita Sejarah
  • Penyuntingan

Arti kata menyunting menurut KBBI adalah menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi atau pilihan kata, dan struktur kalimat).

Ketika menyunting naskah, ada beberapa aspek yang harus Anda perhatikan. Berikut adalah aspek-aspek dalam menyunting :

  1. Ketepatan penulisan huruf, kata, lambang bilangan, dan tanda baca.
  2. Ketepatan penggunaan diksi atau pilihan kata.
  3. Keefektifan kalimat.
  4. Ketepatan struktur kalimat.
  5. Keterpaduan paragraf.

Penyuntingan naskah dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut :

  1. Penyunting harus membaca cermat kalimat demi kalimat dalam naskah untuk menemukan kesalahan-kesalahan.
  2. Penyunting membenarkan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam naskah.
  3. Penyunting memeriksa keterpaduan antarparagraf.
  4. Penyunting memeriksa kebenaran data dan teori jika ada.
  • Mengabstraksi

Mengabstraksi atau Cerita ulang (recount) atau rekon adalah teks yang menceritakan kembali pengalaman masa lalu secara kronologis dengan tujuan untuk memberi informasi, atau menghibur pembacanya, atau bisa keduanya.

Cerita ulang terdiri atas tiga jenis, yaitu rekon pribadi, rekon faktual (informasional), dan rekon imajinatif.

  1. Rekon pribadi adalah cerita ulang yang memuat kejadian di mana penulisnya terlibat secara langsung.
  2. Rekon faktual (informasional) adalah cerita ulang yang memuat kejadian faktual seperti eksperimen ilmiah, laporan polisi, dan lain-lain.
  3. Rekon imajinatif adalah cerita ulang yang memuat cerita imajinatif dengan lebih detil.

Suatu teks cerita ulang terdiri atas tiga bagian, yaitu:

  1. Orientasi : informasi yang menjawab apa?, di mana?, siapa?, kapan?, dan mengapa?
  2. Rentetan peristiwa (events) : Isi cerita ulang atau Terjadinya Peristiwa.
  3. Riorientasi atau kesimpulan penulis akan kejadian-kejadian yang diceritakan ulang.

Teks cerita ulang dapat diubah menjadi teks lain sesuai dengan kebutuhan. Proses untuk mengubah teks cerita ulang menjadi bentuk teks lain dinamakan dengan istilah mengonversi. Dalam mengonversi cerita ulang menjadi teks lain, yang berubah hanya model teks, sedangkan bagian isi tetaplah sama.

  • Memproduksi Teks Cerita Sejarah

Cerita sejarah yang masih dalam bentuk lisan atau naskah kuno yang merupakan kendala, tidak menjadi halangan untuk memindahkan cerita sejarah ke dalam bentuk teks.

Teks cerita sejarah dapat dibuat dengan langkah-langkah berikut :

  1. Bertanya atau menggali informasi mengenai suatu peristiwa sejarah. Pencarian inormasi ini berfungsi untuk mengumpulkan bukti-bukti sejarah berupa kata.
  2. Mengumpulkan cerita-cerita mengenai sejarah tersebut. Cerita sejarah dapat mempunyai beberapa versi, terutama berkaitan dengan unsur cerita yang sifatnya fiktif.
  3. Menentukan cerita sejarah yang akan ditulis. Dalam penentuan ini jangan melupakan bahwa cerita sejarah mengandung fakta. Jadi ambillah cerita sejarah yang mengandung fakta paling banyak di dalamnya.
  4. Membuat urutan peristiwa dalam cerita sejarah. Urutan ini membantu Anda memahami cerita sejarah yang terjadi.
  5. Membuat narasi cerita sejarah berdasarkan informasi dan urutan peristiwa yang telah dikumpulkan . Cerita sejarah dapat dinarasikan dengan gaya bahasa pengarang. Pengembangan cerita sejarah tentu saja bukan pada unsur fakta, melainkan unsur-unsur fiktifnya.
  • Mengonversi teks cerita sejarah kedalam bentuk lain

Teks cerita sejarah umumnya berbentuk narasi. Namun, teks cerita sejarah dapat diubah kedalam bentuk lain, misalnya teks drama dan puisi. Kegiatan mengubah ini disebut dengan konversi. Menurut KBBI, Konversi adalah perubahan dari suatu sistem pengetahuan ke sistem yang lain. Dengan demikian, verba mengonversi berarti mengubah atau melakukan perubahan.

Proses yang harus dilakukan dalam mengonversi teks cerita ulang, berikut:

  1. Membaca teks ulang secara keseluruhan.
  2. Mencermati pilihan kata (diksi) yang tepat dalam teks cerita ulang.
  3. Merangkum isi teks cerita ulang secara menyeluruh.
  4. Menentukan jenis teks apa yang digunakan sebagai konversi.
  5. Menulis ulang teks cerita ulang dalam bentuk lain.
  6. Merevisi bentuk teks baru jika memungkinkan ada kesalahan.

 


 

BAB III

PEMBAHASAN

A.      Ciri Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

Peristiwa Rengasdengklok

  1. Pada tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.30 malam utusan dari golongan pemuda, Darwis dan Wikana, menemui Bung Karno di kediaman Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Wikana menyampaikan tuntutan agar Bung Karno mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia esok hari, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945. Bung Karno menolak permintaan tersebut. Terjadilah ketegangan akibat pertentangan pendapat antara golongan tua dan muda. Wikana mengancam bahwa esok hari akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan besar.
  2. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pada tanggal 16 Agustus 1945, tiga tokoh pemuda yang terdiri atas Sukarni, Yusuf Kunto, dan Singgih membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, kira-kira 15 km dari Karawang. Mereka memilih Rengasdengklok karena tempat tersebut telah diamankan dari pengaruh Jepang oleh Komandan Kompi Subeno.
  3. Maksud dan tujuan para pemuda membawa ke Rengasdengklok adalah agar Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya.
  4. Bung Karno dan Bung Hatta adalah pemimpin yang punya pendirian teguh. Beliau tetap berpegang pada pendirian semula, tidak mau menyerah kepada kemauan pemuda. Untunglah perbedaan pendapat tersebut dapat dijembatani oleh Mr. Ahmad Subardjo. Mr. Ahmad Subardjo, Yusuf Kunto, dan Wikana sepakat untuk membawa kembali kedua tokoh itu ke Jakarta guna membicarakan proklamasi melalui sidang PPKI yang anggotanya telah ditambah dengan wakil pemuda.
  5. Setelah mengetahui bahwa Somubuco dan Jendral Nasimura tidak menghalangi proklamasi asal tidak ada pernyataan yang anti Jepang, maka dimulailah pertemuan. Pertemuan ini dilakukan di rumah seorang pembesar angkatan laut Jepang, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta.

 

 

  • Informasi Setiap Paragraf

Paragraf

Informasi dalam Teks

 

 

 

I

·         Peristiwa yang diidentifikasi pada urutan orientasi ini adalah pertemuan golongan pemuda denga Bung Karno di kediaman Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

·         Pelaku dalam peristiwa tersebut ialah golongan muda (Darwis dan Wikana), golongan tua dan juga Bung Karno.

·         Peristiwa tersebut terjadi pada 15 Agustus 1945 pukul 22.30.

·         Peristiwa tersebut terjadi di Indonesia.

·         Peristiwa tersebut terjadi karena proses proklamasi kemerdekaan yang ingin di percepat.

·         Dalam peristiwa tersebut terjadi pengancaman pertumpahan darah yang dahsyat dan besar.

 

 

II

·         Peristiwa yang diidentifikasi pada paragraf ini adalah pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

·         Pelaku dalam peristiwa tersebut yaitu golongan muda, Bung Karno dan Bung Hatta.

·         Peristiwa tersebut terjadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang datang dari pengaruh Jepang oleh Komandan Kompi Subeno.

III

·         Peristiwa tersebut bertujuan agar Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

·         Peristiwa tersebut melibatkan Bung Karno dan Bung Hatta.

 

IV

·         Peristiwa yang diidentifikasi yaitu dibawanya kembali Bung Karno dan Bung Hatta untuk membicarakan proklamasi melalui siding PPKI.

·         Peristiwa tersebut melibatkan Mr. Ahmad Subardjo, Bung Karno, Bung Hatta, Yusuf Kunto, dan Wikana.

·         Dalam peristiwa tersebut menjelaskan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta merupakan pemimpin yang punya pendirian teguh.

V

·         Peristiwa yang diidentifikasi yaitu dimulainya pertemuan yang dilakukan di rumah pembesar AL Jepang, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Imam Bonjol No.1 Jakarta.

·         Yang terlibat dalam peristiwa pada paragraf ini adalah Somubuco dan Nasimura, Laksamana Muda Maeda.

  • Kronologi Peristiwa Sejarah

No.

Waktu

Peristiwa

1

15 Agustus 1945

Pertemuan golongan pemuda dengan Bung Karno.

2

16 Agustus 1945

Pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta ke rengasdengklok.

  • Penanda Waktu Peristiwa Sejarah

Paragraf

Penanda Waktu

Kata dalam kalimat

I

Pada tanggal 15 Agustus 1945

Pada tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.30 malam utusan dari golongan pemuda, Darwis dan Wikana, menemui Bung Karno di kediaman Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

Pada Tanggal 16 Agustus 1945

Wikana menyampaikan tuntutan agar Bung Karno mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia esok hari, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945.

Esok hari

Wikana mengancam bahwa esok hari aka terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan besar.

II

Pada tanggal 16 Agustus 1945

Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pada tanggal 16 Agustus 1945, tiga tokoh pemuda yang terdiri atas Sukarni, Yusuf Kunto, dan Singgih membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, kira-kira 15 km dari Karawang.

III

Secepatnya

Maksud dan tujuan para pemuda membawa ke Rengasdengklok adalah agar Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya.

IV

V

Setelah

Setelah mengetahui bahwa Somubuco dan Jendral Nasimura tidak menghalangi proklamasi asal tidak ada pernyataan yang anti Jepang, maka dimulailah pertemuan.

  • Struktur Teks Cerita Sejarah

Struktur Teks

Kalimat dalam Teks

Orientasi

1.      Pada tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.30 malam utusan dari golongan pemuda, Darwis dan Wikana, menemui Bung Karno di kediaman Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Wikana menyampaikan tuntutan agar Bung Karno mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia esok hari, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945. Bung Karno menolak permintaan tersebut. Terjadilah ketegangan akibat pertentangan pendapat antara golongan tua dan muda. Wikana mengancam bahwa esok hari akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan besar.

Urutan Peristiwa sejarah

Tahap 1

2.      Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pada tanggal 16 Agustus 1945, tiga tokoh pemuda yang terdiri atas Sukarni, Yusuf Kunto, dan Singgih membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, kira-kira 15 km dari Karawang. Mereka memilih Rengasdengklok karena tempat tersebut telah diamankan dari pengaruh Jepang oleh Komandan Kompi Subeno.

Urutan peristiwa sejarah

Tahap 2

3.      Maksud dan tujuan para pemuda membawa ke Rengasdengklok adalah agar Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya.

Urutan peristiwa sejarah

Tahap 3

4.      Bung Karno dan Bung Hatta adalah pemimpin yang punya pendirian teguh. Beliau tetap berpegang pada pendirian semula, tidak mau menyerah kepada kemauan pemuda. Untunglah perbedaan pendapat tersebut dapat dijembatani oleh Mr. Ahmad Subardjo. Mr. Ahmad Subardjo, Yusuf Kunto, dan Wikana sepakat untuk membawa kembali kedua tokoh itu ke Jakarta guna membicarakan proklamasi melalui sidang PPKI yang anggotanya telah ditambah dengan wakil pemuda.

Reorientasi

5.      Setelah mengetahui bahwa Somubuco dan Jendral Nasimura tidak menghalangi proklamasi asal tidak ada pernyataan yang anti Jepang, maka dimulailah pertemuan. Pertemuan ini dilakukan di rumah seorang pembesar angkatan laut Jepang, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta.

  • Penyuntingan Teks Cerita Sejarah

Berikut ini contoh teks yang belum di sunting!

Sejarah Pertempuran Ambarawa

Pertempuran Ambarawa terjadi pada tgl 20 November sampai 15 Desember 1945 antara pasukan TKR melawan pasukan Sekutu. Insiden bersenjata mulai timbul di Magelang dan meluas menjadi pertempuran ketika tentara Sekutu dan NICA membebaskan secara sepihak pra interniran Belanda di Magelang dan Ambarawa. Insiden ini berakhir pada tgl 2 November 1945 setlah dilakukan perundingan antara Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethel di Magelang.

Semntara itu, secara diam2 pasukan Sekutu meninggalkan Magelang dan mundur ke kota Ambarawa yaitu pada tgl 21 November 1945. Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini segera mengadakan pengejaran. Pd saat pengunduran itu, pasukan Sekutu mencoba menunduki dua desa di sekitar Ambarawa. Dalam pertempuran untuk membebaskan dua desa tersebut, pada tgl 26 November 1945 gugurlah Letnan Kolonel Isdiman, Komandan Resimen Banyumas. Dg gugurnya Letnan Kolonel Isdiman maka Kolonel Soedirman, Panglima Divisi Banyumas mengambil alih pimpinan pasukan.

Pada tanggal 12 Desember 1945 dalam waktu setengah jam pasukan TKR berhasil mengepung kedudukan musuh dalam kota. Kota Ambarawa dikepung selama 4 hari 4 malam. Pada tanggal 15 Desember 1945, pasukan Sekutu meninggalkan kota Ambarawa dan mundur menuju ke Semarang.

Jika kita membaca dan mengamati teks diatas, akan ditemukan beberapa penulisan-penulisan yang tidak sesuai dengan kaidah. Dalam menyunting sebuah teks atau naskah, maka penyunting harus membaca terlebih dahulu teks tersebut dan menandai kesalahan-kesalahan yang terjadi. Selain itu, penyunting menganalisis kalimat yang ditulis, menimbang dan melihat keefektifan, diksi, serta konsep yang tertera dalam teks tersebut. Seperti pada contoh paragraf di atas, kita menemukan kesalahan-kesalahan yang sudah di beri tanda underline. Berikut merupakan hasil penyuntingan berdasarkan kesalahan yang sudah ditandai.

Sejarah Pertempuran Ambarawa

Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 20 November sampai 15 Desember 1945 antara pasukan TKR melawan pasukan Sekutu. Insiden bersenjata mulai timbul di Magelang dan meluas menjadi pertempuran ketika tentara Sekutu dan NICA membebaskan secara sepihak para interniran Belanda di Magelang dan Ambarawa. Insiden ini berakhir pada tanggal 2 November 1945 setelah dilakukan perundingan antara Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethel di Magelang.

Sementara itu, secara diam-diam pasukan Sekutu meninggalkan Magelang dan mundur ke kota Ambarawa yaitu pada tanggal 21 November 1945. Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini segera mengadakan pengejaran. Pada saat pengunduran itu, pasukan Sekutu mencoba menunduki dua desa di sekitar Ambarawa. Dalam pertempuran untuk membebaskan dua desa tersebut, pada tanggal 26 November 1945 gugurlah Letnan Kolonel Isdiman, Komandan Resimen Banyumas. Dengan gugurnya Letnan Kolonel Isdiman maka Kolonel Soedirman, Panglima Divisi Banyumas mengambil alih pimpinan pasukan.

Pada tanggal 12 Desember 1945 dalam waktu setengah jam pasukan TKR berhasil mengepung kedudukan musuh dalam kota. Kota Ambarawa dikepung selama 4 hari 4 malam. Pada tanggal 15 Desember 1945, pasukan Sekutu meninggalkan kota Ambarawa dan mundur menuju ke Semarang.

 

  • Mengabstraksi Teks Cerita Sejarah

Berikut ini contoh mengabstraksi teks cerita sejarah!

Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa bersejarah Negara Republik Indonesia, Rengasdengklok di mulai, pada tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.30 malam utusan dari golongan pemuda, Darwis dan Wikana, menemui Bung Karno di kediaman Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Wikana menyerukan agar Bung Karno dapat mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya esok hari, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945. Namun, Bung Karno menolak permintaan tersebut. Karena hal tersebut, terjadi ketegangan akibat pertentangan pendapat antara golongan tua dan muda. Karena hal itu pula, Wikana mengancam bahwa esok hari akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan besar di Indonesia.

Pihak-pihak baik dari pihak golongan muda ataupun tua mencoba menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pada tanggal 16 Agustus 1945, tiga tokoh pemuda yaitu Sukarni, Yusuf Kunto, dan Singgih membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, yang berjarak kira-kira 15 km dari Karawang. Mereka memilih Rengasdengklok karena tempat tersebut telah diamankan dari pengaruh Jepang oleh Komandan Kompi Subeno.

Maksud dan tujuan para pemuda membawa ke Rengasdengklok adalah agar Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya. Sudah banyak yang mengetahui, Bung Karno dan Bung Hatta adalah pemimpin yang punya pendirian teguh. Beliau tetap berpegang pada pendirian semula, tidak mau menyerah kepada kemauan pemuda. Untunglah perbedaan pendapat tersebut dapat dijembatani oleh Mr. Ahmad Subardjo. Mr. Ahmad Subardjo, Yusuf Kunto, dan Wikana sepakat untuk membawa kembali kedua tokoh itu ke Jakarta guna membicarakan proklamasi melalui sidang PPKI yang anggotanya telah ditambah dengan wakil pemuda.

Seusai sidang PPKI tersebut, pihak-pihak dari Indoensia mengetahui bahwa Somubuco dan Jendral Nasimura tidak menghalangi proklamasi asal tidak ada pernyataan yang anti Jepang, maka dimulailah pertemuan. Pertemuan ini dilakukan di rumah seorang pembesar angkatan laut Jepang, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta.

 

  • Memproduksi Teks Cerita Sejarah

Produksi Teks Cerita Sejarah dapat dilihat sebagai berikut :

Peristiwa Rengasdengklok

Pada tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.30 malam utusan dari golongan pemuda, Darwis dan Wikana, menemui Bung Karno di kediaman Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Wikana menyampaikan tuntutan agar Bung Karno mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia esok hari, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945. Bung Karno menolak permintaan tersebut. Terjadilah ketegangan akibat pertentangan pendapat antara golongan tua dan muda. Wikana mengancam bahwa esok hari akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan besar.

Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pada tanggal 16 Agustus 1945, tiga tokoh pemuda yang terdiri atas Sukarni, Yusuf Kunto, dan Singgih membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, kira-kira 15 km dari Karawang. Mereka memilih Rengasdengklok karena tempat tersebut telah diamankan dari pengaruh Jepang oleh Komandan Kompi Subeno.

Maksud dan tujuan para pemuda membawa ke Rengasdengklok adalah agar Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya.

Bung Karno dan Bung Hatta adalah pemimpin yang punya pendirian teguh. Beliau tetap berpegang pada pendirian semula, tidak mau menyerah kepada kemauan pemuda. Untunglah perbedaan pendapat tersebut dapat dijembatani oleh Mr. Ahmad Subardjo. Mr. Ahmad Subardjo, Yusuf Kunto, dan Wikana sepakat untuk membawa kembali kedua tokoh itu ke Jakarta guna membicarakan proklamasi melalui sidang PPKI yang anggotanya telah ditambah dengan wakil pemuda.

Setelah mengetahui bahwa Somubuco dan Jendral Nasimura tidak menghalangi proklamasi asal tidak ada pernyataan yang anti Jepang, maka dimulailah pertemuan. Pertemuan ini dilakukan di rumah seorang pembesar angkatan laut Jepang, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta.

  • Mengonversi Teks Cerita Seajarah

Perhatikan teks cerita sejarah yang terdapat pada 

Teks berita tersebut dapat di konversi ke dalam teks drama. Teks drama terdiri atas dua tipe, yaitu drama monolog dan drama dialog. Selain itu, teks cerita sejarah tersebut dapat juga dikonversi ke bentuk teks puisi.

  • Mengonversi Teks Cerita Sejarah menjadi Drama monolog

Peristiwa Rengasdenglok

Bung Karno dan Bung Hatta merupakan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dua tokoh yang menjadi cerminan dari semua masyarakat. Pemimpin yang memiliki pendirian teguh.

Dalam perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, butuh perjuangan yang sangat kuat dari semua golongan bangsa. Melewati perang fisik, perang pemikiran dan juga perang batin.

Hingga akhirnya perjuangan Indonesia mencapai peristiwa Rengasdengklok. Pada tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.30 malam utusan dari golongan pemuda ( Darwis dan Wikana), menemui Bung Karno di kediaman Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta.

(Wikana menyampaikan tuntutannya pada Bung Karno)

“Bung, lebih baik kita mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia esok hari.”

(Bung Karno menolak permintaan tersebut).

“Tidak, kita belum siap untuk melakukan proklamasi esok hari.”

Karena pertentangan antar keduanya pun, menyebabkan munculnya pertentangan antara golongan muda dan tua.

(Wikana mengancam bahwa esok hari akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan besar).

“Jika memang begitu, bersiap-siaplah besok akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan besar di kalangan masyarakat.”

Kemudian, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, maka pada tanggal 16 Agustus 1945, tiga tokoh pemuda (Sukarni, Yusuf Kunto, dan Singgih) membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

(Bung Karno dan Bung Hatta merasa bingung, sehingga Bung Karno pun bertanya).

“Mengapa kami harus di bawa ke Rengasdengklok?”

(Golongan pemuda saling memandang, hingga Sukarni pun menjawab).

“Karena Rengasdengkloklah tempat yang paling aman dari pengaruh Jepang oleh Komandan Kompi Subeno.”

(Bung Karno dan Bung Hatta hanya mengangguk mengerti).

Perbedaan pendapat yang sebelumnya terjadi, akhinya dapat dijembatani oleh Mr. Ahmad Subardjo. Karena itu, Mr. Ahmad Subardjo, Yusuf Kunto dan Wikana sepakat untuk membawa kembali kedua tokoh itu ke Jakarta untuk membicarakan proklamasi melalui sidang PPKI yang anggotanya telah ditambah dengan wakil pemuda.

(Mr. Ahmad Subardjo pun mengajak kedua rekannya untuk pergi menjemput Bung Karno dan Bung Hatta).

“Baiklah, lebih baik kita segera menjemput keduanya untuk mempercepat sidang PPKI yang akan dilaksanakan.”

(Yusuf Kunto dan Wikana mengangguk setuju, dan segera pergi).

Setelah mengetahui bahwa Somubuco dan Jendral Nasimura dari pihak Jepang tidak menghalangi proklamasi asal tidak ada pernyataan yang anti Jepang, maka di mulailah pertemuan. Pertemuan ini dilakukan di rumah seorang pembesar angkatan laut Jepang, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Imam Bonjol No.1 Jakarta

  • Mengonversi Teks Cerita Sejarah dalam bentuk puisi

SEJARAH NEGARAKU

Perjuangan bangsaku Indonesia

Melewati berjuta cucuran keringat

Kobaran semangat bangsaku

Menghapus penjajahan

Kemerdekaan bangsaku

Dititik darah penghabisan

Melewati persidangan

Menjalani keputusan

Halangan dari kaum yang kontra

Derita bangsaku

Untuk mencapai kemerdekaan

Sejarah Negaraku Indonesia

BAB IV

PENUTUP

 

  • Kesimpulan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teks berarti naskah berupa kata-kata asli dari pengarang, kutipan dari kitab suci untuk pangkat ajaran atau asalan dan bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran berpidato, atau yang lainnya. Teks cerita sejarah adalah naskah cerita atau nasrasi rekaan yang mengandung unsur-unsur sejarah. Dalam teks cerita sejarah, ada beberapa unsur nyata, misalnya tokoh, nama tempat dan peristiwa.

Struktur teks cerita sejarah terdiri dari abstrak, orientasi, komplikasi, klimaks, resolusi dan koda/amanat. Teks cerita sejarah yang umumnya berbentuk narasi dapat di konversi ke dalam bentuk lain, misalnya teks drama monolog/dialog dan juga teks puisi.

  • Saran

Setelah membaca makalah ini , kami mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas umumnya dan pelajar. Dan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pembangunan konteks dan pemodelan teks cerita sejarah adalah:

  1. Struktur teks iklan
  2. Kebahasaan teks iklan

Terakhir kami mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan kami juga mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun untuk lebih menyempurnakan isi dari makalah ini. Semoga Tuhan selalu melimpahkan rahmatNya dan kasih sayangNya kepada kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Sutoyo, Leo Agung. 2007. IPS 5 : Untuk Kelas 5 SD dan MI. Klaten: Sahabat.hendryanggriawan68.blogspot.com/2015/07/teks-cerita-sejarah-pengertian-struktur.html

dedd157.blogspot.com/2015/06/teks-cerita-sejarah-contoh-teks-dan.html

ahmadiyahdamayanti99.blogspot.co.id/2015/08/bahasa-indonesia_17.html